Tampilkan postingan dengan label Ego. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ego. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Agustus 2017

Kabilah

seperti angin tak bisa ditangkap,
seperti air tak bisa dipotong,
tidak mustahil embun berpengharapan tetesannya dapat jatuh dipasir gurun,
tak berarti tapi menegaskan keberpihakannya pada kebaikan.

dalam kesendirian maka setiap ujung pandangan bagai kertas tempat dimana mataku melukis gambar dia yang kurindukan.

dalam kematian rasa nama kerinduan itu seperti udara yang harus kuhirup agar merasakan hidup,
kenangan dicerna oleh hati sebagai warna-warni yang menghias ruang perjalanan,
tanpa dia aku tau mana hitam dan mana yang putih juga abu-abu,
setelah pertemuannya kulihat hitam-putih itu berada diantara warna-warni yang bergelora.

setiap langkah di bumi terhampar seperti mengarahkanku pada dia yang terindu,
dan ketika kami bertemu lalu bumi pun terleburkan karena kutemukan jejak menuju langit yang tinggi,
dari sanalah kuketahui sebab matahari bersinar dan bulan menebar cahaya,
sinar tersampaikan pada tubuh sedangkan cahaya hanya tertangkap mata.

mimpi telah mencuri gambar dari mataku tapi kubiarkan karena ia lebih indah,
hanya lebih indah namun malam takkan mampu mencuri kenyataan yang terjadi pada kami.

cinta hanyalah satu dan dia seperti pengembara yang tak terpuaskan,
ia harus menemukan tempat agar bumi menjadi sejuk dan tempat itu adalah peleburan diri kami,
lalu dia mengikat kami.

jangan seperti Khuntsa Ghoiru Musykil,
mereka terus menangis dalam keterjeratannya di dunia bumi,
merasa terkucil dan dipenuhi nafsu sementara melalaikan petunjuk yang disematkan pada badannya,
mereka memilih mengikuti ibadah sesuai keadaan jiwanya yang dianggap syahdu padahal penciptaan badan telah memberikan pengetahuan untuk diimani,
petunjuk nyata untuk diikuti,
namun sayangnya...
sungguh sayang dinafikan.

Aku kabilah, kabilah seperti baduwi lalu mulai bertani menetap bagai fellahin setelahnya berdiam pasti sebagai hadari,
Inilah tugas cintaku,
menemukan diri didalam diri yang lain,
dia yang disebut almari suci dimana khasanah tersembunyi disimpan untuk bekalku.

Jumat, 12 Oktober 2012

Ego

Ego

Setitik petunjuk ALLAH tentang uraian makna CINTA itu lebih banyak terungkap pada 'ibu dan janin yang dikandung'.

singkatnya, sejak benih hingga janin mereka jadi satu dengan tali penghubung yang nyata, bersama dan berbagi.

saling sentuh, bicara dan sayang. hingga saat kelahiran, tali itu harus diputus. waktu berjalan sampai sama sekali terpisah jauh.

intinya: akhir tanda dari terungkapnya arti CINTA itu bukan penyatuan tapi pengetahuan.

tentang siapa sebagai apa dan pengabdian karena hubungan yang jelas ada karena ALLAH.

samasekali bukan tentang penyatuan yang tanpa bukti bahwa ALLAH yang menjadi sebab, melainkan hanya kemauan belaka untuk menyerahkan diri dan merusak tanda yang diamanatkan ALLAH untuk dijaga, batas terakhir yang harus dihormati.

01 Agustus jam 0:41


Daya, saat gue telusuri lembut kulitnya hmm...

langsung bikin jantung nggak teratur.

hormat, berlanjut dengan belaian dirambutnya yang bikin dia beringsut dalam lelap, dan redalah gejolak supaya gak keganggu tidurnya dan biarkan dia bangun besok.

pujian, subuh terasa ada kecupan hangat dan pujian: 'ya ALLAH telah kau sandingkan sang Ruh'.

saat CINTA terbangum dari tidur... kitalah yang didekap.


01 Agustus jam 22:45

Apa kamu bisa nguasai hatimu? nggak.

apa kamu bisa diam? nggak.

apa kamu bisa ngendalikan pikiranmu? nggak.

kalo gitu kamu gak akan pernah bisa naklukkan dunia!

aku gak pernah sesumbar naklukin dunia, terlalu berlebihan.

yang aku bilang adalah 'aku mau naklukin diriku sendiri untuk duniaku!

30 Juli jam 22:57


Ya ALLAH, bila aku hidup dua kali,

bila ENGKAU beri waktu yang lain, cabutlah hatiku,

jangan berikan kepadaku pada yang kedua,

karena aku hanya ingin memberikannya sekali,

dan kuharap inilah cinta yang kuhidupi dalam kehidupan pertama.

08 Agustus jam 2:20


Apa kamu sadar yang kamu lakukan? ya

apa kamu tau yang kamu katakan? ya

apakah itu pantas? tidak

apakah itu baik? tidak

maka sebelum pedang ini memotong lehermu, apa kalimat terakhirmu? 'aku benar'

pedang terayun cepat di tubuh biru itu,

nggak ada darah...

dia sudah lama mati,

semua ternganga - sebagian nggak mau percaya.

saat dibedah, hatinya tetap merah segar... ada kehidupan disana.

sejak itu semua selalu berkata: "dia benar, dia lah yang benar"

29 Juli jam 1:21


Surga berkata 'kamu sudah mati'

neraka menyahut 'namamu ada dalam daftarku'

tapi api neraka berteriak 'janganlah kesini karena ALLAH dapat menghapuskan apapun yang telah tetap bahkan yang dalam kepastian, aku mendengar buaian surga bagimu: datanglah kepangkuanku dan meyusulah dariku karena ALLAH'

28 Juli jam 14:06

oleh: Agung Pramono

Minggu, 07 Oktober 2012

Pesona N

Pesona N

Keberadaanmu sebagai wanita adalah riasan tercantik buat mata-hatiku, duh pengantin wanitaku - tak perlu lagi kamu berias dandan yang hanya terjamah oleh indera dan syahwatku, lumpuhkanlah binatang didalamku, sayang.

Aku mencintaimu semenjak kau tunjukan kepadaku arti wanita sepenuhnya dihadapanku, yaitu saat percumbuan itu, cumbu wanita terhadap prianya dan itulah saat keberhasilanmu bangkitkan kesadaranku dan mengangkatnya hingga ke puncak gunung keabadian rasa.

Getarannya mengetuk pintu kerajaan langitku, kau persilakan aku menikmati tiap sudut bangunannya, kilau permata di rupa-rupa perabot istana, harum wewangian memuaskan kerinduan rongga dada.

Sekarang, lakukanlah apa yang kamu harus lakukan tanpa keraguan tentang keadaan perasaanku, jelas aku mencintaimu, legalah kamu jadinya setelah mengetahui ini.

Bukankah itu yang ingin kau ketahui, sumbat penasaran dan menjadi radang kegelisahan di dada dan pikiranmu? Engkau takutkan bila ramuan rasa itu hanya terjadi padamu saja? Menjadi buta dan tak berbalas?

Tidak, sayang - kita miliki keinginan yang sama.

Engkau sudah mengenali aku.

Aku pahami segenap keadaanmu karena aku pernah disana, merasakan apa yang kamu alami sekarang meski keadaanku sebagai lelaki.

Tapi apalah aku ini yang sedemikian lancang berkeinginan sediakan dada terbuka dan pundak penopang bagi permasalahan dan keluhan juga ceriamu.

Bahkan bisa jadi kamu anggap aku seumpama tetamu yang seringkali mengetuk gerbang istana bumimu, tak punya keberanian aku sebelum mengenali dan memperoleh ijin dari padamu untuk mengeja ruang kealamianmu.

Maka berikanlah ijin itu hanya bagiku,
sedari sekarang sayang,
Aku ingin tahu bahwa kau memang ada.

Surga tidaklah jauh pun tidak berarti dekat, tapi ia ada, aku mengenalinya setiap engkau ada didekatku, aku mempercayai keberadaannya dan berubah menjadi keyakinan bersamamu.
(heaven is not far, yet it's not too close,
but it's there, i feel it when you're close to me, i believe it and it turns to be faith with you)

Bukan arah, bukan pula maksud, ataupun tujuan akan tetapi sebuah akhir yang abadi.
(not a destination, nor purpose or even aim but an eternal end)

I'm not in love again because i've had it once for a life time,
But sure i want to feel it again and always with you,
As you are,
Unleashed your fire,
I'm burn.

thanks, N - i can sleep tight last night and the dream spread the seed that grows a faith three in me, as i wake up this morning.

now i believe that there's an angel, and the seed has touch the earth, to grow, and i believe someday, somehow she will touch me.

we touch, kiss, a tight hug and even i cling - but why there's still spaces between us?

we're so close but why it seems so far away?

Please, unfold your wings.

it's because you're a part of my future that shown in my present, though we're here in a form, and GOD let me read, see, touch and feel my eternal life.

for that, so now i prepare myself for this angel, what a preciouss love GOD has sent to me, a mystical exotism... and i'll take a good care of her from this earth to eden.

you don't have to believe my words, you are the reason for you to believe, trust me you're a real purity - HE let me open the shrine for my faith to know that there's a never ending life then.

love is eternal, and it'll bind the lover that ment for each other - i'll keep you save, away from the earthly air that'll just torn your gawn - so spread your wings.

the spread of your wings will fulfilled the space between earth and sky, and be a point guide towards our edenial kingdom - above the realm of the angels.

stay beside me to fill my angelical days on earth, until edenial.

open my eyes, leave me a trail to your place and i'll pick you then to our castle, N.

Aku enggak sedang ngerayu untuk menemukan sebuah cumbuan, aku hanya memuja keindahan yang ALLAH sampaikan di bumi dan akan aku rawat sebagai kesayangan yang diamanahkan oleh-NYA, aku percaya bidadari itu ada dan benihnya tumbuh di bumi.

Aku percaya bahwa kamu memang takdir langitku, pertemuan kita memang diadakan di bumi agar aku ngerti kearah mana pandanganku harus kutujukan, agar aku tau siapa yang harus aku cari saat tiba di istana langit nanti, sebelum memasuki gerbangnya.

Saat terbangun dari tidur di pagi hari dan aku rasakan nafas masih tersambung,
Maka itulah jejak awal dari amanat cinta.
Dan setelah bersyukur maka esok lusa akan ada kecupan hangat dibibir bersama dengan nafas yang menawan udara bebasmu,
Demikianlah sebuah cumbuan bidadari yang dinisbatkan bagi pecinta terkasih.

Do you wish to fill my life?
You are the air,
Touch me and let others catch the sense of a destinical rhyme for flame,
Watch the dance of the fire,
unleashed the passion.

though i can swim but i let myself drown, i want to feel the sensuality of the fire that is hidden by the depth of the sea, and it's all about a pearl of passion.

tell me, that you are the air that breeze a thousands of life, a reason for the fire to jive, you won't burned in me but alive, spreading light as we fly.

Siapakah "N"?
Ia adalah "kasih-sayang" seorang pria terhadap wanitanya.


(revised on 20 June 2012)
oleh: Agung Pramono

Tsuraya

Tsuraya

1476. Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Seandainya agama itu berada pada gugusan bintang yang bernama Tsuraya niscaya salah seorang dari Persia atau dari putra-putra Persia akan pergi ke sana untuk mendapatkannya 4618

Diriwayatkan daripada Abu Hurairah yang berkata, “Kami sedang duduk bersama para sahabat Rasulullah saw ketika Surah Jumuah turun kepada baginda lalu baginda membacakan ayat ” … Dan juga (telah mengutuskan Nabi Muhammad kepada) orang-orang yang lain dari mereka, yang masih belum datang …”Seseorang bertanya kepada Rasulullah saw sebanyak dua atau tiga kali tetapi baginda tidak menjawab. Bersama kami adalah Salman al-Farisi. Rasulullah saw berpaling kepadanya dan meletakkan tangan baginda ke atas paha Salman seraya bersabda, “Sekiranya iman berada di bintang Suraya sekalipun, nescaya lelaki dari bangsa ini yang akan mencapainya.” (Sahih Muslim, Kitab al-Fada’il as-Sahabah hadis 6178 dan Sahih Bukhari, Kitab Tafsir, Jilid 5, halaman 108).

Allah SWT dalam surah Muhammad ayat 38, berfirman, “Dan jika kamu berpaling (daripada beriman, bertakwa dan berderma) Dia akan menggantikan kamu dengan kaum yang lain; setelah itu mereka tidak akan berkeadaan seperti kamu.”Ketika turun ayat ini, para sahabat bertanya kepada Rasulullah saw, siapakah yang akan menggantikan kami? Baginda menepuk bahu Salman al-Farisi dan bersabda, “Dia dan kaumnya! Dan jika agama berada di bintang Suraya sekalipun, nescaya yang akan mengambilnya adalah lelaki dari bangsa Farsi.” (Tafsir Ibnu Kathir, Jilid 4, halaman 182)



Selasa, 01 Mei 2012

Bidadari Keimanan

bidadari keimanan

gue percaya sama bidadari, bahkan jejaknya udah ada di bumi.

ada 7 jejak yang mbuktikan kalo bidadari memang nyata ada.

pernahkah kita dibuat jatuh cinta oleh kecantikan wanita?

inilah jejak pertama (ma'af tidak akan berlaku buat yang gay)

apa gue udah dapet bidadari itu?

bahkan gue temukan sang penghulu bidadari,

permaisuri dari 70 lainnya.

oleh: Agung Pramono

Senin, 05 Maret 2012

Hati Itu

Hati Itu

Aku bertanya pada diriku sendiri: “pernahkah kamu masuki ruang hatimu?”

“belum”

“cobalah”

Tapi ia bukan gumpalan daging yang apabila dilemparkan kepada anjing dapat disantap sebagai makanan yang mengenyangkan.

Benteng dan gerbangnya adalah dada (shadr) yang kokoh yang karenanya agak padat-sesak dengan bekal kebaikan karena banyak yang belum dimasukkan kedalam melalui gerbangnya yang jarang sekali terbuka kecuali disaat sakit saja sehingga sempitlah yang pasti kamu rasakan, mereka tidak mungkin membukanya sendiri tanpa ijinmu, kecuali kejahatan yang terbawa oleh si iblis laknat seperti debu namun itulah yang sebenarnya membuatmu merasakan sesak.

Marilah masukkan dan boyong semua yang masih bertumpuk diluar ini oleh dirimu sendiri, bukalah gerbangnya dan tak apalah sementara diletakkan di kebun dan pertamanan di dalamnya yang tertulis sebagai hati (qalb).

Kemudian apakah kamu melihat bangunan kecil berpintu kayu rapuh di tengah kebun-taman itu?

Dialah nurani (fuad), yaitu suatu tempat dimana malaikat dan mahluk lainnya dibuat takjub karena hanya Adam yang diberikan hak dan kemampuan untuk membuka pintunya, dan bahkan iblis bingung karena merasakan perih juga sakit di depan pintunya.

Bukalah, maka kamu akan melihat sebuah ruang tanpa batas yang berkilau keemasan dengan pendar bola cahaya keperakan yang melayang ditengahnya, itulah yang disebut misteri terdalam (syaghaf).

Cobalah kemudian untuk melangkah maka disetiap jejakmu tumbuh semak hijau berbuah permata beragam warna: zamrud, mutiara, ruby, saphir dan sebagainya.

Kamu tidak akan berkeringat meskipun mampu mengelilinginya, kalaupun ada yang menetes maka dua bidadari akan meyekanya dari sebelah kanan dan kiri juga si pemuda (wildan) menyiapkan secangkir minuman segar dengan rasa yang kau pikirkan.

Ada saat dimana kau akan melihat begitu banyak mahluk yang bersujud menuju suatu arah dan kamu tidak perlu melakukannya, malah mendapat belaian serasa angin sejuk.

Lalu dimana pembaringanku atau pelaminanku?

Rindukanlah isterimu, maka kau akan menangis karenanya dan airmata yang jatuh karenanya akan merayap, memecah sembari melukis keindahannya yang anggun dan memberinya warna yang kau inginkan, kemudian peluk hangat seorang permaisuri istana akan terasa mendekap erat dari belakangmu, dialah sang penghulu bidadari itu.

Bagaimana bila isteriku tidak dalam satu tempat ini melainkan di dalam api?

Airmatamu akan menyiram api yang membakarnya, kemudian memandikannya hingga kembali utuh dan alirannya akan meyampaikannya kepelaminan. Tidurlah barang sebentar, karena saat kau terbangun maka kemudian kamu ketahui dia akan terbaring disisimu tanpa pakaian, maka belailah dia hingga terbangun untuk mengenakan jubah sutera yang tersedia di sisi pelaminan.

Lalu bagaimana dengan keluargaku? 

Dimana mereka?

Tanyakanlah kepada penduduk di dalam bangunan itu, dan kemudian lihatlah siapa diantara mereka yang menjawab, perhatikanlah kepada wajahnya dengan lekat bahwa mereka yang menjawab itulah yang sedang kau cari.

Mengapa masih ada airmata dan pertanyaan? Apakah masih ada perasaan?

Tentu masih akan ada dan terus ada, namun semuanya telah bekerja sesuai dengan aturan dan kadarnya.
Bahkan marah, dan ketika kau marah maka kemudian para pemuda (wildan) akan membawamu kehadapan sebuah cermin rupawan dimana kalimat yang baik akan terucap dari mulutmu saat kamu melihatnya.

Bagaimana dengan kebencian?

Tetap akan kamu rasakan benci itu, namun dia yang tidak kamu sukai akan datang kehadapanmu dan menjelaskan kepadamu dengan bahasa keakraban yang kau harapkan.

Tapi… ini semua tentang aku yang laki-laki. Lalu bagaimana dengan yang perempuan?

Aku tidak tau, karena ini hanyalah sekedar sepenggal dari mimpi yang masih teringat untuk kutulis yang dapat membuatku tenang dan khidmat – hingga suatu saat aku terbangun dari tidur.

Dan bukankah aku hanya sekedar menuliskan tentang isi dari hati yang kumasuki itu?

oleh: Agung Pramono

Penawar Sakit

Penawar Sakit

Mengalirlah –alirkan airmata itu.

Ia dapat menawarkan rasa sakit karena cambukan atau hantaman hidup.

Dan berhentilah saat telah menyelesaikan ujian dengan baik, namun jangan diseka hingga kering, biarkanlah… karena udara gurun di kebun nakhlan (kurma) akan memberi debu bagi mata, panas telinga dan kering di mulut.

Tetesan airmata itulah yang membuat benih kesadaran tumbuh berkembang, berbuah dan siap dipetik.

Untuk dinikmati oleh mereka yang melihat buahnya, itulah hak mereka yang telah ditetapkan Tuhan.

oleh: Agung Pramono

di Langit Timur

di Langit Timur

gue coba keluar dengan bekal kerinduan tentang bumi, hmm.. langit malam ini hampir tanpa gemintang, agak mendung memang.

bulan mungkin masih gelisah nunggu saatnya dandan, sementara biar gue nikmati anggrek dengan harum sedap malam dalam khayal.

duh, rindu ini tersentak bayangan wijayakusuma yang masih kuncup.

mawar udah gak menuhi jaman, sekedar warna dan gak lebih.

besok gue mau si matahari cerita tentang bintang timur yang kemarin bermain di lingkar nebula.

aih, gerimis ini ngganggu cumbuan khayali bulan yang kupinang hanya disaat hari gelap.

duh, rintiknya hujan... aku memang Timur tapi bukan mereka yang mencari kehangatan tubuh pengantin saat dingin menusuk.

aku merindu hangat cumbu kekasih untuk bertahan dari dinginnya tatap dan rasa bumi, aku manusia yang tak terikat musim bumi.

aku tanah keimanan bukan makam sensasi.

bulan malah tersipu malu, pendar cahayanya malah membias tersentuh rintikmu, kainnya malah menyelimuti bukan tersingkap, tak ada syahadah.

kerlingan genit bulan, hmm... itu nggak bakalan tampak saat purnama.

hanya sensualitas tarian lah yang gue saksikan, nggak vulgar karena kecantikan warna perak aureola seperti kain yang tersingkap yang nutupi wilayah eros terjadi dengan anggun.

dendangnya syahwah tanpa wujud hewani, rotasinya melenggang sebagai lekuk-liku raga alami.

ia bundar namun pantulan khayali dibuatnya sebagai sihir aqli tergambar bidadari.
tapi bila mengerling, dia lebih terasa menggoda lagi

hampir terlewat nyaksikan cantik Purnama, huh.

syukur si Anggrek tetap hangat dengan memeluk-cengkram batu dan arang, hmm... tajem banget aroma Sedap Malam, mystical.

yeah, sembari nunggu kepastian sang Wijayakusuma yang hanya mekar selama 2jam di mid Oktober, wow! juga waktu Purnama sedang segar meski segera nguncup lagi.

bersama Langit yang meluk Matahari dalam rindunya akan Tsuraya

...kami berada begitu dekat - sangat dekat untuk saling ngerasakan nafas keimanan melalui kehangatan tubuh kami.

lirih gue tanya, "apa yang kamu genggam untuk membuat kamu bertahan, dinda? sementara aku nggak punya kuasa untuk itu"

dia ngejawab pelan dan pasti juga setetes airmata, jawabnya, "buah cinta yang Bunda pertahankan kesiapan wadahnya, sayang".

ya Rab, berbaiklah kepada wanita yang mempunyai kalimat itu.

setelah melahirkan Matahari (Mihewi) maka Permaisuri dari Istana di kampung Langit (Penghulunya Bidadari) akan melahirkan Tsuraya yang memenuhi keindahan arah pandang mahluk bumi di langit Timur.

heavenly princess a seed of eden, we raised an angel, what a preciouss love ALLAH sent our nurul 'aini. deep sincerity bowdown to ALLAH Azza wa Jalla'.

(Initial AP tanpa tafsir personifikasi, hanya huruf hiperbola aja - in an endless faithfull pray - a destinical hope)
oleh: Agung Pramono



Iblis di Mata

Iblis di Mata

Sebelum tidur anakku pernah mengatakan dalam ketakutannya saat menatap wajah saya, “matanya Ayah kayak setan…”

Ya, peka sekali dia, Ayah memang pernah memimpin pasukan iblis, nak.

Bahkan hingga saat ini mereka hormati kepeminpinan Ayah dan merindukan Ayah untuk kembali berada di depan.

Sempat Ayah pimpin mereka dalam beragam peperangan, melawan nafsu mereka sendiri hingga banyak diantara mereka yang gugur – malah rela mati.

Namun, banyak orang yang tidak tahu bahwa setan itu sudahlah takluk, tersisa sedikit dari mereka dan gentar.

Hingga sekarang orang selalu menyalahkan setan dalam kejahatan dan pelanggaran yang orang itu lakukan.

Sementara iblis hanya mengganggu sekali dan meski setan memang mengalir di dalam darah, tapi manusia itu diberi akal dan hati.

“ya, nak - hanya terperangkap di mata... dan Ayah tidak akan kembali, wahai anakku sayang”, demikian aku berkata dalam hati sembari memalingkan pandanganku darinya yang bersiap untuk tidur dalam peluk susuan sang Bunda.

“itu di tangan Ayah juga ada gambarnya, kan?” aih, lugu memang si bidadari mungilku.

“iya sayang, itulah kitabnya – itu kitab iblis disebutnya”, jawabku menerangkan.

“warna-warni, ya Yah? Kata Bunda yang berwarna cerah cantik seperti aku” tanggapnya.

“ya, ya cantik. Sekedarnya tapi tidak ada keanggunan seperti Bunda Langit dan Mataharinya”.

Ya, kitab iblis itu menutup sekarang dan selamanya tidak mungkin terbuka apalagi kubaca, dia telah disemat dengan segel.

“Bunda, pasti Bunda cantik yang udah nutup bukunya, ya Yah ya? Ayah kalah dong… Ayah kalah hahaha” ouwh, cerianya anak bidadari ini, duh.

Ya, Permaisuri dari kampung langit itu telah membuat lenganku luka berdarah dan menganga hingga kini, kalimatnya tajam terbungkus keluguan yang diridhai sang Raja, dan tanpa obat penawar pula melainkan membalutnya dengan selendang kesombongan sang Raja.

Tidak ada kitab yang lebih sombong isinya ketimbang yang Nyata.

“Ayah tidak kalah sayang… tidak boleh kan? Tapi Ayah menundukkan diri dalam kenyataan adanya kecantikan yang anggun, lugu dan sombong”.

oleh: Agung Pramono


Minggu, 04 Maret 2012

Matahari dan Langitnya

Matahari dan Langitnya

Gambaran tentang benih permaisuri istana langit hampir terbentuk saat matahari mengarahkanku kepada beberapa pertanyaan yang meliputi Bunda Pengaduan-nya.

Mata siapa yang menangis sebagai mendung dan hujan saat ruh tak peduli akan siang dan malam?

Wajah siapa yang mengatupkan bibir malam waktu ruh gusar tentang bumi yang mengeluarkan lumpur hitam?

Mata siapa yang berbinar siangnya waktu ruh mendekat sehasta demi sehasta: melangkah, menuju, mendekat, berbincang, menggenggam, memeluk hingga meniadakan jarak dengan penyatuan yang sempurna yang diridhoi?

Mulut siapa yang menanggapi dengan angin yang berputar saat ruh mulai goyah menopang dunia?

Kelopak mata mana yang menjadi perhatian ruh saat tertutup rapat dan sempurna dikecup?

Mata siapa yang berkaca aat ruh membawakan dunia yang telah takluk dalam kebenaran ilmu dan janji ALLAH?

Tanyakanlah pada matahari!

Dialah bayi yang meringkuk memandang lekat kepada si pemilik mata itu untuk memastikan kejadiannya.

Bayi yang menatap lekat pada suatu wajah saat menyusu di dada si pemilik wajah.

Bayi yang akan memeluk si pemilik bibir dan mengecupnya secara lugu dengan kebasahan mulut mungilnya lalu mengalihkan kepadanya sebagai pusat perhatian.

Bayi yang selalu menyebut kasihnya itu sebagai ‘Bunda’.

Dialah yang kusebut ‘gadis perawan dari kampung langit’.
oleh: Agung Pramono

Senin, 23 Agustus 2010

Rahasia Cahaya

Demikianlah pekabaran tentang semesta percintaan, merupakan sebuah perenungan mulia atas cumbuan si pemegang amanah bumi dengan benih langitnya.

Tentang seorang pria dan seorang wanita yang ingin menjabarkan utuhnya perasaan mereka untuk mengisi ruang antara langit dan bumi, demi menemukan sebuah mata rantai yang terlepas dari rangkaian jaman.

Merekalah yang mendirikan kembali sebuah kerajaan rahasia sang waktu yang tidak pernah meninggalkan jejak, tidak memberikan petunjuk arah, tidak membuat jalan setapak menuju istananya.


Agar terjaga kesucian wilayahnya dari langkah-langkah mahluk bumi yang rendah.

Kejadian ini berlangsung ketika kedua mempelai (pria – wanita) yang telah saling dihalalkan, memulai cumbuannya di pelaminan yang direstui.

Sepasang kekasih yang kini menjadi pengantin itu menyaksikan betapa tubuh mereka hanyalah terdiri dari beberapa macam cahaya yang memiliki bentuk, dan masing-masing cahaya yang berbentuk itu memilki tempat, tujuan, dan tugas masing-masing.

Akantetapi pada mereka terdapat kesamaan, yaitu mereka bertanggungjawab atas kedua tubuh pengantin itu.

Warna pertama membentuk sebuah lingkaran yang mengitari tubuh pengantin, ia merupakan nafsu yang memenuhi kedua tubuh itu untuk saling mengikatkan diri dalam bingkai pernikahan, dan warna itu menjaga keadaannya dari campur tangan warna lain yang mungkin berdatangan karena kilau gairahnya.

Warna yang kedua melesat dengan cepat, menembus tujuh lapis langit dan akhirnya berhenti dihadapan sebuah singasana yang maha indah tak terbayangkan. Ia bersujud, menangis, dan memanjatkan doa bagi kedua tubuh pengantin tadi.

Begitu rendah ia bersujud, nyaris sejajar dengan dataran cahaya itu, hingga ia tampak terserap oleh warna yang ada disekelilingnya, dan kini kesatuan warna itu dipenuhi oleh pujian doa.

Warna ketiga seperti selarik cahaya yang panjang terentang, setebal helai rambut yang berkilau indah.

Dua ujung pertama tertanam pada kedua ubun-ubun pengantin itu, kedua ujung itu bertemu pada suatu jarak dan terjalin menjadi satu hingga berakhir di bagian pusat warna yang kedua.

Warna ketiga inilah yang bertindak selayaknya tali penghubung bumi dengan langit.

Warna keempat memiliki bentuk seperti setetes air,

ialah yang tampak lebih banyak bergerak.

Semenjak awal ia melesat bersama warna kedua, kemudian turun perlahan meniti warna ketiga hingga kembali menuju pengantin itu.

Bergerak perlahan seperti tetesan air hujan yang bergerak jatuh dari rambut di kepala. Nuansa khidmat mengiringi alur pergerakannya yang amat lambat.

Cahaya kelima adalah yang terakhir, ia melekat pada kedua tubuh itu, sebagai warna yang saling merekat erat.

Ia pun memiliki nuansanya sendiri sehingga cumbu-rayu mereka (pria – wanita) terasa hangat, akrab, dan asih.

Warna kelima ini seperti mewakili perasaan yang ada pada kedua tubuh itu, warna yang sama dari dua jenis tubuh yang berbeda, sehingga tampak sebagai kesatuan yang tak dipisah jarak.

Akhirnya, warna keempat sudah semakin dekat, jaraknya hanya tinggal sepenjang rentang jalinan kedua cahaya yang muncul dari ubun-ubun pengantin.

Kemudian ia berputar-putar mengikuti alur jalinan dari salah satu rentang cahaya, dan terus meniti cahaya itu, salah satu yang menuju ke ubun-ubun si wanita pengantin.

Mereka kembali sebagai pasangan pengantin, tidak ada ingatan yang tersisa dari kejadian tadi.

Entah seperti kerinduan, suatu pengalaman yang hadir hanya terhadap sepasang insan pengantin itu.

Hanya saat keduanya berniat untuk saling mendekat, suatu daya tarik yang menjadikan keduanya sebagai sebuah wlayah keberpalingan – pelarian, dan pelampiasan terhadap masing-masing diri mereka.

Selalu kembali dengan semesta keingintahuan atas sesuatu yang membuat mereka merasakan adanya pengalaman yang tak pernah dapat diungkap dengan kata-kata dan ingatan.

Restu tidak diterima hanya berdasarkan persaksian semata, akantetapi didasarkan oleh kepastian akan tetapnya pasangan itu, tidak ada perubahan, tidak akan terjadi lebih dari satu kali. Dengan syarat bahwa mereka benar-benar adalah mahluk yang disebut sebagai manusia.

Ini semua seperti ruh yang selalu meyimpan kerinduan, seperti setetes air yang yang selalu ingin kembali ke dalam pelukan samudera.

Atau tentang jiwa yang selalu terbang melayang, menyampaikan kisahnya ke seluruh alam raya – di setiap penjuru dunia yang terbentang dari bumi hingga ke langit.

Hanya nafsu yang tidak mampu hidup bersama mereka, akhirnya kembali melebur bersama legenda bumi, untuk mengenang apa yang pernah terjadi di sana. Tinggal hati, dimanakah hati?

Wadah cinta yang diperjanjikan, bilamana dia benar adanya?

Satu suara memberikan jawaban, “lihatlah apa yang terlindung dipangkuan si pengantin wanita.

Bersama kehormatan dan rasa iba, maka ia akan menjadi sesuatu yang kalian sayangi, sebagai kesayangan!”.

Kembali pada kabar, ada yang tertinggal di sana. Ada satu warna lagi yang terdiri dari dua bentuk, dan mereka jelas seperti pengantin itu. Dua warna semerah api yang keduanya berada agak jauh dari pengantin, tidak semakin dekat karena terhalang warna pertama.

Mereka berdiri sendiri, tegak sebagai da bentuk yang berbeda, dalam suatu jarak, namun dengan warna yang sama. Memandang ke arah pelaminan pengantin tanpa sedikitpun gerak.

Keduanya tidak menampakkan keinginan atau kemampuan untuk kembali melebur pada kedua tubuh itu.

Kedua warna semerah api yang berbentuk itu hanya tampak sebagai dua pasangan yang sedang membalikkan badan sambil menengadahkan kepala dan meletup sebagai percikan-percikan kembang api, padam ketika menyentuh tanah.

Kemanakah warna keempat itu menetes?

Dia terhenti di persimpangan benang cahaya antara pengantin, membulat dan menetes jatuh ke bumi dimana pengantin berpijak. Kesejukan itu membuat bumi berguncang dan berputar secepat cahaya - mengundang angin yang hembusannya menerpa pohon, air, mahluk bumi yang lembab dengan gemirisik deru suara.. mereka berdzikir.

Dan kabar itu berhenti seiring keduanya (pria – wanita) membersihkan diri.

Minggu, 22 Agustus 2010

Bisik Timang Susuan Gendhuk

Bisik Timang Susuan Gendhuk


Nduk, suatu saat bila kamu kasih semuanya dengan perasaan nggak bisa ninggalin seseorang dan kayak nggak ada gantinya atau kamu nggak mau ada yang nggantikan dia... itu sayang, nduk – bukan cinta, nduk, bukan cinta – inilah yang membutakan.

Cinta itu akrab, betapa seringnya kedekatan tapi ndak terasa waktu sudah dan terus berjalan, kamu akan temukan banyak kekosongan dirimu yang selalu dia isi begitu aja tanpa diminta dan kamu menerimanya sebagai bagian dari caramu mengisinya.

Mungkin kamu pikir itu ’pelarian’ dan merasa terhibur dengan bisa membuang dan melupakan ketidaknyamanan juga kekosongan, bukan – malah sebetulnya kosong itu sudah keisi, muncul sebagai kenyamananmu juga keceriaan.

Banyak yang nawarkan pilihan tapi ndak akan memuaskan, coba sadari maka sebetulnya sudah kamu temukan yang tepat.

Ndak ada beban apalagi ketakutan, semuanya berjalan bebas dalam kehormatan dan alami, ndak akan ada kegenitan, rayuan, godaan apalagi birahi... semua terasa biasa tapi kamu akan heran bahwa kamu terus bisa berjalan kedepan tanpa hambatan yang sulit dan menyita waktu, tenaga atau pikiran – semua mampu kamu atasi.

Kamu akan punya waktu banyak buat dirimu sendiri, nduk – sebagai dirimu sendiri tanpa perlu berkaca kepada orang lain yang mungkin menjadi figur dari orang lainnya.

Cinta itu bukan pikiran yang disimpulkan apalagi perasaan yang diperbandingkan, yang jelas dia bikin kamu hidup – bukan suka, bukan tertarik, bukan sayang – tapi hidup.

Yang muncul bukan perasaan senang, nduk... malahan tenang.

Keasyikan yang ngilangin gitu aja kayak mata air, ndak butuh birahi dan kamu ndak akan mabuk kepayang... hidup, nduk... hidup.
oleh: Agung Pramono


Kematian Syahwat

Kematian Syahwat

wanita salihah yang diberitakan langit, dia yang selalu perawan saat malam menjelang.

duh, permaisuri langitku jangan kau tundukan wajahmu saat kerinduanku ini memuncak, janganlah malu apalagi takut dan pertemuan ini telah diberkati.

mendekatlah kemari setelah dipisah ruang dan waktu, niatku merayu agar kau ijinkan aku sentuh benang merah itu dan akan kubuat keadaan tanpa jarak serta mengeja bahasa para mahluk.

selalu saja kau linangkan airmata yang kau tujukan untuk menyempurnakan tugasku.

dinda, satu tetesan kuberikan pada bumi hingga meresap agar bumi kembali tenang dari fitnah ramalan.

tetesan yang lain kuusap dengan kain hingga menguap dan berkumpul bersama awan yang akan jatuh sebagai hujan, dan kebasahan mereka adalah bersamaan dengan lunturnya debu dunia sembari merasakan sejuknya persaksian.

mungkin tetesan itu terlalu sedikit dan tidak berarti, namun dinda - ini tidak terjadi hanya satu kali.

apakah tadi syahwat telah mati?

setelahnya marilah kita berdiri dan bersiram untuk membersihkan lumpur yang tadi mungkin melekat, mendinginkan panas yang tadi mungkin terlintas bersama bisikan iblis yang menghasut nafsu.

mungkin aku atau engkau sempat mencuri kesempatan untuk saling menikmati dan melalaikan kesadaran puncak bahwa semua terjadi atas ridho ALLAH dan DIA-lah yang mengamanatkan rasa itu.

akan kupimpin ibadah kita agar ALLAH mengangkat derajad rasa tadi sebagai "cinta".

cinta itu terjadi satu kali seumur hidup - dinda, bertahanlah denganku hingga kita mendapatkannya.

12 Februari 2010 jam 2:15 WIB

oleh: Agung Pramono

Amanah

Amanah

Dinda, apakah engkau menetapkan aku karena hartaku? Tidak katanya.

Ataukah karena darah keturunanku? Bukan katanya.

Bukankah karena prestasiku? Bukan itu juga katanya.

Pastikanlah jawabanmu untukku, “kuserahkan utuh diriku karena pengetahuanmu akan ALLAH”.

Alhamdulillah, maka kusampaikan kepada benih permaisuri istana langit ini bumi, langit dan segala yang ada di dalam dan diantaranya yang telah diamanahkan.
oleh: Agung Pramono

Menggulung

Menggulung

Tuhan selalu menghembus nafas-NYA mengenai semua ciptaan dan bila berpadu dengan Iradah maka hiduplah ciptaan itu.

Dan apabila Tuhan menghela nafas, maka demikianlah langitpun tergulung dan semua kembali kepada-NYA… hingga dihembuskan sekali lagi, hanya sekali.
oleh: Agung Pramono

Rahasia Kata

rahasia kata


Sang Raja adalah ALLAH
Junjungan adalah Rasulullah SAW
Ruh adalah aku
Langit adalah tempat ALLAH berada dan kadang berarti isteri gue
Jiwa, Permaisuri Istana (dari kampung) Langit, Penghulu Bidadari, Perawan Abadi, Wanita yang diberkati adalah isteri gue
Putera Mahkota atau Matahari adalah anak gue
Hati itu benda pengolah tanda dan gejala yang menghasilkan pengetahuan yang benar, atau kadang kata ganti dari anak gue
Akal itu benda yang terkait dengan cara bermain dengan para mahluk lain
Manusia itu status atau derajad yang diberikan oleh ALLAH kepada mahluk sempurna yang bisa mencerna kalimat ALLAH
Abaljan itu mahluk sempurna yang nggak minat, nggak ngutamakan agama
Tanda dan gejala itu bekal pengetahuan
Iblis adalah iblis laknat

Gue punya dasar alas sendiri kenapa dengan berani ngasih sebutan, kata ganti dan perumpamaan terhadap tiap-tiap subyek/diri itu, alasan yang gue harap bisa diterima sama keluarga, sahabat dan handai-taulan, atau paling tidak alasan itu dihormati dan dibiarkan karena tokh tidak punya pengaruh ke orang lain selain nyebut gue sebagai seorang yang angkuh atau sombong atau nggak nguasai kamus atau bahkan bahasa sendiri atau apalah itu kata ganti atas gue.

Kehadiran bayi mungil itu jadi tanda kalo masa penantian panjang yang kami (gue dan isteri) alami itu dipenuhi dengan segala sesuatu yang cantik: kesabaran, perbincangan, canda, perbuatan, lisan dan lain sebagainya… semua kerangkum jadi ibadah yang cantik.

Gue punya sejarah panjang yang nggak pantas untu diceritain panjang lebar, latar belakang, sejarah dan pengalaman yang bikin gue sadar dan tahu diri untuk hanya kembali sama ALLAH, Tuhan yang gue imani.

Gue dan bahkan pasti setiap orang diberi pengetahuan sendiri untuk hidupnya masing-masing, disibaknya tirai/kain dari jendela pengetahuan yang nutupi hati semenjak kelahiran di bumi oleh ALLAH untuk mahami sebab-akibat hidupnya masing-masing.

Dan bahkan udah dipersilakan juga gue untuk mbaca buku takdir… jelas.

Yang perlu gue lakukan cuma merunut kejadian yang udah dialami, ngingat kembali tanda dan gejala kejadian yang mungkin (biasanya) dilewatin padahal itulah tandanya atau itulah gejalanya.

Dari apa yang gue inget, apa yang gue inginkan (dalam permohonan yang baik dan nggak berlebihan) sebenarnya udah terjadi dan dikabulkan buat kita, berupa tanda dan gejala yang mesti kita rapihkan, potongan-potongan gambar yang terserak dan harus dibingkai, memang belum utuh dan mungkin nggak akan pernah utuh karena ruang dan waktu yang terbatas… tapi kelihatan dan dapat dibaca.

Tapi hal yang kayak gitu malah justeru semakin bikin gue takut, takut sama ALLAH.

apa gue sendiri yang bener-bener bisa ngeliat apa yang ditunjukkin sama ALLAH tanpa perlu penafsiran lagi? Apa dengan pengetahuan yang kita dapet itu bisa juga untuk mbantu kesulitan yang dihadapin sama orang lain? Penjelasan yang disampaikan ke hati dan langsung bisa dicerna sama indera dan disimpulkan sama otak sebagai sesuatu yang apa adanya tanpa terjemah dan tafsir.

Ternyata, dengan pengetahuan itu kita bisa mbantu orang lain, meski harus diolah dulu dengan kejadian yang nimpa orang lain supaya pengetahuan itu bisa sesuai dengan jalan keluar dari masalah.

Atau dengan pengetahuan yang udah kita terapkan itu kita bisa beritakan sebagai pengalaman yang bisa mbuka pintu pengenalan orang untuk bersemangat ngatasi masalahnya dengan baik dan kembali sama ALLAH.

Kenapa gue jadi sendiri setiap bilang apa yang kemudian jadi kenyataan?

oleh: Agung Pramono