Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Juli 2017

Ndeso

Ndeso itu visioner, pasti, mapan, dinamis & bijak.
Modern itu berputar, benturan, pembongkar-pasang, ragu & ramah.

Nah, sekarang kita baru sadar kan kenapa sejak kecil harus ditanamkan tata-krama, bukan dibebaskan lalu memperlebar masalah dimasa depan.

Modernitas itu berpikir mundur, mencari sebab tata-krama, terus berputar & membentuk anomali, bahkan bisa disusupi stratagem.

Ndeso itu ibu dari ilmu sosial sekaligus orangtua dari ilmu pasti, manusia adalah pendampingnya yang menjaga keberadaannya untuk diterapkan.

Modernitas tidak pernah bertanya kenapa 1 + 1 itu harus dipastikan menjadi = 2, tapi anehnya justru dengan lugu justru meragukan sebab timbulnya adab yang rumit, berliku & rentang waktu yang panjang.

Ndeso itu adab yang ditemukan dan matang untuk diterapkan setelah teruji dalam masa panjang dengan beragam keadaan demi rapihnya kehidupan manusia.

Parahnya, civilisasi itu diterjemahkan sebagai peradaban, padahal secara harfiah itu berarti pemasyarakatan.

Human rights diterjemahkan sebagai hak asasi, padahal secara harfiah berarti hak manusia.

Modernitas tidak pernah berpikir kenapa elang mendorong anaknya keluar dari sarang untuk belajar terbang, tapi meragukan akal-nurani dengan memaksanya untuk dapat membiarkan, memaklumkan & mema'afkan manusia dari menanamkan benih kejahatan melalui penjelajahan pengalaman hidup, nir batasan.

Ndeso itu berarti biasa aja, moderat bahkan ilmu terapan yang berwawasan luas, tapi karena ada sentimen, apriori dan kegagalan move on akibat dibenturkan dengan teori dari pengetahuan modern yang lemah premis maka kata ndeso ngalami perkembangan makna.

Ndeso itu berpikir sebelum bicara, dan bicara setelah pekerjaan selesai dengan baik supaya keterangannya bisa jadi ilmu untuk dibagi.

Modern itu bicara dulu sementara pikirannya masih berbentuk kerangka yang jauh belum berkembang, dan hasilnya seringkali tidak sesuai karena harus berhadapan dengan kenyataan lapangan.

Ndeso itu ilmu, modern itu teori.

Akhirnya, disatu titik akan tiba peradaban mencapai masa keemasannya, tapi ada kemudian masa dimana sebuah pondasi peradaban itu akan dibongkar lagi untuk mencari sebab kenapa adab itu muncul, dan itu berarti dengan meruntuhkan kehidupan yang sudah dibangun.

*ini tentang ndeso & modern, bukan perbandingan dengan angkot (orang kota)... menurut sai..ya..aa :)

Saya percaya "sang ndeso".

Sabtu, 25 Juni 2016

Islam Sebagai Hakikat

Islam sebagai hakikat

Adalah hal yang sangat meresahkan bila semakin lama kita umat muslim hanya dikendalikan oleh tokoh/pemuka agama yang menggerakkan hati kita untuk membela agama tapi hanya memberikan pengetahuan Islam hanya sebatas kulitnya saja, tanpa hakikat tanpa isi.

Mengatasnamakan agama padahal Islam bukan sekedar agama, karena istilah agama bukan berasal dari Islam melainkan bahasa Jawa saja, Islam adalah ad-din.

Dengan dalih jangan memilih pemimpin non-muslim, padahal kita hanya membayangkan bahwa yang dimaksud adalah orang yang tidak beragama Islam atau ber-KTP Islam, dan itu adalah propaganda kulit Islam saja.

Sekarang, marilah kita masuk kedalam Islam dalam hakikat, seperti kita mengklaim bahwa Nabi Adam, Musa, Isa dan lainnya adalah seorang muslim dengan argumentasi dari sudut pandang yang hakiki, bukan sekedar kulit saja akan tetapi juga mental/jiwa ke-Islaman, Islam yang juga sesuai dengan makna harfiahnya secara bahasa, sejahtera atau yang membebaskan.

Din atau dien, دين (Bahasa Arab), דין (Bahasa Ibrani) adalah sebuah kata yang umumnya terkait dengan Islam, tetapi juga digunakan dalam Yudaisme dan Kekristenan Arab. Istilah ini sering diterjemahkan sebagai "agama", meskipun dalam bahasa Arab tidak memiliki arti yang pasti.

Apabila disebutkan sendiri tanpa diiringi dengan kata iman, maka pengertian Islam mencakup seluruh agama, baik ushul (pokok) maupun furu’ (cabang), juga seluruh masalah ‘aqidah, ibadah, keyakinan, perkataan dan perbuatan. Jadi pengertian ini menunjukkan bahwa Islam adalah mengakui dengan lisan, meyakini dengan hati dan berserah diri kepada Allah Azza wa Jalla atas semua yang telah ditentukan dan ditakdirkan.

Apabila kata Islam disebutkan bersamaan dengan kata iman, maka yang dimaksud Islam adalah perkataan dan amal-amal lahiriyah yang dengannya terjaga diri dan hartanya, baik dia meyakini Islam atau tidak. Sedangkan kata iman berkaitan dengan amal hati.

Jika kita perhatikan dalam kamus, arti kata islam tidak keluar dari makna inqiyad (tunduk) dan istislam (pasrah). (al-Mu’jam al-Wasith, 1/446).

Secara bahasa bahwa Ad-Dien memiliki 4 makna yang saling berkaitan, yaitu:

1. As-Shultoh (kekuasaan)
2. Al-Khudu’ Lihadzihis Shultoh (ketundukan kepada kekuasaan)
3. An-Nidhom almunazzalu min hadzihis Shultoh (Peraturan yang dikeluarkan oleh kekuasaan)
4. Al-Jaza’ liman tho’a waman asho’ (Balasan dari kekuasaan terhadap yang taat atau yang membangkang).

Dapatlah kita tarik substansi Ad-Din adalah lembaga kekuasaan, yang didalamnya ada hukum / undang undang, ada masyarakat yang loyal atau tunduk kepada kekuasaan dan ada mekanisme pembalasan bagi yang mengikuti dan juga bagi yang membangkang.

Bila demikian, maka bisa jadi kita orang Indonesia dipecah-belah oleh Islam itu sendiri, pemimpin kulit yang sebenarnya lupa untuk memahami agama akan tetapi mempersenjatai diri dan jiwanya dengan ageman (Jawa) yang bukan ad-din, agama ibarat ageman atau pakaian saja, ageming aji yang hanya dianggap berharga dan berhenti sebagai anggapan atau opini belaka, Islam kulit yang mempermainkan hati/perasaan umat Islam awam secara merakyat dengan tanpa sadar justeru menjatuhkan Islam dalam hakikatnya sendiri.

Sekarang, amat sulit menemukan tokoh muslim yang mempunyai pemahaman agama dan kenegaraan yang mumpuni untuk memimpin kita semua, tapi bukan berarti tidak ada, maka marilah kita temukan dia.

...dan ini pun hanya sekedar opini yang sangat mungkin berseberangan dengan pemahaman pikiran lainnya.

(Initial AP on faith movement, a step in the destiny)

Rabu, 27 Agustus 2014

api revolusi

Api Revolusi

revolusi nggak punya tempat pendaftaran dan revolusi nggak pernah mendaftarkan diri pada sekolah sejarah, ia terjadi memang melalui proses tapi terlalu singkat, dia nggak punya waktu untuk jadi murid, dia adalah guru rahasia buat masa depan, dia ditelusuri untuk dicatat dan bukan mencatatkan diri.

membaca literatur pendidikan formal, motivasional, sejarah dan biografi itu hanya sekedar membuka mata dan melihat cahaya diluar.

tapi dengan menambah literatur sastra, filsafat, agama, matematika, hukum, bahasa dan psikologi maka kita akan tau darimana api sumber cahaya itu berasal.

Dan "kita lah api itu"
oleh: Agung Pramono

Selasa, 26 Agustus 2014

milenia darwinis

Milenia Darwinis

1. bagaimana kalo saya berteori dan bilang, "tidak ada hal seperti evolusi manusia dari kera melainkan kera pernah memiliki keturunan yang mengidap syndroma erectus complexy?"
2. bagaimana kalo menurut teori saya, "pertemuan bangsa cro-magnon dengan naenderthal itu terjadi di wilayah yang sekarang disebut Cina?
apakah salah saya berteori?

tarjan
kenapa kita selalu "cuma membaca buku dan tidak bergerak untuk meneliti sendiri?"
mengapa kita jadikan buku hanya sebagai pedoman dan bukan sebagai pemicu untuk membuktikan kebenarannya, sehingga apabila terdapat kekeliruan maka kita lah yang pertama kali mengetahui dengan upaya kita. Sendiri dan bukan mengkritiknya berdasarkan buku lainnya.
kenapa buku-buku selalu kita jadikan kiblat pengetahuan dan bukan sekedar sebagai pembanding dengan pengetahuan serta kenyataan yang kita punya?
kenapa kita konsumtif dan bukan produktif?!

(sumber: pribadi)


Kopizine: theory

Selasa, 16 Oktober 2012

Bambu Runcing

Bambu Runcing

Pada waktu itu Indonesia belum memiliki Tentara Nasional, yang ada hanyalah Badan Keamanan Rakyat/Tentara Keamanan Rakyat (BKR/TKR) dan berbagai laskar serta pasukan pemuda/pelajar.

Serangan total dilakukan tanggal 28 Oktober 1945, pukul 4.30 pagi. Delapan pos pertahanan Inggris diserbu oleh sekitar 30.000 rakyat bersenjata, dan masih ditambah sekitar 100.000 senjata bambu runcing, clurit, pedang, golok, dan sebagainya.

Tercatat sekitar 60 pasukan/laskar yang ikut dalam penyerbuan terhadap tentara Inggris pada 28 Oktober 1945 tersebut. Hampir seluruh sukubangsa yang ada di Indonesia terwakili oleh para pemuda yang tergabung dalam berbagai pasukan/laskar, antara lain Pasukan Pemuda Sulawesi, Pasukan Pemuda Kalimantan, Pasukan Sadeli Bandung, Pasukan Magenda Bondowoso, TKR Mojokerto, TKR Gresik, Pasukan Sriwijaya (sebagian besar berasal dari Aceh dan Batak), Pasukan Sawunggaling, Barisan Hizbullah, Laskar Minyak, Pasukan TKR Laut, Pasukan BKR/TKR Morokrembangan, Pasukan BKR Kereta Api, Pemuda Ponorogo, Pasukan Jarot Subiantoro Pemuda Banten, Corps Pegadaian, Corps PTT, Pasukan Pelajar (TRIP).

Banyak pemuda-pemuda dari Papua, Maluku dan Pulau Rote tergabung dalam berbagai laskar, dan bahkan ada Pasukan Narapidana Kalisosok (penjara di Surabaya).

soempah pemoeda
Dengan bersatunya para pemuda Indonesia dalam perlawanan terhadap tentara Sekutu pada 28 Oktober 1945 merupakan perwujudan dari semangat Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.

Peristiwa heroik ini terjadi tepat 17 tahun kemudian.

Suatu kebetulan? Atau suatu predistinasi?

Setelah digempur total selama sehari-semalam, tentara Inggris yang tidak dipersiapkan untuk suatu pertempuran, mengibarkan bendera putih, minta berunding.

Pada tahun 1975, seorang perwira Inggris, Kapten R.C. Smith, dalam suratnya kepada J.G.A. Parrot menuliskan, bahwa Brigjen Mallaby menyadari, apabila pertempuran dilanjutkan, mereka akan disapu bersih (wiped out).

Bahkan mengenai dahsyatnya gempuran pemuda Indonesia di Surabaya tersebut, Kolonel A.J.F. Doulton, dalam bukunya, The Fighting Cock: Being the History of the Twenty-third Indian Division, 1942-1947, Aldershot: Gale and Polden, 1951, menulis: Perlawanan heroik dari tentara Inggris hanya akan berakhir dengan musnahnya Brigade 49, kecuali ada seorang yang dapat mengendalikan nafsu rakyat banyak itu. Tak ada tokoh seperti itu di Surabaya dan semua harapan tertumpu pada pengaruh Sukarno.

Menyadari bahwa apabila pertempuran dilanjutkan hanya akan mengakibatkan kehancuran total Brigade 49, malam itu juga, tanggal 28 Oktober 1945, mereka menghubungi pimpinan Republik di Jakarta.

Inggris tidak dapat segera mendatangkan bantuan pasukan, baik dari Brigade Bethell di Jawa Tengah yang juga sedang menghadapi perlawanan rakyat Indonesia, apalagi dari Malaya, yang akan memerlukan waktu beberapa hari, sedangkan keadaan Brigade 49 di Surabaya sudah sangat kritis.

Tak ada jalan lain, selain meminta bantuan pimpinan Republik di Jakarta, untuk menyelamatkan nyawa ribuan tentara Inggris yang sudah terkepung di pos-pos pertahanan mereka di dalam kota Surabaya.

Pimpinan tentara Inggris menilai, situasi di Surabaya sangat mengkhawatirkan bagi mereka, sehingga Presiden Sukarno yang sedang tidur, didesak agar segera dibangunkan.


(sumber: http://osdir.com/ml/culture.religion.healer.mayapada/2006-10/msg00259.html)


Kopizine: Oktober Sakti

Senin, 05 Maret 2012

si Bijak

si Bijak

Aku nggak berani nyimpulkan tapi aku tau persis dari apa yang aku alamin sendiri bahwa orang bijak itu bukannya sedikit bicaranya, mereka samasekali nggak hemat dalam kata-kata, tapi mereka ikhlas-tulus, polos, apa adanya.

Saat mereka bicara atau berbincang kita akan lebih banyak membela diri sementara kita sendiri tau bahwa kita telah dibunuh oleh kalimatnya yang baik dan terarah, sesuai topik dan tidak keluar jalur.

Kita seringkali merasakan kematian disetiap topik yang kita ajukan, kalimatnya begitu hidup dan mengalir tanpa argumen keras, hanya logika dan persamaan… juga jendela. Semuanya yang disampaikan… hampir semua yang disampaikan mudah dicerna sesuai dengan bahasa yang kita ngerti.

Banyak pintu diri yang sebelumnya kita tidak tau bahwa kita memilikinya dan selalu kita biarkan tertutup dan akhirnya bisa dibuka melalui kalimat dalam jawaban maupun penjelasannya.

Kita akan tau sebenarnya apa yang selalu kita lakukan dan apa yang kita katakan, baik atau tidak.

Bersahaja, mungkin itulah istilah yang terdekat… tapi bukan hemat kalimat.
Tapi sadarkah kita bahwa sebenarnya kitalah yang berhasil memadatkan kalimatnya, merangkainya jadi bagian kecil yang merupakan rangkuman dari keseluruhan pemahaman si bijak, kita nggak sadar kalo kita punya kelebihan dibanding dia.

Karena itulah si bijak seringkali tersenyum kepada kita.
oleh: Agung Pramono

Tesa

Tesa

Seseorang yang bermain dengan penilaian, kesimpulan dan keputusan adalah karena dia belum mengenal Tuhannya, atau sebaliknya dia tau janji Tuhannya benar.

Seharusnya hanya hipotesa, karena akan selalu ada antitesa: demikian kata para bijak.

Cantik bukan? Tesa.

Bukan tesis yang merayap seperti ular dengan desisnya, dia yang dengan taring berbisanya akan mematuk setiap sesuatu yang dianggapnya sebagai ancaman atau pengganggu.

Hanya anggapan karena dia tidak mempunyai intuisi kecuali instinct dan tanpa niat-tujuan kecuali pertahanan.

Namun, korbannya tetap mampu bergerak untuk hanya sekedar mengalirkan darah keseluruh tubuhnya dan… mati.

Ada saat dimana ular ingin menjadi manusia tapi ular tidak akan pernah tau apa yang sedang terjadi, dia hanya hidup sebagaimana adanya.
oleh: Agung Pramono

Jumat, 02 Maret 2012

monologue cinta

monologue cinta

Sebuah ungkapan yang tulus, gue pikir pernyataan semacam itu (cinta) cuma sekedar keinginan belaka yang butuh wadah untuk menampung wujud gejolak yang sedang muncul pada saat tertentu aja, atau sekedar niat nggak beralasan yang dipaksakan kemudian dihasut oleh rasa penasaran supaya dapet pelampiasan.
Kissing, necking, petting, intercourse (KNPI) adalah kegiatan yang seringkali ngorbankan sesuatu yang berharga dari diri (dan biasanya belum disadari), kegiatan biologis (seksual) dengan dalih cinta yang seharusnya terhormat.

Kenapa kita enggak ngerasa pernah sedikit pun untuk sibuk nyoba nemukan terjemahan dari serangkaian perasaan yang menghanyutkan seperti cinta, sayang, suka atau tertarik? Kalo boleh lancang, sekarang kita coba terjemahkan secara sederhana aja, terserah mau analogis atau pun yang asosiatif, yang penting sambil nyelami pengalaman rasa yang sempat dan bahkan mungkin sering timbul dari suatu tempat di dalam diri kita – minimal untuk diri kita sendiri lah.

Mungkin kita pernah punya barang yang biasa kita bawa hampir kemana pun kita pergi dan harus ada nggak peduli apa kata orang? Waktu kecil atau bahkan sekarang ini – dia amat berarti buat kita, dan suatu saat dia nggak ada maka kita akan terus nyari dan berusaha ngingat di mana terakhir kali kehilangan dia. Meski pun ada orang yang menghibur dengan nyarikan gantinya, kita nggak mau atau sulit untuk nerima karena rasa kehilangan itu, meski pun juga gantinya itu adalah dalam bentuk dan rupa yang sama persis, nggak bisa digantikan. Hal yang seperti itu bukan cinta, tapi rasa sayang.

Atau ada saat kita pingin banget terhadap sesuatu untuk kita miliki, dan akan kita ambil setiap apa saja yang kita inginkan karena ia dapat menjadi cerminan atau mewakili diri kita ini, kemudian kita kumpulin sebagai sesuatu yang bias dibanggakan sendiri, yang ini juga bukan cinta, tapi suka.

Contoh lainnya, ketika kita udah memiliki suatu benda akan tetapi di luar sana ada yang kita nilai lebih baik dari yang udah ada sama kita dan semakin keras usaha kita untuk ngedapatkannya karena mungkin banyak persaingan dan menilai dengan tawaran yang cukup tinggi, sepertinya cuma ini yang bisa menuhi kepuasan dan ngeredakan rasa penasaran kita – yang kayak gini hanyalah ketertarikan belaka.

Cinta itu hidup, dia punya alur dan proses sendiri untuk mencapai kita. Nggak ada orang yang bias nerjemahkannya dalam serangkaian kata atau kalimat dengan tepat, apalagi benar. Ia nggak bertempat di pikiran kita karena itulah ia nggak bias dirumuskan dengan uraian secara lisan, gambar, isyarat atau tulisan, ada banyak yang ingin menyampaikannya dengan pemikirannya masing-masing, tapi omong-kosong… terlalu murah, rendah.

Dan oleh karena pendapat dan kesimpulan yang ceroboh dari orang-orang seperti itu, kepekaan kita jadi berkurang saat cinta benar-benar mendekati kita.

Apakah memang manusia itu udah kehilangan kepekaan semacam ini? Saat sensualitas mengganjal dibenaknya yang dengan sebuah garis khayal udah dapat menyampaikan pesannya pada tubuh sebagai kenyataan, atau sat erotica tersaji tepat di hadapan kita maka ia berarti udah mempunyai cukup kesan sebagai sentuhan yang menjalari tubuh.

Paling jauh yang bias diungkapkan hanya sekedar sifat dari cinta dan bukannya cinta itu sendiri, yang merupakan inti dari arah pembicaraan yang sebenarnya – terlalu memaksa untuk dijadikan dasar bagi terjalinnya sesuatu hubungan.

Sama seperti bila kita ingin menguraikan yang namanya rasa, ia nggak bisa dipisahkan dan sebagaimana kata itu sendiri yang mewakili. Seperti misalnya manis, pedas, asam, asin dan lainnya. Atau gue yakin kita akan mendapat hasil yang serupa saat kita sama-sama menyatakan rasa dari gula, mungkin masih ada perbedaan subyektif terhadap porsinya tapi tetap kesamaan itu terjadi.

Atau mungkin terhadap rasa panas sebagai contoh lainnya? Apakah yang akan terjadi pada kita itu berbeda? Kalo begitu apa betul kita punya perbedaan tentang rasa cinta? Gue rasa enggak, seperti gula itu tadi, tambahin aja gula sampai rasanya pas bagi kita (tapi bukan berarti kalo dalam hal cinta itu berarti nambahkan perilaku seksual sebagai hal yang subyektif supaya bisa disebut cinta juga, tapi mungkin nambahkan kepercayaan batiniah).

Kita nggak pernah ngakui kalo cinta adalah satu rasa yang nggak akan pernah bisa diterjemahkan dalam bentuk lisan atau tulisan bahkan gerak sekali pun – semuanya jadi subyektif banget, dan ini merupakan hal yang dalam perkembangannya akan menjadi hal negative dan cenderung criminal. Bahkan menurut gue ia erat berhubungan dengan Tuhan, rahasia yang selalu dengan sengaja ingin kita rumuskan dan diuraikan melalui sebuah gambaran pemikiran manusiawi yang terlalu sederhana.

Padahal sebetulnya kitalah yang nggak ingin punya masalah atau nggak mau keberatan, jadinya merasa harus menjawab semua yang mengganggu pikiran kita untuk sekedar menghibur atau ngilangin rasa penasaran yang berkepanjangan tanpa ujung-pangkal.

Entah kapan pastinya bahwa cinta itu dikelompokkan ke dalam beberapa jenis seperti cinta orang-tua, cinta kekasih, cinta pasangan hidup, cinta Tuhan dan lain sebagainya. Padahal mereka adalah suatu keadaan yang sama, titik berat kata-lah yang memberikan perbedaan sudut pandang dan perlakuan. Dan secara umum, hal tersebut dikelirukan, salah-kaprah.

Kita selalu bertumpu pada kata-kata yang mengikuti kata cinta, yang sebetulnya mereka hanyalah obyek belaka, perilaku yang kita tunjukkan saat kita dipenuhi oleh perasaan cinta akan bersifat sama dengan pola yang berbeda.

Yang pasti, ia bertempat di lubuk hati terdalam yang disebut oleh para pemikir berat sebagai misteri terdalam, dan memang dengan kenyataan yang seperti itu kita manusia yang ngerasa punya hak atas rasa itu dan bertindak sebagai pencinta akan menolak idea ini mentah-mentah.

oleh: Agung Pramono

Kamis, 22 September 2011

Gafni si Nabi(?) erotika

They wove bright fables in the days of old, When reason borrowed fancy's painted wings; When truth's clear river flowed o'er sands of gold, And told in song its high and mystic things! And such the sweet and solemn tale of her The pilgrim heart, to whom a dream was given, That led her through the world,– Love's worshipper, – To seek on earth for him whose home was heaven! And that bright spirit of immortal birth; Until her pining soul and weeping eyes Had learned to seek him only in the skies; Till wings unto the weary heart were given, And she became Love's angel bride in heaven (T. K. Harvey)

GAFNI si Nabi (?) Erotika

Eros, erotik, erotisme. Tiga kata yang memiliki akar dan nuansa yang sama: gelora semangat purba yang atraktif dan menggoda. Kata Gafni, eros adalah energi vital yang suci. Eros dan spiritualitas ternyata berkaitan erat secara mendalam. Maka, hidup yang erotik adalah hidup yang sakral. Tanpa eros cuma topeng-topeng saja yang membebani.

Hidup tanpa eros sepi dan kosong, meski terlihat sibuk, sesungguhnya aktivitas non-erotik itu adalah sebuah tarian hampa, orang mencari berbagai jenis gratifikasi seperti pesta narkoba, seks suka-suka, atau kekerasan massal bergemuruh. Namun, lagi-lagi, sebenarnya tak ada pesta, tak ada sukacita. Sebab ternyata, usai acara, semua pemesta kembali ke dunia nestapa.

Gafni memberi metafora. Seekor lebah terperangkap dalam botol. Dari luar, ia tampak menari-nari penuh gairah, dari sisi ke sisi. Ia terbang meliuk-liuk, dari dasar ke puncak. Namun, dari dalam sungguh malang. Sebenarnya tak ada tarian gembira. Tak ada liukan bergairah. Yang ada cuma usaha tanpa harapan. Pelan tapi pasti, sang lebah mati perlahan. Tercekik lunglai kehabisan oksigen. Kata Gafni, begitulah gaya hidup tanpa eros yang dilakoni individu, keluarga, dan organisasi: palsu, menipu, lalu mati pelan-pelan.

Tapi, bagai nabi, Gafni berjanji. Sesungguhnya kehidupan ini menawarkan kesembuhan bagi luka-duka-nestapa kita. Maka, jangan pedih lagi sebab tersedia senar bagi getar-getar ekstasi surgawi. Jangan perih lagi sebab terbuka akses bagi arus sukacita ilahi. Jangan sedih lagi sebab ada tarian baru: tarian eros yang penuh gairah dan cinta!

Siapakah Marc Gafni yang piawai berkata-kata indah mencekam ini? Marc Gafni dianggap sealiran dengan guru-guru spiritual dunia seperti Jalaludin Rumi, Scott Peck, dan Thomas More. Ciri utama mereka bukan fundamentalis bukan pula New Ager, tapi lebih bersifat ekumenis. Artinya, mereka berakar kuat dalam tradisi agama masing-masing, tapi cerdas menyapa jiwa umat dari berbagai agama lain, kita merasa terterangi oleh filsuf cerdas yang bijak bestari.

Lahir dan besar di Massachusetts, Amerika Serikat, Rabbi Gafni memiliki gelar tertinggi di bidang filsafat. Orang disadarkan bahwa pesan-pesan teks-teks purba tersebut ternyata sangat relevan bagi kehidupan modern.

Pindah ke Israel, Gafni mendirikan Bayit Chadash, sebuah padepokan spiritual yang mendedikasikan diri pada renaisans Yudaisme. Gafni juga adalah dekan dari Melitz Beit Midrash, sebuah think-tank yang berwatak pluralistik dan salah satu lembaga pemikiran tertua dan paling prestisius di Israel. Dia juga mengarang dua buku best-seller berbahasa Inggris tentang filsafat dan teologi, bukan novel tentang kisah cinta kawula muda.


Wujud sang eros
Dalam bahasa Ibrani, Eros adalah Shechinah, secara spiritual dipahami dan dialami sebagai Sang Feminin Agung. Bedanya, dalam konsepsi Yunani, eros berkarakter maskulin. Dikenal sebagai dewa kehidupan, cinta dan seks, Plato menyebutnya love plus.

Dalam spiritualitas Ibrani, yang erotik tidaklah semata-mata sinonim dari yang seksual, tetapi seluruh ekspresi kegairahan yang berkarakter ilahi dari dalam hati manusia melalui seksualitas. Secara umum eros adalah tarikan magnetik yang mengikat seluruh ciptaan dengan saling menghasrati pada elektron dan proton sehingga atom tercipta, pada sepasang kekasih sehingga anak terlahir, atau pada hati para mistikus sehingga ekstasi terjadi.

Namun, berabad-abad kemudian, kata erotik cuma berasosiasi dengan seksualitas saja, terjadi penyempitan makna. Dalam terminologi mistik Ibrani, disebut sebagai eros yang terbuang atau Shechinah dalam pembuangan. Istilah terbuang dan pembuangan diambil dari pengalaman sejarah bangsa Israel kuno yang pernah ditaklukkan dan ditawan Nebukadnezar, raja Babilonia. Bangsa yang terbuang merasakan hidup yang sepi, kosong, dan sesak, sehingga tak dapat berekspresi secara memadai.

Ke mana Shechinah atau eros terbuang? Jawabnya, ke wilayah seksual. Sekarang apa jati diri eros yang sejati itu, siapakah dia sesungguhnya?

Pertama, eros berarti berada di dalam. Terlibat secara erotik berarti masuk jauh ke dalam, terlibat total secara mendalam. Maka, semua aktivitas di mana kita mampu tenggelam total di dalamnya. Pada saat itu saya menyatu total dengan apa yang saya kerjakan. Saya bukan lagi penulis yang bersusah payah menulis tetapi telah lenyap menyatu dengan kegiatan menulis dan tulisannya. Saya adalah tulisan saya, dan tulisan saya adalah saya. Sungguh, eros adalah sumber kenikmatan tertinggi yang suci.

Kedua, eros berarti hadir sepenuhnya. Hadir berarti tampil penuh konsentrasi dalam sebuah percakapan atau kegiatan sehingga kita mampu memetik sukacita dan martabat darinya. Eros adalah kemampuan mengakses keabadian yang terkandung pada sebuah momen, dalam waktu yang serasa berhenti, saat semua momen-masa-lalu dan momen-masa-depan menyatu lebur dalam sebuah kekekalan subyektif.

Ketiga, eros adalah hasrat atau keinginan. Dalam Yudaisme, hasrat, keinginan, dan kerinduan adalah ihwal yang suci. Eros adalah hasrat menjadi, memperoleh, dan menikmati. Ketika hasrat yang autentik sudah tak ada lagi, maka itulah apatisme sejati. Orang demikian sedang menuju mati.

Keempat, eros ialah kesalingterhubungan dengan semua kehidupan. Rindu, keinginan dan hasrat selalu membisikkan bahwa kita saling terhubung. Kata religi (agama) berasal dari bahasa Latin, ligare, artinya hubungan. Gafni menyebut ajaran baru tentang eros ini sebagai tantra Ibrani. Dalam bahasa Sanskerta, salah satu makna kata tantra ialah memperluas. Jadi tantra Ibrani berarti memperluas dimensi eros, melampaui yang seksual, ke semua wilayah nonseksual kehidupan ini.


Ero-fantasia
Satu kualitas inti dari eros ialah imajinasi. Keistimewaan imajinasi terletak pada kemampuan memberi bentuk pada kebenaran-kebenaran tinggi yang berasal dari realitas ilahi. Bahasa dan rasio tak memadai melakukannya. Namun, imajinasi mampu. Dan bagaikan nabi, imajinasi akan membawa pesan-pesan ilahi, berbicara, dan bernubuat kepada dan melalui kita. Erotisme berimajinasi sudah terbuang ke wilayah seksual. Orang umumnya mudah berfantasi seksual, tapi sangat sulit berimajinasi di wilayah nonseksual. Artinya, erotisme berfantasi telah impoten pada arena-arena lain kehidupan ini di luar yang seksual.

Seperti eros, fantasi pun telah terbuang ke lembah seksual. Karenanya, kita pun kehilangan kemampuan membuat tampak, membayangkan, mengimajinasikan, dan mengembangkan visi-visi yang agung dan orisinal di bidang sosial, ekonomi, dan politik. Pemiskinan imajinasi yang erotik adalah terbuangnya Shechinah.

Kadang ini berarti meninggalkan kampung halaman dan merantau ke negeri orang. Namun, perantauan sejati tak harus berarti perpisahan dramatik dengan rumah dan masa lalu kita. Ia lebih merupakan perantauan imajinasi. Imajinasi adalah perkakas untuk merancang masa depan yang secara radikal berbeda dengan masa lalu dan hari ini. Hanya dalam fantasi dan reimajinasilah kita dapat mengubah realitas kita. Inti hampir setiap krisis adalah sebuah kegagalan berimajinasi.

Khidmat eros
Dalam sejarahnya, terutama di masa lampau, eros purba yang dipraktikkan bangsa-bangsa kafir tampil dalam bentuk ritus-ritus tanpa etika, di mana pada puncak ekstasi ibadah mereka, manusia, terutama anak-anak, dikorbankan di atas mezbah-mezbah para dewa yang diiringi dengan pesta orgial yang dahsyat.

Yahwe melalui nabi-nabiNya selalu melarang orang Israel mengikuti ibadah-ibadah demikian. Namun, lebih banyak tak berhasil. Sejak Salomo sampai pada waktu pembuangan ke Babel, pada sebagian besar kurun sejarah itu, mereka terpengaruh dan terjatuh ke dalam ibadah-ibadah kafir yang dicirikan oleh erotisme purba itu. Barulah sejak kembali dari Babel diadakan reformasi keagamaan dan sosial di bawah pimpinan Esra dan Nehemia.

Gafni mengibaratkan moralitas eros sebagai lingkaran dan moralitas etika sebagai garis. Dalam lingkaran murni, yaitu eros rendah, terdapat energi purba yang dahsyatnya tak mungkin dilawan justru karena dalam pusaran ekstasi eros tersebut orang mengalami keutuhan yang menyeluruh secara dahsyat. Sebaliknya moralitas garis, yaitu moralitas hukum dan etika, yang sebenarnya bertentangan dengan nature kemanusiaan kita, akan selalu gagal memenuhi tuntutan kontrak-kontraknya. Jadi, bagaimana sebenarnya hubungan antara eros dan etos? Jawabnya, seperti hubungan dua wajah koin yang sama, jiwa manusia pun selalu merindu sangat berat pada eros, selamanya.

Agar etika bisa dahsyat dan berwibawa, ia harus merupakan pengejawantahan erotik dari diri ilahi kita, bukan lawan dan penolakan. Etika akan mati tanpa eros dan eros tidak bisa hidup tanpa etika. Tujuan akhirnya adalah integrasi. Yang erotik dan yang etis, lingkaran dan garis, harus menyatu-padu sebagai ekspresi total kemanusiaan kita dalam lingkungan kehidupan ini. Dengan demikian, kita dimungkinkan menciptakan suatu masyarakat yang dicirikan oleh keadilan yang erotik, kebenaran yang erotik, dan kebajikan yang erotik.


(artikel dan gambar di edit dari berbagai sumber: wiki, dunia esai, catatan pribadi AP dan lain-lain koleksi)

terhadap Gafni

terhadap Gafni

“ah, terlalu cepat dia berkata, andai saja Gafni berpikir panjang tentu dia akan menahannya sementara waktu, kenapa dia membuka kembali lembaran shechinah?”
“mereka yang mendengar tentu teramat menerima, apalagi dalam keadaan sakitnya atau saat bodohnya, sementara belumlah mereka mendapatkan penawar bagi sakitnya”

“meski haruslah aku mengakui bahwa gairahlah yang dapat membukakan banyak kesenangan, keutuhan hasrat untuk menerima batas dunia yang seadanya, di sini dan saat ini saja”

“intisari kehidupan tidaklah lagi memiliki kesatuan pandang”

“tentang cinta, mungkin nanti Adam yang akan menyampaikan tentang kerugian yang kita dapat dari menukarkan surga dengan dunia kita”

“apa yang terjadi saat lembar shechinah terbuka? Semua, setiap orang mengadakan perburuan orgasme, yang sakit bergegas meredam deritanya dengan syahwat”

“malah jadi sekedar pelampiasan, pemuas nafsu yang dimaklumi, beristirahat dari ketegangan bumi, merumuskan sebuah kesenangan yang dapat mengimbangi kejenuhan rutinitas hidup, membangun surga dunia”

“semuanya memang bergairah, penuh hasrat, sayangnya tak ada satu pun suka cita penuh kasih dan pengenalan atas pemberi, penerima dan pusat perhatian”

“entahlan bila berdosa, yang kulihat hanya kekosongan, sia-sia, dan terkutuk”

“menikmati setiap keistimewaan, merasakan sensasi dari tiap keberadaan. Memang ia tak akan dibatasi oleh rutinitas peribadatan, melainkan lebih sempit, dan bahkan jauh lebih cenderung gelap. Yaitu dibatasi oleh anggapan belaka, ditingkahi dengan pikiran duniawi untuk menggambarkan keadaan surgawi. Ah, Gafni – lugu sekali engkau”

“Gafni, engkau malah menyanjung mahluk-mahluk angkuh dan bodoh. Lihatlah mereka, mengumbar nafsu, merayakan kesenangan, lebih hebat dari hewan tingkat rendah yang mereka kira leluhur, nenek moyang dari yang tinggi”

“Gafni, Gafni. Banyaklah yang tak berhasil, semuanya kembali purba. Engkau tahu itu, engkau simpan lembar sejarahnya, bukan? Atau, inikah yang memang kau inginkan?”

“Gafni sahabatku, bagaimana mereka akan mempertanggungjawabkan lisan, niat, dan perbuatan? Sementara engkau menyampaikan tafsir bahwa dosa adalah tentang keterpisahan dan kesendirian, rasa kesepian”
“tentu tidak akan bahagia nantinya. Bukankah persetubuhan adalah juga tentang kedekatan, bahkan tak berjarak?” “bukankah perzinaan juga tentang pelaku yang lebih dari satu?”

“ah, sahabat – engkau singkirkan perihal ikatan kesucian dari benak mereka. Mereka merasa menang, mereka merasa beralasan, dan mereka kini merasa memiliki seorang pembela yang hebat. Dan mereka telah memiliki dasar pemikiran untuk dimaklumi”

“akhiri kesendirian, jangan asingkan diri, bukalah pintu hati untuk yang lain, berbagilah dengan sesama. Tubuh adalah dinding pemisah yang harus diruntuhkan, karena ia adalah tipuan bagi indera, yang nyata hanyalah rasa yang hanya bisa dijadikan dengan peleburan. Indah sekali Gafni, mengharukan dan tak bisa disangkal”

“sadarkah engkau? Oh ya, tentu tidak, sedangkan engkau kini dalam puncak gairah menuju orgasme, ekstase.


oleh: Agung Pramono



Senin, 19 September 2011

Identifikasi Seksis

Identifikasi Seksis

S aya berusaha melihat dari sudut pandang yang berbeda secara obyektif mengenai pendapat yang menyatakan bahwa “perempuan mempunyai keterbatasan secara fisik”, sementara di sisi lainnya ada pernyataan bahwa perempuan terlahir dengan hak-hak yang sama dengan laki-laki. Untuk mempunyai kekuasaan atas wacana seksualitasnya sendiri atau lebih tepatnya perempuan lah yang berkompeten atas tubuhnya sendiri sehingga mempunyai kebebasan dalam berekspresi bersama tubuhnya itu. Kalaupun ada pertanyaan tentang siapa sebenarnya yang paling berhak untuk memberikan penilaian terhadap tubuh perempuan, maka saya punya jawaban bahwa siapa pun bisa, karena konsep yang coba disodorkan oleh kaum feminis pasti berkaitan dengan semesta eksistensi. 

Saya setuju denga konsep Luce Irigaray dengan idea difference-nya yang menyatakan dimana baik perempuan atau laki-laki harus dikenali perbedaannya masing-masing, berhak dinilai secara khusus. Akan tetapi masalahnya adalah siapa yang akan lebih mewakili dan cenderung tepat? Pastinya, perempuan itu sendiri yang akan lebih mengerti metode pendekatan yang tepat terhadap dirinya sendiri, bahan pengetahuan yang selalu ada dan melekat pada mereka sendiri. Pendapat saya, sebenarnya perempuan sudah sehrusnya mempunyai batasan-batasan sendiri terhadap tubuhnya, dan memang harus dibatasi karena bila kita berusaha untuk keluar dari pola alamiah menyangkut apa yang terjadi di dalam metabolisme juga hormon atau lainnya, maka kita akan membutuhkan dukungan teknologi berupa produk yang akan menjadi trend komersial. 

Padahal ketika hal tersebut mulai dirasakan memiliki potensi optimal sebagai daya dukung yang memadai, kepentingan komersial itu terus mempertahankan karakteristiknya sebagai produk dari hasil studi yang bias gender. Tapi memang, yang menjadi persoalan adalah “bagaimana sebenarnya kinerja unsur-unsur alamiah tubuh menjadi sebuah konsep tentang identitas?”. 

.Mungkin pertanyaan tersebut akan menjawab idea Carol Christ tentang kepentingan akan adanya tokoh perempuan yang dapat mengidentifikasi keperempuanannya. Masih banyak perempuan yang membanggakan dirinya sebagai manusia, dalam idea-nya masing-masing yang saling berbeda dan ada pula yang bertentangan sehingga perbedaan tersebut meninggalkan jejak yang sangat tidak baik bagi perempuan lainnya yang sedang hidup dan akan lahir. 

Bukan perempuan sebagai “idea yang terbandingkan”, untuk menemukan celah kesetaraan yang kemudian diolah sebagai bahan yang siap dikonfrontir atau pun kerangka acuan yang bersifat provokatif utnuk disosialisasikan kepada kaumnya, akan tetapi pemahaman integral terhadap kata “perempuan”. Apa yang dipelajari perempuan atas tubuhnya hanya berkutat dan terbatas pada sesuatu yang dapat memberikan daya saing pada laki-laki, jadi artinya sama saja dengan keinginan untuk berperan atau memfungsikan diri sebagaimana halnya laki-laki. 

Di sisi lain ada yang mencari dari dirinya yang dapat memenuhi hasrat lawan jenis yang merupakan titik lemah mahluk laki-laki, mengorbankan diri demi pelampiasan dendam terhadap sistem patriarkat yang telah melumpuhkan pikiran mereka. Pada kenyataannya adalah hal yang biasa, namun sebenarnya berpotensi negatif dalam perkembangan arah pemikiran dengan tujuannya yang membabi-buta, bila hal ini terus berlanjut maka identitas alamiah malah semakin tersamar dan terasing dari dirinya sendiri, yang menurut saya adalah ketidak-jelasan pembawaan kelamin. Meskipun aspek-aspek kehidupan secara umum akan tetap tersentuh, namun batas pengertian yang mesti dikuasai adalah perempuan harus menempatkan dirinya sebagai satu-satunya gen informasi atas eksistensi perempuan, kalau bisa dirumuskan mungkin akan menjadi seperti ini: “profesi + karakter perempuan”. 

Polemik yang mungkin sengaja dimunculkan dan bertahan (mungkin sebenarnya karena kerinduan terselubung antar kedua jenis kelamin?) adalah tentang profesi yang dikatakan sebgai agen transformasi seksis, sebagai sesuatu yang mencerminkan atau bahkan memberikan sebuah karakter. Yang selalu kita pikirkan sebagai hal ideal adalah bahwa setiap profesi dapat dipercayakan pada jenis kelamin apa pun. Bilamana demikian, maka yang perlu kita perhatikan adalah mengenai sistem kinerja tubuh. Perlu diuraikan mengenai batasan yang tidak mengganggu atau mempengaruhi perubahan pola alamiah mahluk manusia yang utuh, peranannya sebagai manusia harus bertanggung-jawab terhadap fungsi seksualnya. Secara teoritis kita terpengaruh oleh pemikiran tentang perubahan yang evolutif, dimana kebenarannya bahkan masih dipertanyakan. 

Dan bila dimungkinkan terjadi bukanlah sebagai sebuah tahapan yang langsung terselenggara melalui jenjang garis keturunan langsung dalam arti sebenarnya, akan tetapi sebatas sebuah konsepsi tentang perkembangan genetika yang sempat terputus. Dengan kata lain, tidak terjadi dalam satu rentang waktu yang benar-benar terikat sebagai rangkaian yang tidak terhenti. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa kelamin berkaitan dengan hormon, DNA dan sel-sel yang menentuakn perbedaan bentuk. Saya sendiri tidak terlalu menyuai idea dan seputar topik yang mengajukan istialh gender, karena kita akan selalu terjebak dalam paradigma sejarah, sementara yang selalu menjadi pokok masalah adalah rentang waktu – masa lalu, sekarang dan masa depan. 

Dan kita bukanlah sebagai saksi sejarah yang memiliki wawasan yang memenuhi syarat. Dari sana kita hanya sebagai pewaris fakta sejarah atau sekedar merasa sebagai korban peradaban. Mungkin saya terlalu mudah mengambil kesimpulan, kurang pertimbanagan atau malah pragmatis? Kara saat saya mencoba untuk memasuki wacana gender, saya berada pada ruang-waktu dimana teori tersebut sedang dikembangkan – tidak orisinal, dan hanya itu. 

Dapat dibilang terlalu lugu dan beresiko menjerumuskan diri sendiri tapi bukan berarti buta untuk melihat aksi-aksi yang blunder. Semenjak itu saya lebih tertarik dengan representasi lahir-batin – phallus dan vagina, perempuan dan laki-laki – tubuh yang dipengaruhi oleh kenyataan tersebut. Alasannya adalah lebih menitik-beratkan pada dikotomi yang statis terhadap pemikiran manusia yang mendasarkan profitabilitasnya atas sensualitas, erotisme, sex appeal dan segala sesuatu yang berhubungan dengan naluri seksual. 

Saya belum, bahkan tidak ingin menjumpai jalan buntu yang menyebabkan keterasingan dari dunianya sendiri. Di lain pihak, saya juga tidak mau terlalu laru dalam konteks kelamin dan menutup diri dengan kausalitas yang mungkin berada di luar konteks, saya secara pribadi sudah merasa berkecukupan dengan pemahaman tentang etika kemanusiaan. 

Saya rasa, memang istilah gender itu mungkin lebih pada retorika yang sengaja digunakan sebagai kamuflase proyek blunder dari kelamin yang sensitif. Kesalahan saya di sini adalah bahwa persepsi saya mengarah kepada negasi. Selama ini, apa yang ada di dalam kitab-kitab suci masih dianggap atau dipercaya hanya sebagai sebuah konsep tertulis berdasarkan persepsi masyarakat dan lingkungannya sesuai dengan kenyataan yang terjadi pada masa kemunculan kitab-kitab tersebut. Tidak lagi sebagai ekstase yang membebaskan (dalam konteks filsafat) tetapi berkembang sebagai penyeimbang. Bila demikian halnya, maka kita tidak atau belum memiliki pedoman yang tepat. 

Permasalahan yang muncul secara tidak disadari adalah tentang berlaku dan diterapkannya wacana kebebasan untuk berkembang secara kompetitif dalam berbagai aspek kehidupan. Sepanjang hal tersebut belumlah sebagai sesuatu yang berhubungan dengan keperempuanan akan tetap menyentuh aspek ideologi, sosial, politik, ekonomi dan sebagainya agar diakui sebagai peserta dalam kompetisi yang tengah berlangsung (entah apa hadiah yang diperoleh, mungkin secara logis hanyalah kepuasan alter ego). 

Bisa jadi pula, identifikasi yang akan dijabarkan adalah sekedar pemenuhan syarat yang dibutuhkan untuk menjadi setara, ia hanya sebagai pelengkap dari bangunan yang sudah terbentuk, menginginkan kebebasan di dalam sebuah kendali – tidak menyadari bahwa mereka tetap berada pada satu genggaman, bahkan kegetolan akan sifat naif tersebut memberikan justifikasi terhadap sistem patriarkat. 

Perlu adanya penghentian langkah yang diambil dalam lingkaran interdependensi pada sistem patriarkat, jangan malah memperkokoh kemantapan dari sebuah konstruksi yang telah diketahui kelemahan dan pengaruhnya yang negatif terhadap keperempuanan – sebuah heterostruktur yang mapan dan terbuka, kematangan asimilatif. 

Sementara pada kenyataannya, keberadaan perempuan sebenarnya dapat berlangsung di luar kerangka itu semua, sebagai bangunan dengan pondasi serta konstruksi yang benar-benar independen. Dan untuk itu memang diperlukan kerja keras terhadap proses identifikasi demi membangun sebuah wacana yang orisinal dan baru. Meninggalkn alur yang berputar pada masalah perbandingan terhadap kerangka oposisi biner. Sebuah dunia perempuan yang utuh dan tidak memberikan akses terhadap intervensi maupun penetrasi oleh mahluk laki-laki. Suatu konsep etis yang mendasarkan pada pengetahuan tentang perempuan, sebuah batas yang mantap dengan kepastian untuk disebut sebagai perempuan yang sebenarnya. 

Konstruksi dasar dari pemikiran kaum feminis adalah hanya untuk membuktikan kemampuan gerak dan pemikiran yang tidak berbeda, bila demikian maka tidak ada sama sekali perihal independensi dari sebuah paradigma yang ditawarkan – hanya berjalan di tempat. Atau bisa disebut sebagai karakter trend belaka – omong-kosong tentang khayalan yang memang sudah diperkirakan, tidak ada hal baru yang diajukan, masih berada pada satu kerangka yang sama dengan sudut pandang yang diperbedakan, malahan hasilnya makn memperpanjang garis yang membentuk pola lingkaran setan. 

Di sini dan saat ini adalah dunia yang menurut para feminis adalah dunia patriarkat yang berarti apabila mereka (para perempuan) menghidupkan karakternya maka akan dengan mudah dapat ditebak apa yang akan terjadi – perlawanan seperti biasanya. Bukankah hal tersebut sejauh ini hanya terealisasi dalam bentuk penetrasi atau bahkan secara tegas merupakan proyek intervensi? Meskipun tidak ada maksud untuk seperti itu namun kita juga mesti mempertimbangkan persepsi “yang lain”. Karena masih berada pada sisi yang sama dan oleh karena itu masih tetap akan mengimplementasikan pemikirannya yang akan diterima sebagai oposisi – masih tetap akan dibaca secara implisit. 

Kate Millet yang revolusioner atau gerakan Women’s Liberation yang mempunyai masalah dengan kaumnya sendiri, tentang apa yang perempuan tanamkan di dalam pemikirannya sendiri dengan mengkambing-hitamkan laki-laki tatau phallus secara terpisah – hanya sebagian yang dianggap bermasalah. 

Dunia yang dimaksudkan tidaklah dalam konteks yang berseberangan akan tetapi sebuah karakter yang tidak menentang arus – tentu berbeda dengan makna melawan arus – suatu pemikiran yang seringkali tersentuh namun belum ada yang menggenggam karena tidak ada yang merasa berhak untuk memiliki (atau mungkin tidak mampu bahkan enggan menerima?). Di wilayah yang tidak atau belum bertuan, di sinilah karakter tersebut harus berusaha menempatkan diri, memenuhi dan membangun jati dirinya. Wilayah itu pasti adanya, ia mungkin sedang menunggu kepastian agar diakui keberadaannya. Mungkin ia adalah yang selama ini ditinggalkan karena dianggap tidak menantang tidak bisa diharapkan menjadi sesuatu yang menarik, tempat yang membua pemiliknya merasa tertekan dalam ketakutan yang tidak beralasan – paranoia. 

Kultur jaringan sudah terbentuk namun implementasinya di lapangan tidak terkendali, yang tampak adalah pernyataan yang bersifat intuitif, naluri keperempuanan masih lemah. Mungkin sensitifitas dari perempuan belaka yang membuat kegamangan membiarkan setiap topik untuk tetap mengambang, selalu membuka sisi relatif terhadap tajamnya proses penghsutan sebagai perangkat yang dianggap paling efektif – tampak hanya sebagai sebuah analogi ekstensif dari suatu aktifitas libidinal belaka – dominasi sensualitas dan erotisme yang terstimulir secara emosional, respon yang tersampaikan pada publik diterima sebagai bentuk geliat dan desah orgasmik dalam kontak sosial (berbanding terbalik dengan laki-laki yang memperolehnya melalui kontak seksual). 

Sejarah dan adat budaya telah mencengkeram semangat dari target dan sasaran yang dituju oleh para feminis untuk menanamkan pemikirannya yang revolusioner, begitu bertolak-belakang dengan tanpa sedikitpun memberikan peluang evolutif yang bertahap tetapi memiliki kepastian, tidak ada yang mecerminkan proses difusi sosial yang benar. Situasi yang tidak bisa ditolerir adalah ketika terjadi penetrasi terhadap tema feminitas, terdapat celah yang membuka akses internalisasi dengan alasan feminitas. Padahal dalam konteks aselinya feminitas itu adalah kata ganti daripada perempuan yang berarti memiliki ciri yang jelas untuk masuk dalam lingkup perempuan – lahir batun. Keduanya (lahir-batin) adalah standar baku yang bersifat kumulatif atas identitas keperempuanan. 

Persamaan hak, kesetaraan gender, kebebasan berpikir, perluasan ruang gerak, bukankah ini adalah merupakan suatu hal yang mendua? Tapi tetap terpolar pada gender maskulin dengan ciri phallus? Hal yang menimbulkan pro-kontra. Wilayahnya hanya sebatas untuk dipertimbangkan saja, bukan sesuatu yang konkret yang dapat menghentikan debat kusir berkepanjangan dan membungkam argumen semu yang tidak didukung oleh ciri vaginal. Inilah yang mesti ditegaskan , sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh setiap manusia – hanya sebgaian yang tertentu. 

Sebuah dunia yang mampu menyelaraskan nafas kaumnya tanpa perlu disebut militan, ada dengan kesadaran yang pasti terhadap eksistensinya, satu pengetahuan bahwa dengan hal ini maka tidak akan ada penolakan dari apa pun juga. Yang bahkan dengan bekal pengetahuan saja – sejauh mana pun – tidak cukup untuk membuat seseorang dapat diakui sebagai perempuan meski hanya sekedar untuk menyandang sebutan itu. Di sana, tidak ada yang mempunyai kompetensi selain perempuan itu sendiri. Apa yang dikonsepsikan oleh perkembangan peradaban manusia terhadap perempuan memunculkan reaksi yang berbeda di kalangan perempuan sendiri, hal seperti ini dapat terjadi karena adanya perbedaan persepsi diantara mereka sendiri dalam mengidentifikasikan diri dan tubuh mereka sehingga secara definitif belum ditemukan kriteria standar untuk mengadakan penilaian terhadap wacana keperempuanan. 

Pada sebagian besar perempuan, aktualisasi diri secara ekspresif yang mempunyai nilai jual dengan perspektif yang sangat bervariasi terhadap eksplorasi tubuhnya merupakan sebuah definisi. Dari sinilah kemudian asumsi tentang image keperempuanan menjadi suatu komoditas industrial, dan dalam kepentingannya, pihak industri menawarkan sebuah bentuk yang dapat mewakili citra perempuan sebagai konsumsi publik, dengan klaim sebagai rekaan hasil dari pemanfaatan produknya. Sementara kesepahaman terhadap eksistensi dan harga diri perempuan dimanipulir untu meredam atau minimal merelatifisir dampak negatif dari eksploitasi keperempuanan tersebut. 

Pada keadaan umum, publik terlibat sebagai saksi sekaligus mempunyai hak sebagai penilai/juri, karena bagaimanapun juga visualisasi yang tertangkap pasti tersampaikan sebagai penawaran atas sesuatu benda produksi. Namun bagian yang terpenting sebenarnya adalah tentang apa yang secara umum menjadi perhatian dari publik terhadap obyek visual tersebut, pesan yang disampaikan atau kesan yang diterjemahkan? Ini hanyalah sebuah contoh dari ketidakseriusan kita dalam mendefinisikan sesuatu identitas, sehingga masih menyediakan celah kealpaan yang memberikan banyak peluang intervensi, yang ironis adalah bagaimana kita dengan sadar memang membutuhkan penetrasi tersebut agar diketahui oleh pihak lain yang juga berminat untuk memperoleh keuntungan. 

Dasar pemikiran yang menjadi perhatian dari mereka secara garis besar yang seringkali diperdebatkan adalah terdiri dari beberapa sudut pandang yaitu, perempuan sebagai manusia, dan manusia yang berjenis perempuan. Kedua hal tersebut memiliki serangkaian perbedaan yang sulit untuk dicakup ke dalam satu tema besar keperempuanan. Menurut pendapat saya, memang mereka (kedua hal itu) tidak ada ujung-pangkalnya yang sama kecuali rasa ketakutan dan sakit hati terhadap diskriminasi atas keberadaan mereka. Tetapi bukan berarti bahwa dari sana nggak ada jalan keluar, satu-satunya hal yang mesti disadari oleh perempuan adalah bagaimana mengintegrasikan kedua tema tersebut sebagai rangkaian – tata urutan langkah – yang mereka tetapkan untuk diambil dalam mendefinisikan diri mereka sendiri, agar proses identifikasi yang dilakukan mempunyai kepastian untuk diakui dan diterima. 

Hal ini sebaiknya jangan dianggap sebagai sesuatu yang relatif. Pertama, mereka harus membangun opini awal bahwa manusia tidak hanya terdiri dari laki-laki akantetapi juga perempuan. Kedua, bahwa manusia perempuan mempunyai ciri dan karakter khusus. Ketiga, perempuan sebagai manusia memiliki ruang dan waktu sendiri. Perempuan bukan idea, akantetapi sebuah wacana yang ada berdasarkan identifikasi atas keperempuanan sehingga mempunyai definisi yang baku dan tetap. Dengan demikian kerangka yang terbentuk dari idea keperempuanan dapat dengan tegas diajukan sebagai sebuah konsep yang matang sehingga menempati ruang dan waktuya dalam kehidupan kita manusia. 

Namun bukan berarti pula hal ini tidak memiliki kendala, indikator utama yang dapat merusak keperempuanan adalah dengan tidak dipegangnya nilai, batas dan pola alamiah. Pada awalnya, saya sangat bangga dengan idea transparan tentang wacana keperempuanan yang membutuhkan pengakuan ruang dan waktu atas keberadaannya sebagai manusia. 

Asumsi yang saya miliki adalah tentang logika penalaran yang meliputi etika. Sebuah kerangka tentang cara yang benar, kata yang layak, waktu yang baik dan tempat yang tepat. Semuanya dalam hubungannya dengan kepentingan perempuan, tubuh dan feminitasnya. Dan merekalah yang harus mendapatkan kehormatan itu – karena mereka perempuan yang jelas berbeda dari laki-laki (dari sudut pandang saya sebagai laki-laki, entah yang lain). 

Sayangnya, kita sulit untuk melepaskan diri dari hubungan antara kegiatan seksual dengan orgasme. Bagi saya, adalah hak saya untuk menyediakan sedikit dari waktu yang saya punya untuk melayani pasangan saya, karena dia sudah memberikan banyak waktunya untuk saya, dan orgasme adalah rangkuman setara dari adanya perbedaan waktu tersebut (utopis? Secara pribadi hal itu adalah proyek ambisius saya dan pasangan saya? – TIDAK!). 

Lalu, kemana identifikasi seksis itu mengarahkan kita? Puncaknya adalah simbiosis mutualisme, untuk mempertahankan keberadaan manusia – bila potensi itu terjadi secara merata, kalau pun tidak… sampaikan pengetahuan kita kepada sebagian besar yang mampu.

oleh: Agung Pramono

Minggu, 18 September 2011

Misogini (perempuan enggak, lelaki bukan)

MISOGINI: 

Bagaimana kau bisa mengatakan bahwa jiwamu adalah wanita? Adakah rahasia atau serupa misteri tentang wanita yang kau temukan sehingga kau berani mengatakan bahwa itu adalah sifat wanita? Sudahkah kau memiliki jawaban itu?

Katakanlah kepada mereka yang membutuhkan keterangan itu, jelaskan pada mereka yang belum mengenal perihal wanita dan kewanitaan agar tak muncul lagi perbedaan. Bersediakah kamu? Matikanlah sudut pandang mereka dengan pengetahuanmu yang pasti itu, pengetahuan yang membawamu pada sebuah kesimpulan yang benar dan pasti. Ataukah kau hanya ingin menambah satu lagi permasalahan? Atau kau hanya mengikuti perasaan belaka? Perasaan yang berkaitan dengan sejarah hidupmu mungkin? Atau mungkin kau terbawa arus pemikiran yang ada di luar dan selain dirimu, sehingga kau benar-benar menginginkan hal itu seutuhnya ada padamu sebagai diri yang dikenali sebab hal tersebut? 

Kumulasi dari semua itu kemudian kau simpulkan dengan keinginan untuk merubah tubuhmu, agar kau tidak dibayangi oleh perasaanmu, agar tidak ada lagi hantu yang mengejekmu dengan teriakan ‘banci’. Sampaikanlah ihwal dan perihal kewanitaan itu, jangan egois, memikirkan diri sendiri bila kau memang manusia dengan akal yang tinggi dan terbuka sehingga Tuhan pun memberikan ilham kepadamu. Aku percaya kata sang bijak yang mengatakan bahwa manusia belum dikatakan hidup bila tidak mengenali jiwanya, dan aku juga percaya secara materil bahwa bukti konkret itu lebih pada apa yang terinderakan secara lahir. 

Seperti yang lain, aku mengikuti anggapan bahwa kebenaran itu memang relatif. Marilah kita lihat kebenarannya nanti, jalani apa yang ada sekarang. Sejauh ini banyak kesamaan pandangan antara aku dan orang lain pada umumnya. Bila pun hal ini menyangkut wilayah agama, bukankah aku sudah menjalankan kewajiban atau tanggung jawabku dengan taat melaksanakan apa yang kuyakini kebenarannya. Kamu selalu berkata, “and the bla, and the bli, and the blu!”, cepat, lancar dan pasti. 

Mereka yang kau tanya hanyalah dokter, bukan filsuf. Tentu mereka akan lelah tersita dengan hal ini, karenanya mereka akan membiarkan saja sebab sudah terlalu membuat pusing. Toh, bagi kita ini masalah kecil, perkara dosa itu serahkan saja pada yang mengerti karena bukan termasuk bidang mereka. Masih banyak tentunya yang mereka kejar, masih bertumpuk pekerjaan rumah mereka. Maka dicarilah yang nyata-nyata penyakit dengan gejala yang jelas, maka konflik dibatasi hanya bila terjadi oleh lebih dari satu orang, kalau konflik batin sudah terlalu merepotkan, yang dihadapi cuma satu orang dengan alasan yang kompleks, sederhanakan saja, kurangi beban para dokter. 

Kalau aku, jauh dari pengetahuan kedokteran apalagi filsuf yang benar-benar berpikir tentang hakikat atau bukan pula orang bijak yang berwawasan luas dan amat mencukupi untuk menengahi sesuatu masalah dengan jawaban yang memuaskan. Aku lebih pada orang yang mencintai hasil kerja dan pemikiran mereka, dan dengan caraku sendiri aku bertindak lebih mudah dengan pikiran yang lebih sederhana, sebut saja aku sang pembebas. Jiwa yang menggenggam pengetahuan tentang wanita itu telah meninggalkan tubuhnya, aku berharap semoga jiwa itu akan merasuki tubuh yang tepat karena aku menghormati jiwanya juga mengasihani tubuhnya, tubuh yang tak mampu menuntut satu jiwa untuk mengisinya tanpa mesti merubah bentuknya. 

Aku menyelamatkan mereka berdua, aku ambil saja semua pemikiran yang baik dari para bijak agar tidak ada konflik dan perdebatan diantara mereka. Apalah artinya kebersamaan mereka, hanyalah mahluk asing berupa jiwa dan tubuh yang tidak saling berjodoh sehingga terlambat menyadari bahwa peleburannya mengakibatkan derajat mereka berada satu tingkat di bawah manusia yang terendah. Itu tidak adil, sebaiknya para mahluk rendah yang bejat tidak pantas disebut manusia, jadi kamu tidak lagi dianggap lebih rendah dari mereka, namun berada pada tataran yang sama, sebutlah mahluk saja. 

Akhirnya tidak ada yang mesti diubah, saat mereka sudah menemukan jiwa dan tubuhnya masing-masing, mungkin mereka akan berjodoh sebagai kekasih yang berlanjut ke pelaminan, indah sekali. Tak ada lagi wanita yang dibelenggu oleh laki-laki atau tak ada lagi laki-laki yang diatur oleh wanita. Tak ada lagi siksaan lahir ataupun batin, aku membebaskan keduanya dari dilema. Bebas seketika, bila hal ini tidak kulakukan maka akan ada penyiksaan terselubung yang berkepanjangan. Aku tidak mungkin mencintanya, tak akan pernah bisa karena terlalu takut (atau mungkin pengecut?). 

Tak ada laki-laki yang mampu mengalahkan kekuatannya, sebesar apapun tubuh dan tenaganya, pasti bertekuk lutut. Meski dia mampu menjamuku dengan apapun yang kuinginkan, tapi aku tak dapat menerima cinta dan kasih sayangnya. Ini akan seperti cinta segitiga, dia tidak bisa melepaskan pria yang lain, seberapapun besar usahanya. Kalaupun aku dapat menerima cintanya dan menjalani hubungan segitiga ini, maka laki-laki itu akan terus teraniaya dalam siksaan yang tak dapat kubayangkan (dan memang aku tidak mempunyai bayangan tentang hal itu). 

Bukannya aku tak punya rasa belas kasihan, tidak pula aku sengaja berdiri di atas penderitaannya karena aku tahu pasti bahwa cinta si wanita tak akan terbagi, hanya untukku saja. Aku tak mampu menahan diri, maka kutikam dia, aku membunuhnya. Tidak – aku membebaskan mereka, dan sekarang lebih jelas. Yang mampu bertahan bersamaku di dunia ini adalah si lelaki – tubuh itu. Mana jiwa itu? mana si pemilik keinginan yang sebelumnya begitu kuat ingin merubah tubuh itu menjadi tubuh yang lain seperti tubuh perempuan umumnya? Mana jiwa itu? mari kita berdebat tanpa perlu menghadirkan tubuh lelaki itu. 

oleh: Agung Pramono

Senin, 23 Agustus 2010

The Effective Sex Domination

The Effective Sex Domination


(pemahaman wanita Nusantara tentang diri dan keberadaannya)

kaum laki-laki hanya menginginkan seks, nafsu seks muncul dalam diri individu, dan dia selanjutnya berusaha untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Yang penting di sini adalah seks, dan bukan individu yang memberikannya. (Sigmund Freud)

Pengetahuan wanita Nusantara senyatanya malah berbanding terbalik dengan simpul kajian dan opini dunia Barat.

Paham Eksistensialis seperti Beauvoir dengan opresi “The Second Sex”-nya, atau Sartre, Heggel, Husserl dan Heidegger yang lebih banyak bicara tentang menjadi ada dan kesia-siaan yang intinya tentang eksistensi (perwujudan/keberadaan).

Bukannya terlalu sempit dan tidak layak kita bicara tentang opresi fisik disini, mungkin malah memang karena tidak ada data kajian yang didatangkan dari Timur, dan sebaliknya sejarah kita “mendemonstrasikan” kebertubuhan wanita yang secara nyata jelas muncul dari pemahaman dan penguasaan mereka (wanita kita dulu) atas fungsi dan makna keberadaannya sebagai wanita.

Saya berbicara tentang eksploitasi tubuh yang menimbulkan suatu dampak berupa stimulasi (rangsangan) seksual yang mempengaruhi dominasi dan kemenangan demi kejayaan wanita itu bahkan beserta keluarganya.

Ketika Sartre berbicara tentang “bad faith” maka wanita Nusantara dalam sejarahnya berteriak kepada langit, bumi dan seisinya “the faith is in us” secara sadar, diniatkan dan sangat bertujuan.

Kesimpulan yang sama dari sudut pandang asal yang berbeda terjadi pada Freud dan Marx.

Saya sendiri memaknai kata “wanita” sebagai “Wani Nyata”, yaitu “dia yang berani dengan lantang menunjukkan kenyataan”.

Ketika Beauvoir berkata bahwa “perempuan bukanlah pembangun dirinya sendiri”, maka disini saya sampaikan bahwa “wanita Nusantara membuat pria-nya memahami tentang konsep diri”, sinkron dengan legenda Adam yang terdorong oleh Hawa.

Tidak ada “The Second Sex” malah “The Effective Sex”.

Sekilas mungkin malah Jean Bethke Elshtain dan Genevievie Lloyd dapat menjelaskan tentang wanita Nusantara, namun ternyata latar belakangnya adalah karena dendam sejarah yang tidak tepat merepresentasikan secara komprehensif pemberlakuannya atas alasan yang benar, sekali lagi adalah karena asal dasar pemikiran yang berbeda.

Berdasarkan sejarah, wanita Nusantara itu seperti Plato yang mengatakan “tubuh adalah penjara jiwa”, dan sekaligus Gafni yang mewujudkan diri mereka sebagai “Sechinah”, namun hebatnya sejarah wanita Nusantara membuktikan bahwa Sechinah atau Eros tidak pernah terbuang ke wilayah seksual seperti yang Gafni simpulkan, wanita Nusantara adalah para Gafni di masanya dan kemudian Gafni dengan baik malah memungut serpihan itu terlebih dahulu dibanding kita sendiri, sehingga dia berhasil menemukan relevansinya dengan agama dan kitab suci, yang bahkan cerita sejarah terbuang karena terkubur oleh rasa kodrati.

Dan dengan berani dia menyebut bahwa pengetahuan itu sebagai “tantra Ibrani” serta mengklaim penyebutannya sebagai “ajaran baru”.

Wanita Nusantara ternyata sudah mengenali tubuhnya dan mampu memaknai tubuh itu beserta gejala dan tandanya dalam beragam dimensi, Multidimensional.

Pendapat parsial dari Kelompok Radikal-Libertarian yang berkeyakinan bahwa perempuan harus dapat merebut kembali seksualitasnya dan merepresentasikan seksualitas perempuan yang tidak terepresi artinya berani mengeksplorasi kesenangan seksualitas perempuan. Kelompok ini menetapkan bahwa tidak ada salahnya bagi seorang perempuan untuk berani membayangkan fantasi seksual mereka sefantastis-fantastisnya,sebagaimana saya cuplik dari Gadis Arivia, Direktur Eksekutif Yayasan Jurnal Perempuan. Paper dipresentasikan untuk Workshop “RUU Antipornografi dan Pornoaksi Antara Moralitas dan Kebebasan Berekspresi: Dimanakah Posisi Perempuan? (Tinjauan Filsafat, Media, Hukum, dan Sosial)” tertanggal 26 Mei 2004, Ibis Hotel, Jakarta.

Tentunya opini ini terlalu lugu dengan kenyataan pernyataan tersebut muncul dari ”opini anjuran untuk melakukan eksplorasi” dengan keraguan hasut dalam kata ”tidak ada salahnya...”

Julia Kristeva, seorang feminis postmodern, sempat mengambil kesimpulan dengan baik ketika mengatakan

bahwa kaum laki-laki justru lebih sering salah menafsirkan dan tidak mungkin tepat jika mencoba-coba jelaskan hal-hal yang berkaitan dengan tubuh perempuan, tubuh perempuan juga merupakan alat kekuasaan yang tidak dapat diwakilkan. Namun dia tidak mengkaji pengetahuan pria Nusantara atas tubuhnya justeru lebih banyak dipastikan oleh wanita Nusantara melalui stimulasi perilakunya yang erotik.

Sepertinya seorang feminis lain yaitu Germaine Greer kembali hanya melihat dari sejarah di lingkungannya saja, dikatakannya, tubuh perempuan diandaikan sebagai ajang pertempuran (battlefield) dimana ia bertempur memperjuangkan kebebasannya. Tubuh sebaiknya menjadi media bagi perempuan untuk keluar dari ketertindasan, serta tekanan yang membuat dirinya terpinggirkan dan segala hal yang membuat membuat jiwanya tak berdaya. Dan ini tidak berlaku bagi wanita Nusantara dulu, mereka tidak membutuhkan sugesti untuk mendominasi tubuh lain.

Yang penting memang kaum perempuan harus berani memilah-milah sebuah konsep kebenaran. Jangan begitu saja menerima setiap ready made values yang telah dikonstruksikan oleh masyarakat. Ini berbahaya karena akan mengesampingkan subyektifitas dirinya, dan membuatnya cenderung hanya menjadi obyek moralitas yang ditentukan oleh kekuasaan di luar dirinya. Dalam tahap ini perempuan harus mulai mampu berdiri sendiri dalam menanggapi tubuhnya, kebutuhan, keinginan dan minat dirinya, demikian Adriana Venny mengajak perempuan lain untuk bersikap.

Namun benarkah ada ’ready made values yang telah dikonstruksikan oleh masyarakat’ seperti yang disebutkan olehnya?

Ada memang, tetap ada tapinya. Konstruksi tersebut tidak berjalan sebagaimana yang para feminis eksistensialis pikirkan, seharusnya mereka merunut jauh kebelakang ditempat mana mereka menjejakkan kakinya semenjak lahir dan tidak perlu menyadur serta mengutip kalimat yang didasarkan dari kajian yang bukan dengan data Nusantara.

Justeru konstruksi yang terbentuk di Nusantara itu sudah melalui tahapan yang jauh lebih sempurna dibanding kajian Barat, yang sejarahnya memang berbanding terbalik dan merupakan ”dataran muda”.

Gadis Arivia, Pendiri Yayasan Jurnal Perempuan, dari yang saya cuplik tertanggal 27 Februari 2006 mengatakan bahwa dalam perkembangan sepuluh tahun sastra Indonesia terakhir ini tidak dapat dipungkiri tokoh-tokoh seperti Ayu Utami dan Djenar Maessa Ayu telah memberikan kontribusi yang luar biasa. Write your body!, kira-kira begitulah yang diinginkan generasi baru feminisme yang melihat persoalan perempuan bukan hitam/putih atau pun lewat patokan kaidah-kaidah agama tertentu. Generasi ini menganjurkan agar perempuan “menulis” tubuhnya sendiri. Perempuan memikirkan kembali tubuhnya dan memberikan interpretasi baru.

Kembali sejarah bangsa sendiri tampak tidak ditelusuri melalui kata-kata ”generasi baru”, ”menulis”, ”memberi interpretasi baru”. Bila memang dia mempunyai obyek kajian dari sejarah wanita bangsanya sendiri maka tidak mungkin mengatakan hal ini karena karya sastra yang dimaksud hanya sekedar ”menghidupkan kembali” malah dengan sangat malu-malu dan hanya sekedarnya, sayang seakan terpotong dan seperti membuat sejarah baru karena tidak mengenali akarnya.

Lalu mengapa perempuan menolak tabu? Sebab teror tabu lebih banyak melanda perempuan, terutama yang berkaitan dengan tubuhnya. Mariana Amiruddin yang merupakan Redaktur Pelaksana Jurnal Perempuan yang saya cuplik tertanggal 20 Juni 2005 bertanya dan menjawabnya.

Teks sastra merupakan salah satu media yang memiliki potensi membongkar ketabuan itu, bahkan tanpa harus dengan motif membongkar, alam bawah sadar teks akan mengangkat ketidaksadaran tentang tabu itu dalam teksnya.

Maka bukalah tabu itu sekarang juga, agar tak ada lagi pura-pura atas diri kita sendiri, agar mitos tak berkumpul bergumul membengkak menjadi akut. Kita tak mau stroke melanda diri kita sendiri dan tabu telah menyumbat aliran darah yang tak kuasa mengalir, yang membuat tubuh kita lumpuh dan bodoh.

Kenapa seringkali wanita Nusantara tidak berhasil mengenali akarnya? Adalah keliru ketika kata yang mereka gunakan adalah “membongkar tabu” atau “teror tabu”. Sekali lagi mereka sebenarnya ”menghidupkan kembali”, mati suri dan hidup lagi. Bukan kosong dan mengisinya.

Bandingkanlah dengan sejarah wanita Nusantara, di dunia Barat sebelum abad 19 persoalan sexual desire merupakan sebuah tabu atau bahkan amoral. Segala sesuatu tentang seks baik perasaan dan pengetahuan seks merupakan sebuah wacana yang dilarang serta diabaikan. Selama berabad-abad sexual desire manusia ditekan sedemikian rupa dan barang siapa yang melanggar dihadapi oleh sangsi-sangsi sosial yang berbicara atas nama moralitas.

Di dalam perdebatan filsafat Barat, pembahasan sexual desire yang dimulai dari filsafat Yunani hingga Modern diwarnai oleh ketegangan-ketegangan antara penerimaan, pentabuan serta pengucilan pemahaman-pemahaman erotisme, sexual desire, dan sebagainya.

Sungguh kajian yang sedemikian ternyata menjadi sebuah ironi dan menjadi mainan anak kecil bagi wanita Nusantara di jaman keemasan dominasinya.

Schopenhauer bahkan menganggap sexual desire sebagai sebuah delusi—karena sesungguhnya manusia juga menjadi obyek di dalam kegairahan seksual.

Saya jelas menyunggingkan senyum ketika menyimak kajian Elias (1978) dan Foucault (1978) yang menjadi dasar pengetahuan dan pedoman pemikiran feminis modern yang mengungkapkan bahwa konsep privacy, diri, dan berkembangnya erotisme merupakan bagian dari ciri pengalaman ”manusia modern”, saya tertawa kecil dan menyindir sentimen dengan pengetahuan bahwa wanita Nusantara ternyata semenjak dahulu masuk dalam katagori ”manusia modern”, sedangkan dunia Barat mengembangkan pola ini baru pada seputar abad 19.

Berarti selama ini apa yang diperjuangkan para feminis modern adalah sebuah wacana mentah atas konsepsi wanita Nusantara, tidak ada paparan sejarah dari negeri sendiri malah merujuk kepada kajian ”luar” yang jelas berbanding terbalik, kalaupun memang kita ingin mempropagandakan hal ini maka bangsa kitalah yang dapat memberikan gambaran tentang prototipe wanita dengan segala konstruksinya berdasarkan sejarah wanita Nusantara.

Dan sebaliknya malah seharusnya wanita Nusantara modern dapat membangun konstruksi sendiri yang benar-benar baru, dengan konsepnya sendiri yang ternyata bilamana diruntut akan berada sangat jauh di depan konstruksi belahan dunia manapaun.

Jauh sebelum Sigmund Freud, dalam Teori Naluri dikatakan; kaum laki-laki hanya menginginkan seks, nafsu seks muncul dalam diri individu, dan dia selanjutnya berusaha untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Yang penting di sini adalah seks, dan bukan individu yang memberikannya.

Sementara itu, hasrat berjimak perempuan lebih banyak bersumber pada psikisnya untuk memperoleh kehangatan dan cumbu-rayu dari orang yang dicintainya. Secara fisik tidak ada yang tertimbun sehingga tidak membutuhkan dengan segera untuk terpenuhi hasratnya (Hamim Ilyas, dkk. Perempuan Tertindas? Kajian Hadis-hadis “Misoginis” (Yogyakarta: PSW IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta – The Ford Foundation, 2003), hal. 231).

Justeru inilah pemahaman akan pengetahuan wanita Nusantara yang dikembangkan ke dalam dunia kebertubuhan untuk mencapai kejayaan diri beserta keluarganya.

Manusia menghadapi problem hidup setelah mendapatkan kesadaran tentang keterpisahan dan eksistensi ketakbersatuan (disunited existence) dengan alam menjadi penjara yang mengerikan bagi manusia. Manusia selalu amat cemas karena keterpisahan ini. Ia terus berusaha untuk membebaskan diri dari penjara mengerikan ini dengan mencari pertautan diri dengan orang lain dan dunia luar.

Problem keterpisahan ini di antaranya diselesaikan dengan cara menenggelamkan diri dalam situasi orgiastik di antaranya berupa pengalaman seksual, dengan orgasme seksual dapat merasakan kepuasan menyatu yang hampir sama dengan trance dan obat bius. Ritus pesta seksual secara kelompok merupakan bagian dari ritus sebagian suku-suku primitif. Pengalaman orgiastik ini membuat manusia mampu bertahan dari derita keterpisahannya, dan untuk menjaga stamina pengalaman ini harus diulang. (Erich Fromm, The Art of Love (Gaya Seni Bercinta) Ed. A. Setiono Mangoenprasodjo, Dyatmika Wulan Merwati (Yogyakarta: Pradipta Publishing, 2004), hal. 21.)

Sekali lagi kita melihat keluguan seorang Erich Fromm, yang mengatakan bahwa pesta seksual kelompok merupakan ritus suku-suku primitif, sebaliknya pola ini malah berlaku di jaman kita, sedangkan dulu pemegang kendalinya adalah para wanita Nusantara.

Dulu, dikebanyakan wilayah Indonesia – setiap gadis itu mempunyai perilaku dimana tidak menggunakan

penutup tubuh (terutama bagian atas). Namun perilaku semacam ini malah dijadikan sebagai apology bagi kalangan budayawan atau seniman dalam kesimpulannya bahwa perihal erotika sudah mendarah-daging dan bukanlah sesuatu hal yang tabu bagi masyarakat Indonesia sehingga adalah ironis dan munafik bilamana harus ditutup-tutupi.

Benarkah itu?

Bukankah dulu penutup tubuh itu hanya untuk kalangan tertentu dengan strata sosial yang tinggi sebagai pembeda? Dulu pakaian adalah sangat mahal.

Tidak dan bukan!

Alasan sebenarnya yang benar adalah bahwa perilaku itu senyatanya adalah muncul dari semangat seksualitas. Hal telanjang itu memang terjadi atas dasar kesengajaan yang bertujuan agar mendapat perhatian, adalah suatu penawaran terbuka agar si gadis dibeli oleh para bangsawan untuk dijadikan gundik atau selir sehingga nantinya dapat meningkatkan taraf hidup dan status keluarga beserta keturunannya.

Deffinitely an effective sex, a wanita Nusantara dome of nation.

(sumber: internet & pribadi)

Minggu, 22 Agustus 2010

Inner Sentence: The Dark One

Inner Sentence: The Dark One

…banyak pujangga yang nyoba ngerumuskan arti CINTA, dan nggak ada failosof yang nggak bicara tentang hakekat HIDUP.
Kita… orang awam yang belum layak mikirpun suka sekali mencari alasan untuk menang dengan berlindung didalam kalimat pujangga dan failosof itu, lalu sembunyi diantara kerumunan kelompoknya yang sepaham, menungu pemicu untuk saling menghancurkan.
Kenapa banyak banget orang yang tertarik dengan 2 (dua) kata “hidup dan cinta” ini?

Karena kita sebenarnya ngerti kalo kita adalah calon korban bagi masing-masingnya, mahluk yang siap membunuh mangsanya dengan kata-kata itu, kita adalah mahluk yang punya instinct membunuh paling kejam, anehnya berdarah hangat.
…dan kita juga usah tau kalo kita nggak pernah punya “hidup dan cinta” kecuali yang ada di khayalannya, kedua kata itu cuma dongeng sebelum tidur, yang kita bisa cuma memperlambat waktu untuk dibunuh, penuh pertanyaan dan ketakutan sambil nunggu matinya.
Kita nggak pernah tau cara bernafas tenang karena itulah kita mencari arti “hidup”, kita nggak punya kenangan dari perasaan yang menyenangkan, makanya nggak tau apa itu “cinta”.
Kamu kira aku cahaya? Itu berarti kamu belum tau apa-apa!
Aku menyaksikan terang karena aku pernah berada penuh di dalam kegelapan.
Permata berkilau itulah yang memancarkan rona minyak langit yang terkandung didalamnya sebagai bekal.
Minyak yang harus kusulut dengan api suci yang terkurung diruang syaghaf (misteri terdalam) –ku.
Permata yang merupakan wujud perawan dari kampung langit itulah yang sekarang menghangatkan hari-hari bumiku.

oleh: Agung Pramono

Kebenaran Atas Kebenaran

Kebenaran Atas Kebenaran

Kenapa manusia diberi tugas menyampaikan risalah? Karena pada saat setelah penciptaan hanya Adam-lah yang mampu menyebutkan nama-nama sedangkan mahluk-mahluk lain tidak mampu.

Karena itulah yang harus menyampaikan, yang diberi amanat, yang dipercaya, dan wajib menyampaikan adalah yang berilmu, dimana dia dapat menyampaikan dengan jelas melalui ”bahasa” sehingga dapat memberikan gambaran bagi mahluk lainnya.

Menyebut nama-nama atau sebutan atau bahasa, merangkai kata untuk menjelaskan ilmu pengetahuan yang ada.

Bukan hanya mengerti – karena Iblis sekalipun, akantetapi paham dan tahu atau sadar apa yang dikatakan.

Selain manusia maka pesan itu adalah tidak benar dan pasti berujung sesat.

Mahluk yang mampu menyebutkan nama-nama pasti berilmu, dan ilmu itu pastilah indah dalam rangkaian kata, tidak mungkin melanggar aturan apalagi membongkar untuk membentuk aturan baru.

Ilmu (ia) pastilah halus, namun ialah juga yang menjadi sebab mengapa ALLAH menyebutnya sebagai ”sebagai yang disebutkan” atau ”yang disempitkan dadanya” dan mereka pasti tahu bila mereka memang sesat.

Mereka yang tidak berilmu tidak tahu arahnya, dan mereka yang membentuk aturan oleh karena sesungguhnya dipenuhi ketakutan untuk tidak dapat bertahan hidup sehingga mengatasnamakan kenyataan yang tidak wajar sebagai alasan, namun mereka yang berilmu meski sesat memberi kebenaran sebagai musuh kesadaran.

Ilmu yang benar diperhadapkan dengan pengetahuan yang benar, nalar atau logika diperlawankan dengan intuisi.
oleh: Agung Pramono

(menyambut kedatangan tamu Ramadhan)

(menyambut kedatangan tamu Ramadhan: 2011)

Surga berkata: “kamu sudah mati”
Neraka menyahut: “namamu ada dalam daftarku”
Tapi api neraka berteriak: “janganlah kesini karena ALLAH dapat menghapuskan apapun yang telah tetap bahkan yang dalam kepastian, sungai di surga memang selalu tenang tapi aku mendengar lagu buaiannya bagimu: “datanglah kepangkuanku dan menyusulah dariku karena ALLAH”

oleh: Agung Pramono