Tampilkan postingan dengan label Suluk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Suluk. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Februari 2011

Ajaran Seks dalam Serat Nitimani

Dalam budaya Jawa norma serta aturan dalam melakukan hubungan seksual diturunkan oleh orang Jawa melalui ajaran kepada keturunannya baik dalam betuk lisan atau tertulis. Dalam bentuk tertulis ajaran tersebut tertuang dalam karya sastra yang telah ada sejak zaman dulu. 

Karya-karya sastra yang mengangkat tema asmaragama antara lain :

1. Serat Gatholoco.
2. Serat Damogandhul.
3. Suluk Tambangraras (Serat Centhini).
4. Serat Nitimani.

Dalam budaya Jawa diajarkan bahwa untuk menghasilkan sesuatu yang baik maka proses awal penciptaan juga harus baik dan dengan restu Tuhan sebagai Sang Maha pencipta. 

Demikian pula dengan proses hubungan seksual yang tujuan utamanya adalah menghasilkan keturunan. Untuk mendapatkan keturunan yang baik dalam segala hal, kehadirannya di sunia ini haruslah melalui niat awal yang baik serta proses hubungan seksual yang benar dan tepat. 

Untuk dapat berhubungan seksual dengan baik maka dibutuhkan pengetahuan mengenai segala hal tentang seks. Pengetahuan mengenai hubungan seksual sangat dibutuhkan karena akan berhubungan dengan kehidupan selanjutnya. Jika prosesnya sudah salah, maka akibat yang ditimbulkan akan buruk, bukan hanya bagi anak yang dihasilkan tetapi bagi keseimbangan serta keselarasan kehidupan ini. Kesalahan dalam proses berhubungan seksual dalam budaya Jawa dikenal dengan istilah kama salah. Maka untuk mencegah terjadinya kama salah manusia harus memiliki pengetahuan yang cukup mengenai tata cara hubungan seksual.

Dengan pengetahuan yang memadai maka diharapkan orang dapat berpikir lebih jauh mengenai hubungan seksual sehingga tidak melakukannya dengan sembarangan karena akibatnya sangat fatal bagi keberlangsungan hidup umat manusia dan keselarahan hubungannya dengan alam sekitar tempat manusia hidup. Akibat yang fatal tersebut muncul pada keadaan masyarakat sekarang dimana banyak orang mulai melakukan hubungan seks tanpa mengindahkan norma serta etika yang berakibat pada munculya masalah-masalah dalam kehidupan masyarakat sepeti pemerkosaan, semakin banyak anak-anak terlantar hingga terjadinya peningkatan kriminalitas.

Dalam kasanah budaya Jawa terdapat ajaran atau pedoman moral, nilai dan kaidah bagaimana cara melakukan hubungan seks yang benar dan tepat, sebagaimana dalam Serat Nitimani berikut cuplikan-cuplikan yang berkaitan dengan Ajaran dimaksud :

Lamun tandhing, marsudya ing tyas ening, namrih ering, kang supadi tan kajungking. (pupuh 2)

Apabila sedang bertanding, usahakanlah hati tetap hening, agar konsentrasi tetap terjaga, supaya tidak terkalahkan.

Yang dimaksud dengan “bertanding” dalam hal ini adalah analogi dari persetubuhan.

Yen sembrana, den prayitna sampun lena, lamun ina, sayek amanggih weda. (pupuh 2)

Apabila ceroboh, waspadalah jangan sampai lengah, sungguh sangat menyakitkan.

Kata ceroboh maksudnya adalah dalam konteks persetubuhan agar tetap waspada di dalam melakukan hubungan seksual sehingga tidak mengalami hal-hal yang tidak diharapkan.

Lamun cuwa, sampun kawiscareng netya, wrananana, ing suka dhanganing karsa, kang supadya, datan manggih dirgama. (pupuh 2)

Apabila tidak puas, janganlah terlihat di wajah, tutupilah, dengan wajah yang ceria, agar supaya, tidak mendapat kesulitan.

Tidak puas yang dimaksud disini, masih dalam konteks hubungan seksual yaitu keadaan dimana salah satu pihak belum mencapai titik kepuasan atau orgasme.

Lamun gela, jroning nala sampu daga, sengadiya, langkung condong ing wardaya, pamrihira, kang pinanduk tan legawa. (pupuh 2)

Apabila kecewa, janganlah membrontak dalam hati, niatilah, untuk lebih berlapang dada, dengan harapan, agar ketidakpuasan tidak berlarut-larut.

Kecewa dalam ungkapan ini masih dalam konteks hubungan seksual dan tidak mencapai kepuasan.

Lamun lingsem, ing gunem aja katingkem, lamun amem, yekti katara ing klecem. (pupuh 2)

Apabila terjerat rasa malu, janganlah membisu, karena bila berdiam diri, niscaya akan terlihat di wajah.

Ketika seorang laki-laki mengalami kegagalan di dalam berhubungan seksual karena hal-hal tertentu, maka disitulah dia akan merasa sangat malu.

Lamun harda, sampun dadra murang krama, mrih widada, pakartine kang utama. (pupuh 2)

Apa bila punya keinginan, janganlah lepas kendali menerjang etika, agar selamat, utamakanlah sikap luhur.

Keinginan maksudnya adalah dalam hal ingin melakukan hubungan seksual maka jangan sampai lepas kendali, harus tetap memperhatikan etika.

Yen anglaras, penggagas aja sampun kabrangas, dimen awas, ing pamawas datan tiwas. (pupuh 2)

Jika sedang menikmati sesuatu, janganlah kesadaran terlena, agar tetap siaga, kewaspadaan tak akan tiwas.

Maksudnya adalah jika sedang berada dalam kenikmatan berhubungan seksual, kewaspadaan dan kesadaran diri haruslah tetap dijaga, supaya tidak menemui tiwas atau maut.

Yen cecegah, den betah gonira ngampah, nganggah-anggah, yeku pakarti luamah. (pupuh 2)

Selama mengendalikan diri, bersabarlah menahan hawa nafsu, lepas diri tanpa kendali, merupakan prilaku serakah.

Orang harus belajar mengendalikan nafsunya (nafsu dalam konteks ini adalah nafsu birahi) agar tidak kelepasan sehingga menyebabkan sesuatu yang tidak baik.

Wanita punika, upami papan badhe pandhedhering wiji, saestunipun kedah milih ingkang prayogi. (pupuh 3)

Peranan wanita itu ibarat lahan untuk menabur benih, sehingga haruslah memilih lahan yang bagus.

Dalam melakukan hubungan seksual, maka haruslah dicamkam bahwa hasil dari perbuatan itu adalah adanya seuatu mahkluk baru sehingga tidak boleh dilakukan sembarangan dan pasanganyapun harus dipilih baik-baik.

Para sujanma priya yen badhe amilih dhateng wanodya, kaagem pantesing pala krami, anyeplesana dhateng suraosing tetembungan tiga : bobot, bebet, bibit. (pupuh 3)

Kaum Pria yang bermaksud memilih sorang wanita untuk dinikahi, hendaknya memperhatikan tiga hal : bobot, bebet, bibit.

Untuk mempersiapkan keturunan yang baik, maka harus juga dicari pasangan (wanita) yang baik dan memenuhi criteria-kriteria tertentu. Dalam budaya Jawa, ada tiga hal paling penting yang harus diperhatikan yaitu ; bibit, bebet, dan bobot.

Ingkang rumiyin tembung bobot, pikajengipun amiliha wanita ingkang asli. (pupuh 3)

Pertama kata bobot, maksudnya pilihlah wanita sejati.

Wanita, ingkang badhe kapendhet wau amiliha darah ing supudya…. (pupuh 3)

Wanita yang kita pilih hendaklah seorang wanita yang memiliki garis keturunan orang-orang terpilih…..

…. Pramila anitik sarasilah darajatin bapa, ing sapanginggil, gerbanipun, sinten manungsa ingkang winahyu, sayekti awit saking rahayuning batos, dene rahayuning batos punika terkadang kapinujon, asring pinareng tumus mahanani dhateng wewatekaning atmajanipun. (pupuh 3)

…. sehingga cara paling mudah ditempuh adalah dengan melihat garis silsilah leluhur sang ayah, karena wahyu cenderung jatuh pada orang-orang yang memiliki keseimbangan batin, dan keseimbangan olah batin tersebut biasanya mampu menurun pada sang anak.

Ing sapunika kula dumugekaken tembung bibit, pikajengipun, tumrap dhateng wanita ingkang badhe kapendet wau, amiliha ingkang sae warninipun saha ingkang kathah kasagedanipun. (pupuh 3)

Sekarang sampai pada istilah bibit, maksudnya, wanita yang akan dipilih, hendaklah yang rupawan sekaligus memiliki banyak ketrampilan.

…. Kadosta manising ulat, indah ayuning warni, dhemes prigeling solah, punika among kangge minangka sarana amemalat dhateng thukuling sesenenganipun para priya, pramila lajeng wonten pralambang tembung paribasan : “bebukaning pala krami dudu banda dudu rupa amung ati pawitane”, tegesipun dudu banda punika sanes kasugihanipun raja brana, dudu rupa tegesipun sanes ayu indahing warni, ingkang binasdakaken condong utawi jodho. (pupuh 3)

…. kecantikan fisik seringkali hanya didudukkan sebagai wahana kepuasan kaum laki-laki, oleh karena itu ada peribahasa : “bebukaning pala krami dudu banda dudu rupa amung ati pawitane”, (permulaan pernikahan bukan harta benda dan rupa, hanyalah hati sebagai titik awal keberangkatan). Yang dimaksud bukan harta adalah bukan kekayaan, sedangkan bukan rupa adalah bukan kecantikan wajah, yang kemudian disebut sebagai jodoh.

Untuk mengesahkan suatu hubungan seksual, maka pasangan haruslah melewati tahap pernikahan. Pernikahan tersebut menyatukan dua pribadi yaitu laki-laki dan wanita dalam ikatan yang abadi. Supaya tidak mengalami penyesalan, maka pernikahan haruslah didasari dengan hati sesuai dengan peribahasa tersebut, meskipun ada faktor-faktor lain yang juga harus menjadi bahan pertimbangan.

Punika amung dumunung wonten seneng parenging panggalih, runtut utawi rujuk kalih-kalihipun, temahan sami angrumentah ing bapak kaliyan anak, dene panganggepe bapa binasakaken kencana wingka, pikajengipun tembung makaten wau tur kawujudanipun warni wingka, katon warni kencana. (pupuh 3)

Hal itu hanyalah terdapat pada kecocokan hati, kesesuaian dan keharmonisan antara keduanya, hingga kemudian menumbuhkan kasih sayang antara ayah dan anak, sayang ayah lantas mengiaskan sebagai kencana wingka, maksud dari ungkapan tersebut adalah meskipun kenyataan wujudnya berupa wingka (loyang) namun tampak seperti kencana (emas).

Dalam memandang pasangan hidupnya, perlulah diingat ungkapan kencana wingka. Walaupun wujudnya hanyalah loyang, akan tetapi tampak seperti emas. Jadi meskipun pasangan hidup tidaklah mempunyai rupa yang sempurna, akan tetapi haruslah bisa dilihat kecantikan yang terpencar dari hatinya.

Pala krami punika terang yen gumantung wonten ing kasenenganing priya pyambak-piyambak, dene kasenengan wau boten kenging katemtokaken, liripun makaten kadosta indah ayuning warna boten temtu ndadosaken kasenenganing priya. (pupuh 3)

Perkawinan itu hanyalah berdasarkan kesenangan pribadi kaum lelaki masing-masing, sedangkan rasa sukanya tidak dapat ditentukan, artinya kecantikan wajah ternyata belum tentu menimbulkan rasa cinta kaum priya.

Perkawinan merupakan atau ikatan yang sakral, sehingga untuk melaksanakannya harus dicari pasangan yang benar-benar tepat. Artinya, tidak bisa dilihat hanya dari fisiknya saja.

Supados angatos-atos ing pamilihipun, karana menggah dununging wanita punika tumrapipun dhateng priya, binasakaken amung, swarga nunut liripun makaten yen pinuju saged mimbuhi dhateng seneng tuwin asringing prajanipun, yen pinuju lepat ing pamililipun mangka angsal wanita ingkang ambeg durta, tegesipun pawestri ingkang awon kelakuwanipun punika badhe saged narik damel sangsaraning priya. (pupuh 3)

Berhati-hatilah dalam memilih, sebab kedudukan wanita bagi kaum priya diibaratkan swarga nunut maksudnya adalah tatkala hidupnya diliputi kebahagian, posisi wanita seolah hanya sebagai pelengkap hiasan kebahagiaan tersebut, sedangkan bila sang priya salah memilih, artinya wanita yang didapat bukan tergolong wanita baik, maka akan menimbulkan kesengsaraan bagi si pria itu sendiri.

Bagian ini adalah sikap manusia Jawa dalam hal kedudukan wanita bagi kaum pria dalam hal rumah tangga (termasuk didalamnya urusan hubungan seksual) yaitu diibaratkat swarga nunut neraka katut yaitu jika suami memberikan hal-hal yang baik maka sang wanita juga pasti akan menikmati segala hal yang baik juga.

Pramila saderengipun kapendhet garwa sasaged-saged kapratitisna ing pamilihipun, awit bilih sampun kalajeng rumentah ing sih kawelasan tuwin katresnan, saestu awrat ing pambiratipun, temahan badhe ngengetaken dhateng tumempuhing kasangsaran. (pupuh 3)

Oleh karena itu sebelum menentukan pilihan terhadap pasangan hidup hendaklah berhati-hati dalam memilih, karena bila terlanjur maka cukup sulit mengatasinya, akhirnya malah sering menimbulkan ketidakbahagiaan.

Jika ingin berhubungan seksual, alangkah baiknya jika pasangan sudah terikat dalam ikatan pernikahan, dan karena sifatnya yang sakral maka diharapkan jangan sampai salah memilih serta berhati-hatilah karena dampaknya sangat besar bagi kelanjutan kehidupan.

…. wanodya ingkang indah ing warni, sarta pantes ing solah bawa lan ambeg tepa ing rasa, tuwin dana ing tepa utawi ingkang temen tobatipun rila dhateng ing atasing kasaenan, sabab kalakuwaning wanodya ingkang mekaten wau watak lajeng kasaenan sarta kinurmatan ingkang kakung, awit pambekaning wanita ingkang makaten punika angrabasa dhateng bedudhening priya ingkang lajeng saged nukulaken dumateng rumentahing kawelasan tuwin katresnan. (pupuh 3)

…. wanita yang cantik baik lahir maupun batin, wanita yang demikianlah yang dihormati oleh setiap laki-laki. Seorang wanita dengan modal kecantikan lahir batin sesungguhnya akan mampu meruntuhkan dinding hati laki-laki yang ada di hadapannya akan bertekuk lutut menyerahkan segenap cinta dan kasih sayangnya.

Budaya Jawa memandang tinggi posisi wanita. Ada suatu sikap dalam hal memandang seorang wanita yaitu dari kecantikannya, bukan hanya dari segi fisik tetapi juga dari kecantikan hatinya (cantik lahir dan batin), dan wanita yang memiliki kecantikan lahir dan batin itulah yang menjadi istri dambaan setiap pria untuk menjadi pasangan hidupnya.

Tepa ing rasa (rasa tepa) punika pikajengipun sageda sumingkir saking lumuh tuwin rikuh ing liyan, sabab yen boten kadunungan tepa ing rasa (rasa tepa) wau sok ngawontenaken watak iren tuwin meren, ingkang pandukipun lajeng direngki. (pupuh 3)

Tepa ing rasa maksudnya mampu menghindarkan diri dari sikap benci terhadap orang lain, karena jika tidak memiliki sifat tersebut terkadang menimbulkan watak iri yang ujungnya adalah kedengkian.

Dalam konteks pengajaran mengenai seks, hal yang paling penling utama untuk diperhatikan adalah bagaimana cara memilih qwanita yang baik agar kehidupan rumag tangga beserta seluruh aspek didalamnya dapat berjalan dengan lancar. Oleh sebab itu ada beberapa ciri-ciri wanita yang ideal sebagai pasangan agar tujuan hidupnya dapat tercapai.

Dana ing tepa, punika pikajengipun sageda sumingkir saking panyaru tuwin panyikuning liyan, sabab yen boten kadunungan dana ing tepa wau, asring ngawontenaken watak : dahwen tuwin salah open ingkang pandukipun lajeng dados srei. (pupuh 3)

Dana ing tepa, artinya mampu menjauhkan diri dari hasrat menyakiti serta menyengsarakan orang lain, sebab bila tidak memiliki sifat tersebut, cenderung memunculkan watak serakah yang akhirnya menjelma menjadi jahat.

Temen tobatipun rila, punika pikajengipun tobat ingkang kalebetan temen lan rila. Pramila pikantukipun pawestri ingkang makaten wau lajeng kinurmatan ing kakung. (pupuh 3)

Temen tobatipun rila, artinya taubat yang dilandasi kesungguhan dan keikhlasan, sehingga seorang wanita yang mampu bersikap demikian akan disegani oleh setiap laki-laki.

Samangke pamuji kula malih mugi sageda angsal wanodya ingkang kadunungan watek : sama, beda, dana, denda. Tembung sama tegesipun pada, pikajengipun gadhahana wewatek asih dhateng sakehing dumadi. Beda tegesipun seje, geseh utawi milah, pikajengipun anggadhahana watek kulina sarta saged animbang, inggih punika putusing tepa. Dana tegesipun neganjar, pikajengipun gadhahana watek remen asung kasenengan tuwin kabungahan dahteng sakehing dumadi. Denda tegesipun kukum, pikajengipun gadhaha watek putus lan patitis, pamiyak tuwin milih nalar ingkang awon utawi dhateng ingkang sae, anggenipun ngempan utawi mapanaken. (pupuh 3)

Berikutnya harapan saya semoga anda mendapatkan wanita yang di dalam dirinya terdapat sifat-sifat sama, beda, dana, denda. Kata sama, berarti merasa sama, maksudnya memiliki rasa sayang pada sesama mahkluk. Kata bedha, berarti tidak sama, maksudnya memiliki sifat mengutamakan pertimbangan sebagai wujud kearifan. Kata dana berarti memberi imbalan, maksudnya hendaklah memiliki sifat mudah memberi kepada sesama. Kata dendha, berarti hukum, maksudnya memiliki sifat teliti dalam menentukan sesuatu sehingga tepat memilih mana yang baik dan yang buruk.

Dalam Budaya Jawa wanita dianggap sebagai “wadah” dari benih yang akan ditanam oleh laki-laki dan karena itu maka haruslah dicari wanita yang terbaik. Selain dari tiga faktor utama (bibit, bebet, bobot), seorang wanita yang baik juga harus memiliki sifat-sifat tertentu.
Ingkang kaping kalih kala wau sageda uninga panduking guna, busana, baksana lan sasana wewijanganipun makaten :

1. Guna tegesipun pangawikan utawi kapinteran, pikajengipun sageda sumerep lan mangretos dhateng wewenang lan wajibing lan pandamelaning pawestri.

2. Busana, tegesipun pangangge, pikajengipun sageda uninga lan ngetrapaken dhateng raja tadi darbekipun ingkang pancen kasandhang.

3. Baksana tegesipun pangan, pikajengipung sageda uninga lan nandukaken ubet kekayaning laki ingkang pancen katedha.

4. Sasana, tegesipun dunung utawi panggenan, pikajengipun sageda uninga tuwin memantes lan memangun anggenipun gegriya. (pupuh 3)

Yang kedua, hendaklah memiliki kepekaan terhadap guna, busana, baksana, dan sasana. Adapun penjelasannya sebagai berikut :

1. Guna berarti ketrampilan atau kepandaian maksudnya adalah tanggap terhadap tugas dan wewenang sebagai seorang istri.

2. Busana berarti seorang wanita haruslah memiliki kepekaan terhadap penampilan serta pakaian miliknya secara proporsional.

3. Baksana berati pangan, maksudnya memiliki ketrampilan mengatur keuangan/penghasilan suami secara proporsional.

4. Sasana yang berarti rumah atau papan, maksudnya memiliki ketrampilan untuk mendekar dan menghias rumah dengan indah.

Selain sifat, wanita yang baik juga harus dapat membuat dirinya terlihat menarik agar laki-laki yang menjadi pasangan hidupnya tetap setia dan tetap bisa menjaga hubungan (termasuk dalam hubungan seksual). Hal tersebut dikarenakan pria dan wanita haruslah senantiasa bekerja sama dengan baik untuk dapat mempersiapkan segala hal demi menyambut kehadiran manusia baru sebagai hasil dari hubungan seksual yang mereka lakukan.

Ingkang kaping tiga kala wau ambeging pangrengkuh ingkang sawanda, saeka praya lan sajiwa, wijanganipun mekaten :

1. Sawanda, tegesipun sarupa, sawangu utawi sawarna, pikajengipun sedya nyawiji badan, empan mapanipun gadhahana ambeg pangrengkuhipun lan rumeksanipun dhateng priya dipunkados rumeksa dhateng badanipun piyambak.

2. Saeka praya, tegesipun sawiji budi, pikajengipun gadhahana ambeg pangrengkuhipun dhateng priya anedya nunggil kapti.

3. Sajiwa, tegesipun satunggiling nyawa, pikajengipungadhaha ambeg pangrengkuhipun dhateng priya dipun kados dhateng nyawanipun piyambak. (pupu 3)

Yang ketiga adalah dalam hal kesetiaan hendaklah memiliki sifat-sifat sawanda, saeka praya, dan sajiwa, penjelasannya sebagai berikut :

1. Sawanda yang berarti serupa, sebangun, atau sewarna. Maksudnya, wanita tersebut bersedia menyatu tubuh dengan cara saling memahami, menjaga suaminya sama seperti menjaga dirinya sendiri.

2. Saeka praya artinya dapat menyatukan kehendak dengan kehendak suaminya yang tujuannya demi kebaikan, maka sang istri harus merasakan sebagaimana kehendak diri pribadi.

3. Sajiwa berarti sehati. Maksudnya adalah sikap istri terhadap suami sama seperti terhadap diri sendiri.

Menggah pawestri ingkang sampun nambut silaning akrami, punika kedah netepi punapa ingkang kados wajibing estri kathahipung tigang pangkat, satunggil-tunggiling pangkat wonten tigang pakarti :

1. Kedah gemi, nastiti, ngati-ati.

2. Kedah tegen, rigen, mugem.

3. Kedah titi, rukti, rumanti. (pupuh 3)

Bagi wanita yang telah berumah tangga hedaklah melaksanakan apa yang menjadi tugas seorang istri, dalam hal ini berjumlah tiga tingkatan, masing-masing terdapat tiga komponen perilaku :

1. Hendaklah gemi (hemat), nastiti (cermat), ngati-ati (hati-hati).

2. Hendaklah tegen (tidak mengecawakan, rigen (trampil), mugen (meyakinkan).

3. Hendaklah titi (teliti), rukti (manfaat), rumanti (merata).

Dene panduking damel kedah nglenggahi gangsal prakawis :

1. Kedah rikat.

2. Cukat.

3. Prigel.

4. Trampil. (pupuh 3)

Sedangkang dalam hal bekerja hendaklah memiliki lima sifat :

1. Cepat.

2. Tangkas.

3. Cekatan.

4. Lihai.

5. Terampil.

Menggah labetipun kedah kados ing ngandhap punika :

1. Kedah ishep, madhep, mantep, sregep.

2. Kedah wekel, petel, nungkul, atul. (pupuh 3)

Perihal pengabdian, hendaklah seperti di bawah ini :

1. Hendaklah dilandasi kejernihan berpikir, niat, kesungguhan, rajin.

2. Hendaklah tekun, telaten, tanpa kenal lelah, sabar.

Lampahing asmaragama, kalamunpasta purusa dereng kiyat lan santosa, ing driya ajwa kasesa, nandukaken pancakara, kang mangkono wau mbok manawa, blenjani neng wiwara, dayane datan widada, temah dela kang wardaya, terkadang amanggih ewa, lan wanita lawannya, marga tan kapadang karsa, tiwas wadi wus kabuka wekasan tan mantra-mantra, tumimbang serenging driya, wangune salah mangkana, yeka kena ing rubeda, aran katitih asmara, awit dereng abipraja, duk wau kagyating pasta, iku uga mbok manawa lagya kaserenging daya, mung sengseming driya harda, sinerus lumaksana, kasengka mangsa ing yuda, marma dayane sapala, tan lama nulya marlupa, kacarita inggih punika, awit rahsa tuwin jiwa, dereng winengku samya dening prabanira Hyang Pramana. (pupuh 6).

Penerapan asmaragama adalah apabila senjata yang dimiliki laki-laki belum siap tempur maka janganlah terburu-buru melakukan pertandingan, karena pertandingan tentu tidak akan berlangsung seru. Sang laki-laki tentu tidak akan mampu bertahan lama, dan si wanita sebagai lawan bertanding pasti tidak akan merasa puas. Janganlah menantang bertanding hanya karena dorongan nafsu, sebab jika laki-laki kalah hanya dalam beberapa jurus saja akan sangat memalukan, ia akan dianggap sebagai laki-laki lemah, loyo, dan tidak ada gunanya.

Dalam konteks pengajaran seks dalam Serat Nitimani, bagian penerapan asmaragama adalah cara bagaimana melakukan hubungan seksual yang baik dan benar. Cara adalah teknik yang dipakai dalam rangka memenuhi proses perubahan dengan mempunyai tujuan yang lebih khusus.

Dene ingkang binasakaken kasor prabawa wau mbok menawi patrapipun makaten, empaning cipta boten kapandan dening mapaning praman, ing wekasan prasa tuwin rahsa katamaning raos welas utawi engah, inggih rubeda patrap makaten wau ingkang binasakaken tumanding kang sanes bangsa. (pupuh 6)

Yang dimaksud kalah wibawa adalah perasaan yang dikalahkan atau diharapkan semula ternyata tidak sesuai dengan kenyataan. Akhirnya bukanlah kenikmatan yang dirasakan melainkan rasa lelah bahkan mungkin terasa sakit. Kondisi seperti itulah yang disebut tumanding kang sanes bangsa.

Hubungan seksual lazimnya melibatkan dua pihak yaitu laki-laki dan wanita. Dalam melakukan persetubuhan, maka keduanya haruslah sama-sama sedang berada dalam kondisi yang baik. Jika salah satunya mengalami sesuatu yang buruk maka imbasnya akan terkena pada kedua pihak.

Pramila pamilihing wanita kedah ngatos-atos, karana bilih kaleresan angsal wanodya ingkang prasaning rahsa, ingkang nunggil bangsa, punika lajeng nggendam langgengin asmara, saniskaraning rubeda, temah mahanani susila pamoring lulut, awit binuka langgening pramana, dene ingkang binasakaken susila pamoring lulut wau, woring sekaliyan binuka tanpa rubeda, amung pinanggih seneng pareng. (pupuh 6)

Oleh karena itu hendaklah berhati-hati dalam memilih pasangan hidup, karena jika pilihan anda tepat, anda akan benar-benar terikat dan bahagia lantaran anda akan merasakan kenikmatan secara paripurna, tanpa satupun rintangan yang menghalangi kecuali kepuasan yang terus meliputi.

Bagian ini menjelaskan mengenai sikap dalam konteks pengajaran seksual, yaitu bagaimana bertindak dalam hal memilih pasangan hidup agar tidak salah sehingga dapat tercapai kenikmatan dan jauh dari rintangan.

Kalamun pasta purusa wus kiyeng kiyat santosa, kwehning daya wus samekta, iku nulya tindakena umangsah ing ranonggana, sayekti datan kuciwa tumempuhing banda yuda. Nanging ta dipunprayitna, ing tindak ajwa sembrana, gyaning bakal nuju prasa, mring wanita mengsahira, supaya leganing driya, wruhanta dipunwaspada. (pupuh 6)

Ketika senjata pusaka laki-laki telah siap tempur, segenap kekuatan siaga, maka segeralah memulai pertandingan. Niscaya pertempuran tidak akan mengecewakan. Namun tetaplah waspada, jangan ceroboh. Ketika menghujamkan serangan terhadap senjata lawan, hendaklah mengutamakan kewaspadaan.

Ini adalah bagian cara dalam hal pengajaran seks dalam Budaya Jawa.

Pameting rahsa mangkana, srana ngagema wisaya, pratingkah ukeling pasta, kacarita solahira, duk murwani lumaksana, karya pepucuking yuda, kwehning daya saniskara, ajwa sineru sarasa, ing tindak kesah saranta, pangangkah amung muriha, keri prasaning wanita. (pupuh 6)

Dalam keadaan demikian, kendalikanlah tata gerak senjatamu, janganlah tergesa-gesa untuk lekas selesai, dengan tujuan agar wanita yang menjadi lawanmu merasa terlayani dan hasrat bertempur akan semakin memuncak.

Bagian ini masih mengajarkan cara mengenai bagaimana tindakan yang benar dalam berhubungan seksual.

E kulup sira sang pasta, poma ngger dipunprayitna, panarik sendaling gada. (pupuh 6)
Hendaklah berhati-hati dalam melepaskan senjata gada.

Senjata gada yang dimaksud dalam konteks ini adalah alat kelamin laki-laki yang akan dilepaskan atau dimasukkan ke dalam alat kelamin wanita.

Kang iku den engetana, tembe sakaro tan kena, yen maning mangsah angayuda, kalamun durung nirmala, kudu temen tinumna, waluya sakalihira, mangkana ujuring salaka……. (pupuh 6)

Janganlah melakukan pertandingan sebelum kondisi benar-benar pulih, demi menghindarkan diri dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Dalam konteks pengajaran seksual, maka bagaian ini mengajarkan tentang bagaimana seharusnya tindakan laki-laki ketika dirinya sedang dalam kedaan yang tidak maksimal.

Wondene, menggah patrap salebetipun sanggama wau, priya kedah mawas ulat liringing wanita punapa dene saliranipun piyambak, ten sampun kapanduking panggalih : lega, carem, tuwin marem sesaminipun upami tiyang nenedha, karaos sampun tuwuk. (pupuh 6)

Padahal, selama proses pertempuran laki-laki wajib memperhatikan lawan main untuk mencapai kepuasan bersama. Ibarat makan, sama-sama merasakan kenyang.

Bagian ini juga merupakan ajaran mengenai bagaimana tindakan yang tepat saat sedang melakukan hubungan seksual.

Kedah manggen wonten gajeging gela, sampun kadamel lega, prasaning rahsa kawudhara, ing riku wujuding wisaya. (pupuh 6)

Hendaklah membangun rasa penasaran, jangan merasa puas, bangkitkan kembali dorongan seksual anda, karena disitulah ruang kenikmatan.

Bagian ini mengajarkan bagaimana seharusnya bersikap dalam berhubungan seksual ketika akan memulai pertandingan lagi.

….awit aji asmara punika kangge sarana lelantaran anggenipun badhe nyumerepi “dhateng asal wijinira” manungsa sejati, karana ingkang kasebut tembung paribasan makaten : sinten manungsa ingkang boten uninga dhateng asal wijinira, sayektine inggih datan uninga dhateng sejati paraning sedya, kacariyos ing tembe inggih badhe kirang sampurna ing kamuksanira. (pupuh 6)

Ilmu asmara merupakan sarana untuk mengetahui asal muasal manusia, seperti peribahasa barang siapa yang tidak mengetahui asal usulnya sesungguhnya juga tidak akan mengetahui kemana tujuan hidupnya, niscaya kelak hidupnya tidak akan sempurna.

Hubungan seksual merupakan masalah yang sangat penting dalam Budaya Jawa karena hasilnya adalah sebuah kehidupan baru. Maka dari itu diajarkan agar sebelum melakukan hubungan seksual haruslah disiapkan segala-galanya agar hasilnya juga sempurna dan mengerti asal kemana ia akan berakhir.

Yen pinareng dening Pangeran ingkang Maha Suci, kinen dados lantaran nitehaken manungsa. (pupuh 6)

Apabila Tuhan memperkenankan, pertandingan tersebut akan menjadi sarana dan wahana untuk menciptakan manusia.

Hubungan seksual yang benar akan direstui oleh Tuhan dan diberikan hasil yang benar pula.

Kasebut wonten wewijangan ngelmi, ingkang kaping nem dipunwastani kayektening kahanan Kang Maha Suci, inggih menika pambukaning tata malige ing dalem Betal Mukadas awit dene pamejangipun ambuka kodrat predating Pangeran kang Maha Suci Sejati, anggenipun kersa jumenengaken maligening Dad, minangka Betullah katata wonten kontholing manungsa…. (pupuh)

Disebutkan dalam ajaran ilmu keenam dinamakan keberadaan Yang Maha Suci yaitu pembukaan tata malige dalam Betal Mukadas, dikarenakan Tuhan telah berkehendak menempatkan mahligai Zat sebagai Baitullah yang berada di buah Zakar manusia.

Dalam hal hubungan seksual, maka yang paling penting adalah peranan alat kelamin sebagai media utama. Budaya Jawa mengajarkan mengenai konsep alat kelamin pria sebagai sesuatu yang penting karena merupakan bagian dari tempat persemayaman juga.

Sejatine ingsun nata malige ana ing sajroning Betal Mukadas iku omah enggoning pasucian ingsun, jumeneng ana kontholing Adam, kang ana ing sajroning konthol iku pringsilan, kang ana ing sajroning pringsilan iku nutpah, iya iku mani, sajroning mani iku madi, sajroning madi iku manikem, sajroning manikem iku rahsa, sajroning rahsa iku ingsun, Dad kang anglimputi ing kahanan jati jumeneng ana ing sajroning nukat gaib….. (pupuh)

Sebenarnya Aku meletakkan tahtaKU dalam Betal Mukadas. Itu adalah tempat pesucianKu, yaitu berada di zakar Adam. Yang berada di zakar itu adalah buah pelir, yang berada dalam buah pelir adalah nutfah, yang berada dalam nutfah adalah mani. Di dalam mani ada madi. Di dalam madi ada manikem. Di dalam manikem ada rahsa. Di dalam rahsa ada Aku, tiada Tuhan selain Aku, zat yang meliputi segalanya bertahta dalam alam gaib.

Dalam ajaran mengenai konsep seks dalam Budaya Jawa, maka diterangkan pula apa sebenarnya alat kelamin itu sebagai sarana utama dalam hal seks. Dalam Budaya Jawa diajarkan bahwa tubuh manusia adalah manifestasi dari Tuhan itu sendiri dan alat kelamin milik pria masing-masing bagiannya adalah perwujudan dari unsur ke-Tuhanan sehingga tidak boleh digunakan sembarangan karena suci sifatnya.

Yen priya lan wanita anggenipun sami sahresmi pamudharin prasa sesarengan, woring kama mangka pinareng dening Pangeran Kang Maha Mulya badhe nitahaken manungsa, punika woring kuma wau lajeng kendel dumunung wonten guwa garbaning wanita, binasakaken garbini inggih punika meteng. (pupuh)

Bila seorang pri dan wanita bersetubuh, pertemuan kama diperkenankan oleh Tuhan Yang Maha Esa, akan ditaksirkan manjadi manusia. Bersatunya kama (seperma dan sel telur) tersebut kemudian akan berdiam diri di rahim wanita yang kemudian disebut hamil.

Tujuan dari hubungan seksual salah satunya yang paling penting adalah untuk menghasilkan keturunan. Benih manusia yang hadir di rahim wanita itu bisa ada hanya karena restu dari Tuhan.

….saleresipun tiyang estri ing asmara boten malih, amung kedah anut ing ombak kasagedaning priya…. (pupuh 19)

Sesungguhnya dalam bersenggama seorang wanita harus mengikuti kemauan laki-laki.
Hal-hal tersebut adalah ajaran tentang tindakana yang tepat bagi wanita dalam hal berhubungan seksual.

Wonten malih gelaring wanita yen nuju sinanggama ing priya, lajeng ambiyantu ing solah obahing raga raga dadosaken keras maju sunduring pasta, pratingkah makaten wau sedyanipun supados simbuhi sakecaning prasa…. (pupuh 19)

Adapun tingkah laku wanita ketika bersenggama sebagiknya mengimbangi gerak pria yang bertujuan untuk menumbuhkan rasa nikmat.

Dalam berhubungan seksual diajarkan mengenai bagaimana sikap seorang wanita agar kegiatan hubungan seksual bisa mencapai tujuan yang diinginkan yaitu dapat mengimbangi gerakan laki-laki.

Kisanak, bebakunipun ingkang prelu kedah waskita, sageda nuju karsaning priya, ing solah kedah anut ing kersaning kakung. (pupuh 19)

Saudara, yang [erlu diperhatikan adalah kewaspadaan. Hendaknya wanita tanggap terhadap kehendak laki-laki.

Selain menyeimbangkan gerak, wanita juga harus tanggap dan mengerti apa yang menjadi kehendak laki-laki.

Awit wujudipun ingkang kawastanan labet wau inggih guna, tegesipun kapinteran, ingkang dipunwastani guna punika inggih sarana, tegesipun piranti, ingkang binasakaken sarana punika inggih : mantra, tegesipun muna, ingkang dipunwastani mantra punika inggih dunga tegesipun muni, ingkang binasakaken donga menika inggih puja, tegesipun panggunggung, inggih punika sadaya wau dumunung pangrengganing basa, utawi patrap ingkang dados pepunton atining tata krami. (pupuh 20)

Dengan upaya seperti itu sesungguhnya merupakan bentuk lain dari ibadah. Sebab bentuk ketekunan dan kesungguhan pada dasarnya berupa guna artinya kepandaian atau ketrampilan. Guna juga berarti sarana, yaitu peralatan. Sarana dapat diartikan sebagai mantra, maksudnya niat yang diverbalkan, sedangkan doa juga berarti harapan atau cita. Kesemuanya seimbang antara prilaku dengan nurani.

Budaya Jawa mengajarkan bahwa dalam berhubungan seksual haruslah diniatkan dalam hati bahwa tujuannya adalah baik karena menghasilkan manusia baru. Maka dari itu, hubungan seksual haruslah dilaksanakan dengan niat yang sungguh-sungguh karena hal tersebut sama juga dengan beribadah.

Wondene alas hardaning karsa, dumugining cipta maya kados ingkang kasebut ing inggil wau, bok manawi boten amung mahanani dhateng wewatekaning bebayi, pramila para sujana lan sarjana ingkang waskita ing kadadosaning krida utawi pangripta wau sok nuwuhaken, lajeng kangge tetenger nama dhateng atamajanipun. (pupuh 22)

Maka dari itu segala keinginan, beradanya cipta maya seperti yang disebut diatas tadi, mungkin tidak hanya memberi watak bayi, makanya para manusia dan manusia yang bijaksana di kejadian yang terjadi atau terciptanya tadi, kadang memberikan tanda, lantas dijadikan nama terhadap anak-anaknya.

Dalam hubungan seksual juga diajarkan untuk berada dalam posisi hati yang serba tenang, segalanya dalam kondisi baik agar hasil keturunan yang dihasilkan juga baik. Tidak hanya itu, akan tetapi hati pria dan wanita yang melakukan hubungan seksual juga harus bersih dan bijaksana.

Yen ta saupami ngrembaga bab prakawis wiji, leres sampun dumunung wonten ing priya, pramila sujanma wanodya punika bebasanipun kasebut papan utawi wadah…. (pupuh 22)

Jika membahas perkara benih, benar, sudah berada di para laki-laki, maka dari itu, perempuan diibaratkan papan atau wadah.

Perempuan adalah wadah tempat laki-laki menempatkan maninya agar dijaga dan dirawat dalam suatu tempat yaitu rahim wanita.

….karsanira Pangeran Kang Maha Mulya karsa nitisaken wijining manungsa…. (pupuh 22)

Kehendak Tuhan Yang Maha Mulia berkehendak menitiskan benih manusia.

Dalam masalah hubungan seksual, haruslah diingat bahwa munculya janin adalah hasil karya Tuhan, sehingga harus dapat dipertanggung jawabkan.

Kacariyos bilih kasupen inggih kenging boten dados punapa, sabab sajatosipun ingkang prelu dados awisan amung hawa napsu bilih saged ambirat ing hawa napsu, kacariyos ing adat asring kadunungan awas lan emut, manawi tansah anggenipun awas kaliyan emut, bok manawi estu amanggih kamulyan ing sangkan paran….. (pupuh 23)

Ceritanya, seandainya lupa sesungguhnya tidak masalah, karena yang sebenarnya perlu mendapat larangan hanya hawa nafsu karena akan bisa menjerumuskan. Ceritanya, dalam adat sering terdapat awas ingat, jikalau teramat sangat rasa awas dan ingat itu mungkin benar akan bertemu dengan kemulyaan di asal dan tujuan.

Hal tersebut merupakan ajaran megenai tindakan, yaitu bahwa dalam melakukan hubungan seksual haruslah dengan penuh kesadaran dan diusahakan jangan sampai terseret oleh nafsu birahi belaka. Maksudnya, selama berhubungan seks haruslah tetap diingat bahwa tujuan utama adalah untuk mengahsilkan seorang manusia baru yang baik. Dengan demikian, manusia yang berasal dari proses yang baik maka akan kembali kepada Sang Pencipta dengan keadaan yang baik pula.

Ingkang rumiyin nyariosaken tembung upami, wonten sujanma priya kaliyan wanodya, badhe dumugekaken karsa ngulang salulut sami lumebet ing jenem rum, tegesipun dunungin pasareyan, ing riku sandyana amung sakaliyan tur dumunung wonten papaning sepen, liripun boten katingalan dening tiyang kathah, ewa semanten menggah pepantenganing panggalih…. (pupuh 25)

Yang pertama, menceritakan kalimat seandainya ada manusia laki-laki dan perempuan berkeinginan bercinta, masuk kedalam ranjang artinya berada ditempat tidur walaupun di situ hanya berdua dan juga berada ditempat yang sepi yang intinya tidak kelihatan orang banyak, walaupun begitu keseriusan perasaan janganlah sampai lupa…….

Ini adalah ajaran mengenai bagaimana cara yang benar ketika laki-laki dan perempuan yang akan mulai melaksanakan kegiatan berhubungan seksual, yaitu harus dilakukan pada tempat yang semestinya.

Sing sapa manungsa gelem ngalkoni tumindak marang panggawe nistha sayekti bakal nemu papa. (pupuh 25)

Barang siapa manusia yang menjalankan tindak nista pastilah akan menemuai kehinaan.

Menjalankan tindak nista maksudnya adalah berhubungan seksual tanpa persiapan yang benar dan hanya berdasarkan atas nafsu birahi belaka, maka nantinya juga akan berakibat buruk.

….dados manungsa ingkang binasakaken kapir wau supami karsa apulang asmara, mangkana lajeng saged dados wijining manungsa sanajan wiwit duk maksih jabang bayi tan pedot pinidih ing pamulangan tur dhateng tindaking kautaman, ing tembe bilih sampun dewasa bok manawi inggih lajeng wiga katragal dados dugal awit enget manawi pandemeling setan blaka. (pupuh 25)

Jadi yang disebut manusia kafir tadi seandainya bersenggama, maka bisa jadi benih manusia walaupun ketika masih bayi terus mendapat ajaran ketidak utamaan dan kebaikan, yang nantinya ketika dewasa mungkin akan menjadi jahat dan nakal karena memang terbuat dari penyatuan setan.

Dalam ajaran hubungan seksual, niat awalnya haruslah merupakan niat yang baik. Manusia yang akan melaksanakannya juga haruslah dengan hati dan pikiran yang suci, tidak dengan pikiran yang kotor. Berhubungan seksual dalam keadaan yang kotor. Berhubungan seksual dalam keadaan yang kotor baik fisik maupun batinnya akan menghasilkan sesuatu yang jelek dan kotor pula, karena terbuat dari hasil penyatuan dua hal yang sama-sama kotor (setan).

….liripun mekaten menggah ing saresmi wau boten kangge pakareman utawi boten kangge memainan, tegesipun boten kangge dedolanan utawi geguyonan…. (pupuh 26)

Maksudnya dalam hubungan tadi tidak bisa untuk main-main atau bercanda.

Hubungan yang dimaksud disini adalah hubungan seksual. Jadi, kagiatan hubungan seksual harus dilakukan denga serius dan tidak boleh main-main.

Wonden bilih pinuju badhe salulut anggenipun anaji-aji lan angedi-edi ing patrap kapratelaken kados ing ngandap punika : ingkang rumiyin, duk wiwit kagungan karsa badhe apulang asmara lan wanita sakaliyan sami sesucia, inggih punika siram tuwin jamas lajeng ngasta siwur anyiduka toya kaankat celak ing wadana mawi dipundonganana, ananging donganipun kados pundi duk ing jaman kina punika kula boten terang, yen ing jaman samangke inggih katimbang kendel kemawon lowung kaangge minangka gegondhelaning niyat, prayoginipun mawi angucap mkaten : “niyatingsun adus, padusan banyuning tlaga kalkaosar, anuceni sakaliring eroh, kang dumunung ana ing jasad kita, mlebu manik metu inten, cahyake amancur mancorong kadi cahyaning Pangeran Kang Maha Kuwasa”. Ing riku toya siwur wau lajeng kasiramaken ing wadana, lajeng siram ngantos dumugi sucining saliranipun sadaya. Menggah pratingkah siram ingkang mekaten wau jalu lan wanita ing patrap sami kemawon boten aprabeda. (pupuh 26).

Sedangkan ketika ingin memuja-muja dan mengindahkan tingkah laku, akan dijelaskan seperti di bawah ini : Pertama, mulai dari punya keinginan senggama dengan wanita, semua harus suci. Harus mandi keramas, lantas mengambil gayung berisi air dan diangkat di dekat muka dengan berdoa. Tetapi bagaimana doa ketika jaman dahulu itu saya kurang jelas, namun jika jaman sekarang ya daripada diam saja lebih baik dijadikan niat, dan sebaiknya mengucapkan demikian; “Niatku mandi, tempat mandi telaga kalkaosar, mensucikan segala darah, yang berada dalam tubuh kita, masuk manik keluar intan, cahayaku bersinar seperti sinar cahaya Tuhan Yang Maha Kuasa”. Air yang berada di dalam gayung tersebut lantas disiramkan ke wajah dan dilanjutkan mandi sampai semua badan menjadi suci baik untuk laki-laki maupun perempuan.

Berikut adalah ajaran mengenai konsp seks dari segi cara memulai sebuah hubungan seksual yang benar. Proses penyatuan antara dua manusia baru adalah sesuatu yang sakral dan sangat penting untuk disiapkan dengan sebaik-baiknya. Hal pertama yang harus dilakukan adalah dengan membersihkan diri dengan cara mandi. Mandi dalam konteks ini bukan hanya demi kenyamanan fisik belaka, tetapi dengan cara-cara tertentu dengan maksud untuk membersihkan jiwa dan batinya juga. Mandi harus disertai dengan niat yang baik serta doa, dengan tujuan untuk membersihkan segala kotoran (jasmani dan rohani) serta meniatkan sesuatu yang baik dalam hati. Dengan demikian diharapkan dalam melakukan hubungan seksual, keduanya (laki-laki dan perempuan) berada dalam keadaan bersih dan suci sehingga benih yang muncul nanti adlah merupakan buah dari perbuatan yang telah disucikan.

Ing sasampunipun rampung sesuciya siram jamas lajeng sami angadi-adi warna, kinarya sarana pangundhaning asmara, liripun menggahing pratingkah sami busana ingkang sarwa pantes, sarta angeganda wida, sasmpunipun samekta ing sakaliyan lajeng reruntunan sami malebet ing papreman, tegesipun malebet dhateng ing panglereman utawi dununging pakendelan, inggih punika pasareyan, ing riku priya lajeng angrakit pamasaning aji kamajaya dumunung amung winaos wonten salabeting batos kajarwakaken kados ing ngandhap punika : ….. Pupuh 26)

Setelah selesai bersuci mandi keramas (jamas) lantas berpakaian yang rapi untuk mengundang nafsu yang intinya tingkah laku dengan berpakaian yang pantas dan memakai wangi-wangian. Setelah semuanya selesai, lantas bersama-sama masuk ke tempat untuk tidur, maksudnya masuk ke ranjang, atau tempat istirahat yaitu ketempat tidur. Di situ, laki-laki memsang aji kamajaya yang diucapkan dalam hati.

Setelah membersihkan diri, maka ajaran selanjutnya adalah mengenai cara dan bagaimana tindakan mengenai cara dan bagaimana tindakan yang tepat untuk memulai kegiatan sakral tersebut. Pertama, untuk membangkitkan hasrat maka masing-masing harus mrias diri dengan berdandan dan memakai wewangian. Setelah itu, harus pula diperhatikan tempat melakukan kegiatan tersebut dan tidak diperbolehkan dilakukan di sembarang tempat.

Wondening sang wanita ingkang rumiyin ugi muntu pangesthi sedya dumunung ing Betalmukadas, tegesipun niyat anjumenengaken kahanan salebeting puraya pasucian, dumunung ing baga. Ingkang kaping kalih, lajeng amusthi nesthi pambukaning aji asmara nala, tegesipun senseming manah, inggih punika wahananing birahi, tegesipun wiji, dumunung ing purana. Ingkang kaping tiga, kaping sekawan, kaping gangsal, kaping nenem, dumugi pitu, mboten aprabeda kados pamusthining kakung wau. Ing sasampunipun samekta pangruktining sakaliyan, lajeng sami kakaron sih, andumugekaken karsa, dene patrap lan pratingkah tumanduking pulang asmara, saestunipun bab makaten punika kadamel pipingitan, sinten ingkang saged uninga amung kinten-kinten yen anithik lelabuhanipun, wiwit duk murwani wau dumugining ngendhon kados inggih sae, liripun bok manawi inggih kados caraning manungsa, sarta boten angicalaken ing tata krami, kados-kados bok manawi inggih punika ingkang kasebut anggendam langening pramana, ambuka kahananing atma, ingkang badhe pinurwaning wicaksana. Ing sasampunipun salulut, sakaliyan medal saking papreman, lajeng samya asiram jamas malih, menggah solah lan pratingkah boten prabeda kadi patraping siram duk ngajeng wau, amung donga sarananipun kantun angurapa makaten “suku asta winengku ing solah bawa, solah bawa winengku ing driya, driya winengku ing Hyang Praman, andadekakna adus ing suci santosaning roh kang ana ing badan kita”. (pupuh 26)

Sedangkan sang perempuan, pertama juga berniat bersedia berada di Betalmukadas, artinya menahan mendiamkan keadaan di dalam kerajaan kesusian, berada di baga. Yang kedua lantas berniat membuka aji asmara nala, artinya pesona hati, itulah wahana birahi, artinya nafsu senggama, tumbuh menjadi purba, artinya benih berada di purana. Yang ketiga, keempat, kelima, keenam, dan seterusnya hingga ketujuh tidak berbeda dengan laki-laki. Setelah selesai menjalani semua lantas keduanya bermain cinta, mendatangkan karsa, sedangkan segala tingkah polah dalam bersenggama, sebenarnya bab ini merupakan rahasia, siapa yang bisa mengetahui kira-kira jika menandai penempatan mulai dari atas yang awal tadi sampai sekarang itu sangat bagus, intinya seperti cara manusia, serta tidak menghilangkan tata krama, mungkin seperti inilah yang disebut pesona keindahan praman, membuka keadaan atma, yang akan menjadi kebijaksanaan. Sesudah bercinta keduanya keluar dari tempat tidur, lantas mandi jamas lagi, sedangkan tingkah laku atau tata caranya tidak berbeda dengan cara mandi yang seperti diatas tadi tetapi doa permintaannya seperti berikut : “Kaki dan Tangan berada dalam tingkah laku, tingkah laku berada dalam hati, hati berada dalam Hyang Praman, menjadikan mandi suci sentosanya ruh yang abadi di badan kita”.

Selain laki-laki, sang perempuan juga harus menyiapkan beberapa hal yang intinya hampir sama dengan laki-laki. Ada beberapa tahap pembukaan yang dilakukan secara perlahan-lahan yaitu “pesona” atau daya tarik dari masing-masing indra kemanusian yang dimiliki hingga nantinya muncul “karsa” atau kehendak yang mantap untuk berhubungan seksual. Cara berhubungan sesual yang baik pada intinya adalah untuk saling mengerti keinginan masing-masing, serta untuk senantiasa mengingat tata krama, yaitu berhubungan dengan cara-cara yang etis serta manusiawi. Setelah melakukan hubungan seksual maka diajarkan tindakan yang tepat yaitu mandi dengan cara yang sama dengan yang dilakukan sebelum melakukan kegiatan tersebut, dengan doa yang sedikit berbeda. Tujuan dari tindakan mandi setelah berhubungan seks adalah untuk mensucikan diri masing-masing dan juga membersihkan diri. Doa yang dipanjatkan pada intinya memohon kepada Tuhan agar apa yang telah dilakukan dapat disucikan serta membawa hasil yang baik.

….lan sumurupa mungguh tumitah ana alam donya iki binasakake mung mampir ngobe (bae)…. (pupuh 29)

Ketahuilah bahwa manusia yang ada di alam dunia ini diibaratkan hanya mampir minum….

Dalam konteks ajaran hubungan seksual, haruslah tetap diingat bahwa kehidupan hanya merupakan sesuatu yang sementara seperti ibarat orang yang melakukan perjalanan jauh dan hanya mampir untuk minum. Maka dari itu, janganlah melakukan hubungan seksual hanya karena kesenangan dunia saja yang sifatnya sementara, tetapi harus dipikirkan juga mengenai pertanggung jawabannya kepada Tuhan dalam perjalanan kehidupan yang selanjutnya.

….caritaning dalil dawuhing Pangeran, wajida-wajidahu, tegese : sing sapa temen katemenan, mungguh surasaning…. (pupuh 29)

Apakah anda belum pernah mendengan cerita dalil sabda Tuhan, wajida-wajidahu, artinya : siapa yang sengguh-sungguh akan mendapatkan hasil…..

Ada suatu ungkapan yaitu wajida wajidahu yang artinya siapa yang sungguh-sungguh akan mendapatkan hasil. Maksudnya disini adalah dalam hubungannya mengenai konsep seks maka ungkapan tersebut bermaksud untuk menyampaikan bahwa hubungan seksual harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh agar mendapatkan hasil yang baik.

Demikian cuplikan dalam Serat Nitimani berisi ajaran mengenai konsep seks dalam budaya jawa. Ajaran tersebut merupakan sistem nilai budaya Jawa yang landasannya adalah konsep religi yaitu masalah hubungan manusia dengan Tuhan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa segala aspek dalam kehidupan orang Jawa, termasuk dalam hal seks pasti berujung kepada masalah antara manusia dengan Tuhan. Seks dalam budaya Jawa bukan hanya merupakan sarana untuk melampiaskan hawa nafsu dan sekedar bersenang-senang akan tetapi sampai kepada pengertian bahwa hubungan tersebut adalah suatu ikatan resmi antara laki-laki dan perempuan sebagai pasangan suami isteri yang harus dapat dipertanggungjawabkan kepada Tuhan. Dalam hal ini, dapat dikatan bahwa seks merupakan kegiatan yang dianggap suci dan sakral karena hasil dari perbuatan tersebut adalah menghasilak manusia baru. Lahirnya manusia di sunia harus dipersiapkan sebaik mungkin termasuk dari awal proses penciptaannya. Hal tersebut dimaksudkan agar anak yang akan lahir nanti berasal dari proses awal yang jelas sehingga dapat mengetahui tujuan hidupnya dengan jelas pula. Konsep mengenai asal dan tujuan hidup manusia merupakan konsep dasar dari apa yang menjadi kepercayaan manusia Jawa. Bahwa ajaran seks merupakan gerbang awal manusia untuk memahami dua konsep utama dalam relegi budaya Jawa yaitu konsep sangkan paraning dumadi dan konsep manunggaling kawula-Gusti. Jadi, ajaran seks dalam Serat Nitimani bertujuan untuk memberikan pedoman moral, nilai dan kaidah bagi orang Jawa tentang bagaimana cara melakukan hubungan seks dengan cara yang benar dan tepat (bener lan pener), karena pada akhirnya apa yang menjadi hasil dari perbuatan tersebut berhubungan dengan asal kehidupan (sangkan paraning dumadi) serta tujuan hidup yang utama yaitu bersatu dengan Tuhan (manunggaling kawula Gusti).

Semoga dapat menambah wawasan serta pengetahuan bagi kita dalam menjalani hidup. Kurang lebihnya mohon maaf. Nuwun.

Alang alang Kumitir

Senin, 24 Januari 2011

Ajaran Budi Pekerti dalam suluk Gita Prabawa

October 16, 2009

Suluk Gita Prabawa menceritakan seorang anak raja yang bernama Gita Prabawa dengan ditemani seorang abdi yang setia yang bernama Darma Gandhul yang tak kalah jeleknya. Setelah bertapa pangeran itu menjadi orang yang sangat pandai berdebat, pandai menulis dan pandai berhitung , tanpa guru.

Pangeran lalu minta ijin ayahnya untuk berkelana mencari lawan untuk berdebat mengenai kawruh kasunyatan “ilmu kasunyatan” dan tentang hakikat Jalu Wanita (pria dan wanita), kelakuan dalam Asmara gama dan terjadinya benih manusia, akhirnya Gita Prabawa mendapat lawan yang tangguh yang bernama Dewi Pujiwati.

Dalam Suluk Gita Prabawa banyak terkandung pendidikan / ajaran budi pekerti yang luhur, dan menurut kaitannya dengan tahap-tahap syariat, tarikat, hakekat dan makrifat. Dalam suluk tersebut yang ada kaitannya dengan empat tahap perjalanan manusia menuju kesempurnaan antara lain sebagai beriku :

Wejangan Gita Prabawa

Darma Wasesa Kang winarna, langkung kagyat denira aningali, Gita Prabawa dene mlebu, marang guwa Siluman, pakartine Pujiwati sang Retna Yu, Darma Wasesa aturira, dhuh dhuh sampun den lampahi.
Terjemahan :
Diseritakan darma Gandhul, sangat terkejut melihat, Gita Prabawa masuk ke dalam gua siluman, itu perbuatan Sang Retna Ayu (Pujiwati), Darma Gandhul berkata, aduhai jangan dilakukan.

Dika manjing ing jro guwa, datan wande yen keneng kyeh bilai, langkung samar weritipun, ing ngriku pangalapan, kayangane sagungipun pra lelembut, Pujiwati kinuwasa, linulutas pra dhedhemit.
Terjemahan :
Tuan masuk ke dalam gua, pasti mati, sangat berbahaya, karena angker, disitu tempat tinggal para lelembut, Pujiwati yang diberi kekuasaan, dicintai para lelembut.

Niku tukang pangalapan, yen wus kapal tanpa daya samenir, yen dika kalebeng ngriku, tan wande ketiwasan, boten wonten ingkang kawula tut pungkur, yen paduka tekeng pejah, kawula kantun pribadi.
Terjemahan :
Itu sering membuat orang kalap, kalau sudah kalap tanpa daya sedikitpun, jika Tuan sampai masuk ke situ, pasti mati, tidak ada yang hamba ikuti, jika Tuan sampai mati, hamba tinggal sendiri.

Mendah dukane kang rama, Prabu Garbasumandha tembe wuri, Ki Gita Prabawa ambekuh, aywa kuwatir sira, lara pati iku dudu darbe ingsun, ing lohkhil makful wus ana, bilai lara lan pati.
Terjemahan :
Alangkah marahnya ayah anda Sang Prabu Garbasumandha nantinya, Ki Gita Prabawa mendengus, jangan kuwatirkan aku, mati hidup itu bukan kepunyaanku, di lohkhil makful sudah ada, celaka, sakit dan mati.

Ki Darma wasesa tur ira, mila amba kumapurun mambengi, saking sanget tresna ulun, darbe guru bendara, sampun ngantos manggih susah lara lampus, Gita Prabawa asru ngucap, apa sira wedi mati.
Terjemahan :
Ki Darma Gandhul berkata, hamba berani menghalang-halangi, karena rasa cinta kasih hamba, mempunyai Tuan dan Guru, jangan sampai mendapat susah, sakit atau mati, Gita Prabawa berkata dengan keras, takut matikah kau?

Ki Darma wasesa tur ira, pejah nika tankeni denajrihi, gumantung karseng Hyang Agung, nanging tindak kang yogya, mangka ulun incen guwa peteng nglangut, pepadhas curine kathah, ting caringih mbilaeni.
Terjemahan :
Ki Darmo Gandhul berkata, mati itu tak boleh ditakuti, bergantung kehendah Hyang agung, tetapi untuk perbuatan baik, padahal hamba intip gua itu gelap sekali, padasnya runcing-runcing dan berbahaya.

Tur rupek peteng asamar, manjing guwa punapa kang denambil, tur gandane dahat arus, yekti kathah kang wisa, lamun dika anedya lumebeng ngriku, lepat pejah kenging wisa, tur wisa kang mbebayani.
Terjemahan :
Lagi pula sempit gelap berbayaha, masuk ke dalam gua apa yang diambil?, lagipula baunya amis, pasti mengandung bisa, jika Tuan bermaksud ke situ, pasti mati terkena bisa, dan bisa yang berbahaya.

Temah pejah siya-siya, tetep lamun janma bodho kepati, nir bobot lan timbangipun, suwawi kondur enggal, lamun lajeng sayekti yen manggih ewuh, manah ngong amelang-melang, tarataban ketir-ketir.
Terjemahan :
Akhirnya mati sia-sia, sungguh manusia yang bodoh, tanpa pertimbangan apa pun, mari pulang saja, jika diteruskan pasti akan mendapat bahaya, hati hamba sangat khawatir.
DALAM bait-bait tersebut, jelas dilukiskan bahwa seseorang yang mengabdi harus bertanggung jawah atas segala yang akan menimpa tuanya, memperingatkan tuannya jika akan berbuat salah, memberi nasihat jika berguna bagi keselamatannya, bahkan rela berkorban jiwa demi tuannya.

Janma Tan Kena Ingina
Gandanira apek pengus, kyai guru tan kuwawi, mambet ganda tan eca, mengo sarwi tutup lathi, idu riyak pulaeran, wenenh watuk sarta waing.
Terjemahan :
Baunya sangat tidak enak, kyai guru tidak tahan mencium bau tak enak itu, menoleh sambil menutup mulut, meludah sambil batuk serta bersin.

Sakabat kang aneng ngayun, sumingkire aneng wuri, nireng guru katri mira, waspada denira meksi, ing warnane janma prapta, mesum sayub cahya nya nir.
Terjemahan :
Sakabat yang ada dimuka, menyingkir di belakang ketiga gurunya, waspada memperhatikan, wujud orang yang datang, mesum suram tanpa sinar.

Seret denira anebut, astagafiru’llah ngalim, a’udubilahi minha, lagi iki sun udani, janma urip aneng donya, warnane tan lumrah janmi.
Terjemahan :
Tersendat mereka berucap, Astgafirullah ngalim, a’udubilahi minha, baru sekali ini aku melihat orang di dunia rupanya tidak umum.

Mengo ngucap muridipun, lah padha delengen kuwi, janma ingkang murang sarak, kurang wuruk mring agami, uripe ana ing donya, cilakane anemahi.
Terjemahan :
(Guru) menoleh berkata kepada muridnya, nah lihatlah, orang yang kurang ajar, kurang pengetahuan agama, hidupnya di dunia pasti celaka.

……….., patut dudu anak jalmi, anak wewe lan janggitan, Abduljabar nambung wengis.
Terjemahan :
……….., pantasnya bukan anak orang, anak wewe dan jangitan, Abduljabar dengan bengis menyambung.

Iki ta apa lu-ilu, lawan antu bangsa dhemit, utawa bangsa wa-uwa, kang manggon tengah wanadri, Abdulmanap aris mojar, lamun ing pembatang mami.
Terjemahan :
Apakah itu ilu-ilu dan hantu semacam dhemit, atau bangsanya wa-uwa yang hidup di tengah hutan?, Abdulmanap dengan halus berkata, kalau perkiraanku.

Bangsa uwil-uwil patut, kang uga thong-thongbret nami, Gita Prabawa mireng sabda, …………
Terjemahan :
Bangsa uwil-uwil, yang juga disebut thong-thongbret, Gita Prabawa mendengar kata, …………..

Yen ngono sira iku, nora pantes rembugan lan aku, awit sira wong munapek sun arani, durkaha marang Hyang Agung, lamun aku gelem tudoh.
Terjemahan :
Kalau begitu engkau itu, tidakpantas bicara denganku, sebab engkau orang munafik, berdosa kepada Tuhan, jika aku mau memberi tahu.

Pratingkahe laku dur, amuruki jawabe wong climut, nora wurung katularan awak mami, nadyan tan muruki, ingsun tan gelem sandhingan ingong.
Terjemahan :
Perbuatan jelek, mengajari jawaban orang curang, tidak urung akan ketularan juga diriku ini, meski aku tidak mengajari, duduk berdekatan juga tidak mau.
DALAM bait-bait tersebut tercermin bahwa seseorang yang merasa dirinya orang suci, pandai dalam ilmu menghina orang lain dengan seenaknya sendiri. Padahal dalam ajaran agama hal seperti itu tidaklah dibetulkan. Orang hidup harus saling harga-menghargai satu dengan lainnya tanpa memandang rupa, kekayaan, pangkat dan derajat. Dalam bait itu disebutkan ada tiga orang guru mengaji yang telah katam dalam ilmu agama, ternyata mereka menjadi takabur dengan ilmunya itu, sehingga menghina dan merendahkan orang seenaknya dan mengatakan bahwa orang-orang semacam diri merekalah yang kelak masuk surga firdaus.

Mring batal karam angrengut, sira sengguh kalal sakehipun, nadyan iwak celeng asu lawan babi, angger doyan sira kremus, nora wedi durakeng don.
Terjemahan :
Padahal yang batal dan haram geram, engkau kira halal semuanya, baik itu ikan babi hutan, anjing dan babi, asal engkau mau kau makannya, tidak takut akan durhaka.

Ki Gita Prabawa muwus, iku bener nggonira amuwus, nora luput nadyan iwak asu yekti, sun titik kamulanipun, dudu asu nggone nyolong.
Terjemahan :
Ki Gita Prabawa berkata, semua katamu benar, tidak salah meski ikan daging anjing sekalipun, jika diketahui asal mulanya, bukan anjing curian.

Deningu wiwit kuncung, lahta sapa wani ganggu-ganggu, luwih kalal saking iwak wedhus pitik, yen asale iwak wedhus, saka nggone anyenyolong.
Terjemahan :
Dipelihara dari kecil, nah siap berani mengganggu, lebih halal daripada ikan kambing dan ayam, jika asalnya ikan kambing, asalnya dari mencuri.

Sanadyan babi tuhu, ingsun titik ing kamulanipun, lamun ingon dhewe wiwit isih genjik, luwih kalal saka wedhus, nadyan iwak celeng yektos.
Terjemahan :
Meskipun babi, aku teliti asal mulanya, jika piaraan sendiri sejak kecil, lebih halal daripada ikan daging kambing, meskipun ikan babi hutan.

Kalamun antukipun, nggone mburu dhewe mring wana gung, dudu celeng colongan kalale luwih, saking ulam mesa lamun, asale nggone anyolong.
Terjemahan :
Jika didapat, dari beburu sendiri didalam hutan rimba, bukan babi hutan curian lebih halal, daripada daging ikan kerbau, yang asalnya dari mencuri.

Pan luwih karamipun, saking ulam celeng sarta asu, lan mangkono ngibarate kawruh jati, guru tiga ngucap, ……………
Terjemahan :
Itu lebih haram, daripada ikan babi hutan dan anjing, nah itulah ibaratnya ilmu jati, ketiga guru berucap, …………..

Gita Prabawa saurira, kadi paran nggon ingsun nampik milih, wus pinasthi ing Hyang Agung, sakehing karusakan, kabeh iku dadi darbeke wong lampus, dne sakehing kamulyan, dadi duweke wong urip.
Terjemahan :
Gita Prabawa menyahut, bagaimana aku harus menolak atau memilih?, sudah dipastikan oleh Tuhan, segala kerusakan itu, semua milik orang mati, dan segala kemuliaan, menjadi milik orang hidup.

Yen wong gesang iku susah, metu saking tekenane pribadi, ingkang karya susahipun, dening Hyang Mahamulya, sipat murah adil kukuh darbekipun, nanging kabet sipat samar, tan ana tinuting lair.
Terjemahan :
Jika orang hidup itu susah, berasal dari tanda tangannya sendiri, yang membuat susahnya, oleh Tuhan Yang Mahamulia, sifat murah adil dalam hukum, tetapi semua sifatnya samar-samar, tidak ada yang tampak dalam bentuk lahir.

Gita Prabawa malih mojar, adoh-adoh ingkang sira rasani, suwarga naraka, saiki wus gumelar, sapa ingkang luwih mulya uripipun, ya iku munggah suwarga, sapa apes dennya urip.
Terjemahan :
Gita Prabawa berkata lagi, jauh-jauh yang enkau sebut, surga dan neraka, sebutulnya sudah terpampang, barang siapa hidupnya mulia, yaitu naik surga, barang siap sengsara hidupnya.

Lamun sukmane wong Islam, anetepi salat limang prakawis, lan betah pangajinipun, anderes kitab Kuran, anetepi sahadat lan jakatipun, puwasa wulan Ramelan, tinarima mring Hyang Widhi.
Terjemahan :
Jika ruh orang Islam, yang mentaati salat lima waktu, dan tahan lama mengaji, membaca Qur’an, menetapi sahadat dan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, diterima oleh Tuhan.

Denunggahken mring suwarga, wit jalaran manut parentah Nabi, akeh oleh-olehipun, kang wus kasbut ing kitab, lamun suksma nireng kaping kang tan anut, surake jeng Rassulullah, linebohake Yomani.
Terjemahan :
Dinaikkan ke surga, menurut perintah Nabi, banyak perolehannya, seperti telah disebutkan dalam kitab, jika ruh orang kapir yang tidak taat, pada perintah Nabi Rasulullah, di masukan kedalam neraka.

Gita Prabawa duk miyarsa, ………. wusana aris, pernahe iman puniku, aneng jantung nggenira, ing utek pernahe budi, otot balung punika pernahe kuwat.
Terjemahan :
Gita Prabawa setelah mendengar, ………. akhirnya berkata lembut, tempatnya iman itu, didalam jantung, sedangkan akal tempatnya otak, letak kekuatan ada pada otot dan tulang.

Pernahe wirang ing netra, ing donya kang luwih pait, wong miskin kang luwih susah, dene kang luwih pakolih, wong waras lan wong sugih, dene ingkang luwih dumuh, wong bodho tan wruh sastra, ingkang tamat ing pangeksi, iya iku janma wruh ngelmune Allah.
Terjemahan :
Letaknya rasa malu ada di mata, di dunia ini yang lebih pahit, adalah orang miskin yang menderita susah, sedang orang yang paling berbahagia, orang sehat dan orang kaya, yang lebih buta, adalah orang bodoh yang tidak tahu tengtang sastra, yang terang penglihatannya, adalah orang yang tahu tentang ilmu Tuhan.

Kang awit dina kiyamat, ing donya kang luwih gelis, luwih luhur saking wiyat, ngelmune tiba ing Nabi, jembar ngluwiji bumi, puniku jembaring kawruh, landhep ngluwihi braja, iku atine lantip, asrep luwih saking toya iku sabar.
Terjemahan :
Yang mulia pada hari kiamat, di dunia yang lebih cepat, lebih tinggi dari langit, ilmu yang turun kepada Nabi, lebarnya melebihi bumi, itulah luasnya pengetahuan, tajamnya melebihi senjata, itulah hati orang cerdas, dinginnya melebihi air itulah kesabaran.

Luwih atos saking sela, atine wong rupak, dene ta wong barangasan, luwih panas saking geni, wong jalu lawan estri, yekti kathah estrinipun, nadyan ing lair lanang, nanging tan bisa netepi, kuwajibaning priya sasat wanita.
Terjemahan :
Lebih keras dari batu, itulah hati orang yang sempit pikirannya, sedangkan orang yang pemarah, lebih panas dari api, laki-laki dan perempuan, sesungguhnya banyak perempuan, meskipun pada lahirnya laki-laki, tetapi jika tak dapat memenuhi kewajibannya sebagai laki-laki, tak ada bedanya dengan perempuan.

Wong mati lawan wong gesang, sayekti kathah wong mati, nadyan wujudira gesang, lamun nir budi pakarti, yeku prasasat mati, wong sugih lan miskin iku, iya kathah wong mlarat, senadyan sugih mas picis, lamun bodho tan wruh kawruh kasunyata.
Terjemahan :
Orang mati dan orang hidup, sesungguhnya banyak orang mati, meskipun kelihatannya hidup, tetapi jika tidak mempunyai budi pekerti, ya itu seperti orang mati, orang kaya dan miskin itu, juga lebih banyak yang miskin, sebab meskipun kaya harta benda, tapi jika bodoh ia tak tidak tahu ilmu kasunyatan.

Sayekti iku wong nistha, tanwruh wusanane benjing, nggenya mulih mring kalenggengan, wong Islam lawan wong kapir, nadyan Islam ing lair, yen datan weruh ing ngelmu sanyatane agama, priye dadine agami, satuhune puniku kapir sadaya.
Terjemahan :
Sesungguhnya itu orang nista, tidak tahu akhirnya kelak, jika kembali menghadap Tuhan, orang Islam dan orang kafir, meskipun lahirnya islam, jika tidak tahu tentang ilmu agama, yang sesungguhnya bagaimana itu, sebetulnya itu pun kafir semua.

……, tegese wong laki rabi, lire wodon lawan lanang, aja ha cacade siji, wujude kalimat sahadat, tegese kadi pundi.
Terjemahan :
Artinya bersuami istri, artinya wadon (wanita) dan lanang (pria), jangan sampai ada cacadnya, wujud kalimah sahadat, artinya bagaimana?.

Basa lanang tegesipun, tan keni ingucap jalmi, lah tan iki warna-ningwang, yekti saru anglingsemi, wadon iku tegesira, basa wadon iku wadi.
Terjemahan :
Kata pria artinya, tidak boleh diucapkan orang, inilah ujud saya, betul-betul memalukan, kata wanita artinya, wadi (rahasia).

Mula rabi aranipun, wong lanang amengku estri, ing nedya datan sulaya, karep ala lawan becik, dadi jodho aranira, aywa kaledhong ing nami.
Terjemahan :
Maka dikatakan rabi, bagi pria kawin dengan wanita, dengan tujuan tidak akan berselisih, dalam kehendak buruk dan baik, jadi jodoh namanya, jangan terkecoh.

Aja tindak cula-cula, nganggoa patrap utami, dene ta kalimah sahadat, wong lanang kelawan estri, ingkang aneng sajro tilam, lamun arsa pulang resmi.
Terjemahan :
Jangan bertindak sembarangan, pakailah cara yang utama, yang dimaksud kalimat sahadat, adalah suami istri, yang sedang di tempat tidur, jika hendak bersetubuh.

Yen wus padha rujukipun, sami anekakken kapti, sakarone sami suka, mahanani raseng wiji, yen pinareng karseng Allah, kadadiyan putra benjing.
Terjemahan :
Juka sudah sepakat, sama-sama menyampaikan hasrat, keduanya sama-sama suka, menyebabkan rasa bahagia, jika Tuhan menghendaki, akan menjadi anak kelak.

Kalimah kalih puniku, wujude sira lan mami, tan liyan iki kang ana, dhasar samar kang sun nggoni, mila aran tapel Adam, enggon panggonan kang gaib.
Terjemahan :
Kedua kalimat itu, adalah ujudmu dan ujudku, tak lain inilah yang ada, dasar yang aku tempati tidak jelas, maka bernama tapel Adam, karena tempatnya yang gaib.

Puniku kang aran kakung, paksa kumlungkung mring rabi, aja kalah lan wanodya, iku wus mrantandhani, nalikane mong asmara, wong priya kang dipun pundhi.
Terjemahan :
Itulah yang disebut kakung (pria), memaksa diri kumlungkung (sombong) kepada istri, jangan sampai kalah dengan wanita, itulah telah tercermin, ketika sedang bermain asmara, priyalah yang dihormati.

Mila priya aranipun, wus mesthine angingoni, anyandhang estrinira, mila ing aranan estri, mung ngestreni jejerira, jumurung karsane laki.
Terjemahan :
Sebabnya disebut pria, sudah semestinya memberi nafkah, sandang dan pangan kepada istri, sebabnya disebut istri, karena hanya ngestreni (menungu) dan menyetujui, kemauan suami.

Mula wanita ranipun, kang wani temen ing laki, aja cidra lan sembrana, duk miyarsa Pujiwati, …………
Terjemahan :
Sebabnya disebut wanita, yang wani (berani) setia kepada suami, jangan ingkar dan gegabah, Pujiwati ketika mendengar, ………….

Wus pinasthikodrat ing Hyang, pepesthene janma tan kena gingsir, Darma Gandhul sru umatur menggah takdir ing badan, sinten ingkang uninga saderengipun, wikane yen wus klampahan, mupus takdire Hyang Widhi.
Terjemahan :
Kodrat Allah sudah pasti, takdir manusia tidak dapat berubah, Darmo Gandhul beseru keras adapun takdir diri, siapakah yang mengetahui sebelumnya?, bukankah tahunya itu jika telah terjadi, lalu berserah diri terhadap takdir Allah.

Saderenge kalampahan, ing agesang winenang nampik milih, de karsa tuwan puniku, sayekti yen nemaha, mring bilahi datan wande manggih dudu, dening Hyang Kang Murbeng alam, marga winastan takdir.
Terjemahan :
Sebelum terjadi, orang hidup berhak menolak dan memilih, seperti kehendak Tuan, itu pasti menempuh celaka, tak urung menemui kesalahan, dari Tuhan seru sekalian Alam, sebab yang dinamakan takdir itu.

Ingkang boten tinemaha, wusanane maksih manggih bilai, yeku takdir namanipun, lair batin sampurna, anyengaja lumebu jro guwa singup, niku takdir siya-siya, durake ing lair batin.
Terjemahan :
Yang tidak disengaja, tetapi akhirnya tertimpa celaka juga, itulah takdir namanya, lahir batin sempurna, sengaja masuk kedalam gua yang menakutkan, itu takdir sia-sia, berdosa lahir dan batin.

Laire aran kainan, winastanan janma kang tanpa pikir, ing batin yekti kasiku, marang sang Murbeng Alam, siya-siya menggih marang raganipun, mangka mung darmi ngenggea, prangrasane pasrah Widhi.
Terjemahan :
Lahirnya disebut kurang berhati-hati, dinamakan orang yang tanpa perhitungan, dalam batin sungguh salah terhadap Tuhan, menyia-yiakan badannya, padahal hanya sekedar memakai, menurut perasaannya berserah diri kepada Tuhan.

Hyang Suksma tan munasika, luwih-luwih karepe kang nglakoni, yen dika sedya rahayu, yekti yen menggih arja, lamun dika nemaha pratingkah dudu, sayekti manggih susah, Hyang Suksma amung njurungi.
Terjemahan :
Tuhan tidak akan mengganggu, lebih-lebih atas kehendak yang melakukan, jika tuan bertujuan baik, pasti akan mendapat kebahagian, tetapi jika tuan berbuat salah, pasti akan mendapat kesusahan, Tuhan hanya menyetujui.

Datan keni pinasrahan, mring bilai sakit tanapi pati, yen tan bener pasrahipun, satemah nemu duka, dene siya-siya marang dhewekipun, yen rusak katur Hyang Suksma, yek datan ayun tampi.
Terjemahan :
Tidak boleh diserahi tentang celaka, sakit atau mati, jika penyerahannya itu tidak betul, sehingga mendapat kemarahan, sebab semena-mena kepada dirnya, jika rusak diserahkan kepada Tuhan, pasti tidak mau menerima.

Jer andika kang kainan, yen wis tiwas wong liya kinen tampi, nandhang lara susah ngadhuh, lan ta dikasadhanga, aywa pasrah marang Hyang Kang Maha Luhur, Hyang Suksma tan apa-apa, boya keni dipun tagih.
Terjemahan :
Bukankah tuan yang kurang berhati-hati, jika celaka orang lain disuruh menerima, menderita sakit dan susah mengaduh, sebaiknya tuan rasakan sendiri, jangan menyerahkan kepada Tuhan, Tuhan tidak apa-apa, tidak boleh diminta (bertanggung jawab).

Takdiring Hyang wus ginawa, manut budi obah osiking ati, de ebah osike manus, manut rasa pangrasa, de kang rasa pangrasa iku pan manut, kanyataan kalairan, mungguh kanyataan lair.
Terjemahan :
Takdir Tuhan sudah dibawa, menurut kemauan hati dan pikiran, sedangkan kemauan manusia itu, menurut perasaan, dan perasaan itu menurut kenyataan lahir, kenyataan lahir itu.

Kalamun kirang prayitna, boten wande yekti manggih bilai, lampah paduka punika, nemaha kasusahan, anuruti tembung lamise wong ayu, tan wikan keneng loropan, Gita Prabawa muwus wengis.
Terjemahan :
Kalau kurang berhati- hati, tidak urung pasti mendapat celaka, perbuatan tuan itu sengaja akan menemukan kesusahan, menuruti bujuk rayu wanita cantik, tidak tahu kalau masuk dalam perangkap.

KUTIPAN pupuh diatas mengandung pendidikan budi pekerti sebagai berikut :
Pendidikan budi pekerti yang terkandung dalam Pupuh IV,24-29, menurut ajaran Islam merupakan larangan besar, tetapi dalam hal ini titik tolak pendidikan budi pekerti yang diambil adalah masalah mencuri. Barang apapun yang baik, indah dan enak jika merupakan barang curian tiada harganya juka dibandingkan dengan barang yang jelek atau rendah tetapi barang itu miliknya sendiri. Maksud dan tujuannya adalah mendidik orang agar mensyukuri segala sesuatu yang menjadi miliknya bagaimanapun wujudnya, jangan menginginkan segala sesuatu yang baik atau enak tetapi bukan miliknya, shingga kalau dipaksakan mengakibatkan orang melakukan perbuatan yang dilarang Tuhan.

Pendidikan budi pekerti yang terkandung dalam Pupuh IV,24-29, bahwa orang hidup itu susah, sengsara dan menderita itu adalah perbuatannya sendiri, sedangkan Tuhan itu selalu adil adanya. Perbuatan yang baik akan mendatangkan kebahagiaan dan ketentraman. Orang yang berbuat jahat akan mendatangkan kesengsaraan bagi dirinya sendiri. Dalam pupuh tersebut juga disebutkan bahwa surga dan neraka itu ada pada hati setiap manusia di dunia ini, barang siap yang dalam hidupnya selalu berbuat baik, mulia hatinya, tidak suka berbuat jahat terhadap sesama, hidupnya penuh kebahagian dan dapat menjaga diri dari segala macam godaan yang sifatnya menjerumuskan kedunia sesat, orang yang seperti itu sudah dikatakan hidup di surga. 

Sebaliknya orang yang hidupnya selalu bebuat jahat, suka memfitnah, berbuat dengki terhadap sesama sehingga dikucilkan oleh sesamanya dan hidupnya selalu menderita, orang seperti itu dapat dikatakan hidup di neraka jahanam. Pendidikan budi pekerti disini bukan berarti orang yang kaya identik dengan masuk surga dan sebaliknya orang yang miskin masuk neraka, sebab orang kaya jika perbuatannya jahat dan tidak menjalankan perintah Tuhan itu pun akan masuk neraka.

Perumpamaan Seorang Pencuri

Sebaliknya walaupun orang miskin tetapi perbuatannya baik, suka mengamalkan apa saja dan menjalankan perintah Tuhan dengan sebaik-baiknya, dialah yang akan masuk surga. Untuk jelasnya dibawah ini diberikan satu contoh sebagai berikut :

Ada orang yang belum pernah mencuri, suatu saat terpaksa mencuri karena suatu hal. Setelah mencuri hati kecilnya merasa bersalah dan berdosa dan selalu dihantui oleh rasa berdosa ke mana pun dia pergi. Meskipun tidak ada seorangpun yang melihat perbuatannya dengan pandangan penuduh, sehingga ia merasa tersiksa, tidak ubahnya seperti hidup di neraka karena dikejar rasa berdosa.

Dalam pupuh IV, 55-54) disebutkan dalam rukun Islam, bahwa orang yang masuk surga itu adalah orang Islam yang melakukan shalat lima waktu, mengaji (membaca Al Qur’an) dengan rajin, mengucap sahadat dan berpuasa pada bulan Romadhan. Adapun orang kafir yang masuk neraka adalah orang yang tidak menuruti ajaran Nabi Muhammad saw, meskipun mereka itu mengaku memeluk Islam.

Pendidikan budi pekerti yang terkandung dalam Pupuh IX,27-32, itu adalah tentang letak iman yang ada di jantung, letak akal yang ada di otak, letak kekuatan pada otot dan tulang, dan letak rasa malu ada di mata. Orang yang susah adalah orang yang miskin, dan orang yang bahagia adalah orang yang kaya ada sehat. Yang dinamakan buta itu adalah orang yang bodoh tidak tahu tentang sastra ilmu Tuhan. Pengetahuan atau ilmu cepatnya melebihi putaran dunia, tingginya melebihi langit dan luasnya melebihi dunia, sedang orang yang cerdas itu tajamnya melebihi senjata dan orang yang sabar itu dinginnya melebihi air. Orang yang berpikiran sempit diibaratkan kerasnya melebihi batu. Orang yang pemarah panasnya melebihi api. Dan laki-laki dan perempuan lebih banyak perempuan, sebab meskipun lahirnya laki-laki apabila tidak dapat memenuhi kewajibannya itu bukan laki-laki. Orang mati dan yang hidup lebih banyak yang mati, sebab meskipun hidup jika tidak berakal itu tidak ubahnya seperti orang yang mati. Orang kaya dan miskin itu lebih banyak yang miskin, sebab orang yang kaya kalau tidak tahu tentang kawruh kasunyatan, ia itu tetap miskin dan hidupnya sangat hina. Orang Islam dan orang kafir lebih banyak yang kafir, sebab meski mereka mengaku Islam jika tidak tahu tentang ilmu agama Islam yang sesungguhnya, mereka itu tak ubahnya seperti orang kafir.

Hikmah yang dapat dipetik dari uraian tersebut di atas, bahwa sebagai manusia harus belajar dengan baik dan sabar, tidak berpikir sempit, jangan marah lekas marah, harus dapat memanfaatkan kekayaan dengan sebaik-baiknya, dan harus juga menjalankan agama yang dianut sesuai dengan perintah Tuhan dengan sebaik-baiknya.

Menurut Al Qusyairi alat batin yang terhalus adalah Al sirr. Dengan Al sirr seorang hamba dapat musyahadah (menyaksikan atau melihat) Allah, apabila benar-benar telah jernih. Al sirr menurut Al Qusyairi dapat disamakan dengan telenging kalbu (mata hati terdalam atau rasa) dalam kaitannya dengan sembah rasa dalam Serat Wedatama karya Mangkunegoro IV Pupuh Pangkur bait 13 :

“Tan samar pamoring Sukma, sinukma ya winahya ing ngasepi, sinimpen telenging kalbu, Pambukaning waana, tarlen saking liyep layaping ngaluyup, pindha pesating supena, sumusuping rasa jati”.

Al sirr itu dapat pula disamakan dengan wosing jiwangga (inti ruh) seperti diungkapkan dalam Pupuh Sinom bait 16 :

“Kang wus waspada ing patrap, mangayut ayat winasis, wasana wosing Jiwangga, melok tanpa aling-aling, kang ngalingi kaliling, wenganing rasa tumlawung, keksi saliring jaman, angelangut tanpa tepi, yeku aran tapa tapaking Hyang Sukma”, sesuai dengan penegasan Al Qusyairi “Al sirr althafu min Al ruh” al sirr lebih halus daripada ruh); atau dengan kata lain : sirr itu adalah inti ruh, karena keduanya bermakna “alat batin terdalam”.

Lebih lanjut Al Qusyairi menjelaskan pada bagian lain bahwa “…… seorang hamba yang terus menerus munajat dengan Allah dalam sirrnya ……., maka ia disebut arif dan hal perbuatannya disebut makrifat”. Makfifat, berarti mengetahui Tuhan dan dekat sehingga hati sanubari melihat Tuhan. Makrifat bukanlah hasil pemikiran manusia, tetapi bergantung kepada kehendak rahmat Tuhan. Makrifat adalah pemberian Tuhan kepada sufi yang sanggup menerimanya. Alat untuk memperoleh makrifat oleh kaum sufi disebut sirr.

Pendidikan budi pekerti yang terkandung dalam Pupuh X,7-16, mengenai arti laki-rabi atau bersuami-istri. Yang dimaksud dengan rabi artinya orang laki-laki kawin dengan perempuan dan sebaliknya, dengan tujuan tidak berselisih pendapat, bersatu dalam segala hal yang baik, dan saling harga-menghargai. Sedankang yang dimaksud kalimat sahadat dalam pupuh X adalah suami istri yang sedang ada ditempat tidur. Pendidikan budi pekerti yang dapat ditekankan di sini adalah bahwa sepasang suami-istri bila hendak bersetubuh harus bersepakat, sama-sama berhasrat, dan sama-sama suka. Jika itu diperhatikan maka kebersamaannya akan menyebabkan kebahagiaan dan kepuasan kedua belah pihak, dan jika Tuhan berkenan akan turunlah benih yang dapat menjadi anak. Dalam pupuh tersebut disebutkan bahwa seorang laki-laki berkewajiban memberikan nafkah kepada istrinya, baik lahir maupun batin. Sebaliknya istri wajib mengikuti kehendak suami, setia, berbakti, tidak bohong, berani jujur terhadap suami, dan yang penting harus dapat menjaga rahasia suami, sebab istri adalah wanita atau wadon, artinya tempat menyimpan wadi atau rahasia.

Pendidikan budi pekerti yang terkandung dalam Pupuh XI,23-30, adalah takdir Tuhan itu sudah pasti adanya dan pasti terjadi pada setiap manusia. Manusia diberi kuwajiban berusaha memperbaiki takdirnya, tetapi takdir itu Tuhan juga yang menentukan. Adapun usaha manusia untuk memperbaiki takdirnya itu dengan cara berbuat baik, sebab dengan kebaikan Tuhan akan memberikan pahala. Jika manusia berbuat jahat, jelek atau dosa, maka Tuhan akam memberikan hukuman. Takdir sudah digariskan oleh Tuhan bagi umat-Nya, tetapi takdir itu ditentukan sendiri oleh kemauan dan pikiran manusia. Kemauan dan pikiran manusia itu ditentukan oleh perasaan menuruti kemauan lahir. Jadi dalam menuruti kemauan lahir itu manusia harus berhati-hati, jangan hanya sekehendak sendiri. Orang harus dapat mengendalikan kemauan lahir, kalau kemauan lahir itu baik patut dijalankan, tetapi jika kemauan lahir mengajak dalam perbuatan jelek atau jahat dan diturutinya maka takdir Tuhan juga akan jelek nantinya.

Pendidikan budi pekerti yang terkandung dalam Pupuh VII, bahwa sebagai umat Tuhan menurut ajaran Nabi Muhammad saw, haruslah menjalankan shalat lima waktu, yaitu : Subuh dua rekaat, Luhur empat rekaat, Magrib tiga rekaat, dan Isa’ empat rekaat. Dalam pupuh tersebut diterangkan bahwa sebahyang : (1) Shalat Subuh itu bersujud kepada Nabi Adam yang dianggap sebagai Bapak semua umat di dunia. (2) Shalat Luhur yang disujudi adalah Nabi Yunus, sebagai peringatan kepada manusia jika mendapatkan kesusahan hendaknya ingat kepada Tuhan, seperti pengalaman Nabi Yunus ketika ditelan ikan. Nabi Yunus minta pertolongan Tuhan sehingga terhindar dari petaka itu. (3) Shalat Magrib yang disujudi Nabi Musa, (3) dan Shalat Isa yang disujudi Nabi Isa, karena dianggap sebagai roh Tuhan yang menjelma ke dunia, oleh sebab itu pula Nabi Muhammad menyuruh umatnya bersujud kepada Nabi Isa.

Ajaran yang terkandung dalam pupuh XII, tentang arti ashadu allah ilaha ilallah Muhammadar rasulullah. Dalam pupuh itu juga diterangkan tentang letak nyawa, ada tiga puluh dua yang tersebar di seluruh tubuh ini.

Kabuka warang gung, tumalawung sepa sepi nglindhung, Wisnu Kresna uwus anunggal kajatin, marmenak kapenak lampus, kawengku neng rasa yektos.
Terjemahan :
Terbuka tirai agung, terpukau kosong sepi berlindung, Wisnu Kresna telah nyata bersatu padu, oleh sebab itu lebih enak dan nyaman, karena terliputi oleh rasa sejati.

Rasa Mulya satuhu, kang nduweni dene alamipun, manut karseng Pangeran Kang Mahaluwih, si raga nglakoni dhawuh, wus atas karseng Hyang Manon.
Terjemahan :
Rasa mulia sejati itu, yang sungguh-sungguh memiliki, adapun alamnya menurut kehendak Tuhan Yang Maha Kuwasa, tubuh melakukan perintah, atas kehendak Yang Maha Mengetahui.

Lamun sira tan nggugu, lah mengaa ing langit andulu, dudu sasi iku ingkang andamari, lan srengengene iku dudu, ingkang madhangi sumorot.
Terjemahan :
Jika kau tidak menurut, nah tengadahlah kelangit memandang, bukan bulan itu yang menyinari, dan matahari itu juga bukan yang menerangi, bercahaya.

Tan liya saking suwng, lah suwunge graitanen iku, yen siraasa nyatakken kawruh kang luwih, utamane wong tumuwuh, warneng damar wulan jumboh.
Terjemahan :
Tak lain daripada kosong, nah kekosongan itu renungkanlah, jika kau ingin membuktikan ilmu yang sempurna, keutamaan orang hidup, seperti sinar bulan.

Surya saksine iku, lamun siji wujude Allahu, sipat langgeng nora kena owah gingsir, wulan saksi rasa iku, owah lan gingsir enggon.
Terjemahan :
Matahari sebagai saksi, bahwa satu wujud Allahu itu, sifatnya abadi tidak dapat berubah bergeser, bulan menjadi saksi rasa itu, berubah dan bergesernya tempat.

Bisa nom tuwa iku, iya lintang iku saksinipun, tetep langgeng kawula ingkang saksi, tiga cahyane nggeguwung, seje wujude katonton.
Terjemahan :
Dapat tua dan muda itu, bintanglah yang menjadi saksi, tetap abadinya manusia itu saksinya, berbeda wujudnya kalau dilihat.

Iku ta tandhanipun, kawula gusti miwah rasa jumbuh, beda-beda jinis tan wujud tan sami, lan ora dulu-dinulu, tan tumunggal lan tan tinon.
Terjemahan :
Itu tandanya, manusia dan Tuhan bersatu raga, berbeda jenis, tak berujud dan tidak sama, dan tidak saling berpandangan, tidak melihat dan tidak kelihatan.

Adohe angelangut, luwih parek nanging datan gathuk, sesa-sesa karepe ingkang ngarani, denarani pisah kumpul, denranna parek tan nyenggol.
Terjemahan :
Jauh tanpa batas, meski dekat tak bersentuhan, terserah kemauan yang menyebut, dikatakan berpisah tetapi bersatu, dikatakan dekat tai tak bersentuhan.

Kawula gusti jumbuh, lan rasane apa bedanipun, seje-seje jinis rasa : kawula gusti, denranana tunggal kumpul, denranana seje seos.
Terjemahan :
Kawula gusti jumbuh, dalam hal rasa apakah bedanya?, berlainan jenis rasa kawula : gusti itu, dikatakan tuggal memang bersatu, dikatakan berbeda memang lain.

Ya sira iya ingsun, tunggal rupa sarana wus jumbuh, saksi nyata panitike surya mijil, cahyeng lintang wulan samun, sing haweng srengenge nyorot.
Terjemahan :
Engkaupun juga aku, satu rupa satu rasa telah jumbuh, saksi nyata ditandai dengan ketika matahari terbit, cahaya bitang dan bulan menjadi suram, karena udara sinar cahaya matahari.

Kalihnya lir linimput, kasorotan srengenge sumunu, nging yektine mor surahsa anyorot, wor nunggal cahya tetelu, Allah : Rasul : Suksma jumbah.
Terjemahan :
Keduanya seperti ditutupi, terkena sinar cahaya matahari, tetapi sesungguhnya bercampur bersatu dalam kerahasian menyinari, ketiga cahaya itu berbaur bersatu padu, Allah : Rasulullah dan Suksma jumbuh.

Yen wus srengenge surup, kari wulan lan lintang sumunu, ibarate wong kang merem datan guling, padhang ing rat tan kadulu, rasa lan pangrasa nyarong.
Terjemahan :
Jika matahari telah terbenam, tinggal bulan dan bintang bersinar, ibarat orang memejamkan mata tidak tidur, terangnya dunia tidak tampak, tapi rasa dan perasaan menerawang.

Kari suksma lan Rasul, ingkang ana wit srengenge surup, amung kari cahyanira ingkang maksih, katon dhewe-dhewe wujud, ibarate turu ngorok.
Terjemahan :
Tinggal Suksma dan Rasul, jika matahari terbenam, hanyalah sinarnya saja, yang masih tampak wujud masing-masing, ibarat orang tidur mendengkur.

Supena janma turu, kari rasa pangrasa kang kantun, Allah lawan Rasulullah ambenggangi, mung kari pribadinipun, ingkang dumunung neng kene.
Terjemahan :
Manusia tidur bermimpi, tinggal rasa dan perasaan tertinggal, Allah dan Rasulullah mengitarinya, tinggal pribadinya saja, yang masih ada di situ.

Yen eling janma turu, mendhung lelimengan kang kadulu, sirna mulih mring asale ingkang lami, apan kari asal suwung, mulih mring klangengan jumboh.
Terjemahan :
Jika orang tidur itu ingat, gelap gulita yang terlihat, hilang lenyap kembali ke asalnya yang dulu, sebab tinggal asalnya yang kosong, pulang kembali ke alam baka, jumbuh.

Gita Prabawa saurira, nora susah sira mateni mami, nganggo waos lawan dhuwung, saiki sun wus pejah, guru tiga sugal ing pamuwusipun, amung lagi tatanira, wong mati cangkeme criwis.
Terjemahan :
Gita Prabawa menjawab, tidak usah engkau membunuh aku dengan tombak dan keris, sekarang pun aku sudah mati, ketiga guru berkata kasar, hanya kau yang berkata begitu, orang mati cerewet.

Awake wutuh lir reca, Gita Prabawa wengis denira angling, yen patine kewan iku, nganti rusaking jasat, lamun nganti aking paninireng kayu, yen ilang patine setan, lamun ingsun ingkang mati.
Terjemahan :
Badanya utuh bagaikan arca, Gita Prabawa berkata bengis, jika hewan mati, sampai rusak tubuhnya, jika sampai kering itu matinya kayu, jika hilang itu kematiannya setan, namun jika aku yang mati.

Ora wujud nora ilang, dina iki uga ingsun wus mati iku nepsuku, sakabehe kang salah, ingkang urip budi pakarti kang jujur, pisahing raga lan suksma, kinarya tandha ing lair.
Terjemahan :
Tidak hilang tidak juga berujud, saat itu juga aku sudah mati, yang mati adalah nafsuku, semua yang salah, dan yang hidup adalah budi pekerti yang jujur, pisahnya jiwa dan raga, itu sebagai tanda lahir saja.

Puniku maknane sadat, pisahira kawula lawan Gusti, pisah esah tunggalipun, dadya roh Rasulullah, yen pisah raga lawan suksma iku, pangrasa lan cahya ilang, panggonane ana ngendi.
Terjemahan :
Itu makna sahadat, berpisahnya kawula dan gusti, berpisah sama sekali kesatuannya, menjadi roh Rasulullah, jika sudah berpisah jiwa dan raga itu, perasaan dan cahaya juga hilang, dimanakah tempatnya?.

Pendidikan budi pekerti yang terkandung dalam Pupuh IV,48-62, adalah tahap manusia telah menyatukan diri dengan Tuhan. Dalam pupuh IV disebutkan bahwa jiwa manusia terpadu dengan jiwa alam semesta dan semua tidakan manusia semata-mata menjadi jalan menuju kemanunggalan dengan Tuhan. Orang yang mati telah dikuasai oleh “rasa sejati” dan dunianya menurut kehendak Tuhan, sedangkan tindakan manusia semata-mata hanya menjadi jalan menuju kemanunggalannya dengan Tuhan.

Ajaran yang termuat dalam Pupuh VI,50-52, menguraikan bahwa orang yang mati sebetulnya bukan mati yang sesungguhnya, yang mati itu hanyalah nafsunya, semua yang salah atau perbuatan jahat, dan yang hidup adalah budi pekerti yang jujur. Pisahnya jiwa dan raga telah terpisah maka perasaan dan cahaya pun hilang juga, kemana perginya, ada dimana tempatnya, tiada seorang pun yang tahu.

Pendidikan budi pekerti yang terkandung dalam Pupuh VI,52-53, menyarankan jika orang ingin bersatu dengan Tuhan hendaklah berbuat yang baik, sebab kebaikan itulah yang akan dibawa jika menghadap kepada Tuhan.
…………………………….

Alang Alang Kumitir